Lombok Timur –
Supriadi, orang tua (ortu) siswa yang anaknya diduga menjadi korban perundungan di sebuah sekolah dasar di Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), merasa terintimidasi. Hal itu dirasakan Supriadi setelah mengunggah perundungan yang menimpa anaknya melalui Facebook.
“Setelah saya posting di akun Facebook milik saya. Istri saya malah dikeluarkan dari grup WhatsApp wali murid. Dari situ kami merasa seperti diintimidasi,” ujar Supriadi, Kamis (5/2/2026).
Tak hanya itu, Supriadi juga mengaku sempat ditegur dan didatangi oleh pihak sekolah. Padahal, dia berujar, unggahan tersebut tidak pernah menyebutkan nama sekolah maupun individu tertentu.
“Pihak sekolah datang dan menyampaikan kekecewaan ke saya. Padahal awalnya saya yang kecewa karena tidak ada tanggapan dari pihak sekolah,” tuturnya.
Supriadi mengaku telah menunggu sekitar dua hari pascakejadian sembari berharap ada tindak lanjut dari pihak sekolah. Namun, dia melanjutkan, pihak sekolah tak kunjung memberi klarifikasi terkait dugaan perundungan itu.
“Saya tunggu dua hari, tapi tidak ada yang menghubungi atau memberi penjelasan. Karena itu saya posting. Ini murni luapan perasaan seorang ayah yang melihat anaknya jadi korban bullying,” jelas Supriadi.
Pihak sekolah membantah adanya kasus perundungan di sekolah.
Kepala Sekolah, Zaenul, membantah adanya kasus perundungan di lingkungan sekolah. Zaenul menyebutkan korban jatuh dari bangku. Kendati demikian, pihaknya tetap menunggu hasil pemeriksaan dari dinas terkait.
“Kami dari sekolah masih menunggu hasil skrining dari psikolog maupun dinas terkait, hal ini guna memastikan penyebab pasti kondisi siswa kami. Dari keterangan yang kami dapatkan, bahwa siswa kami jatuh dari kursi. Karena itu kami minta semua pihak menunggu hasil pemeriksaan,” ujar Zaenul.
Zaenul juga membantah tuduhan intimidasi terhadap ortu murid. Menurutnya, sekolah hanya berupaya membangun komunikasi dengan wali murid dan menjenguk siswanya.
“Kami datang untuk memastikan kondisi anak sekaligus berkomunikasi dengan orang tuanya, tidak ada intimidasi dari kami. Saya sampaikan bahwa yang terpenting saat ini siswa tersebut sehat dulu, soal biaya nanti bisa kita komunikasikan dengan dinas,” ucapnya.
Terkait dikeluarkannya wali murid dari grup WhatsApp kelas, Zaenul mengaku baru mengetahuinya. Ia menyebut, hal tersebut kemungkinan karena emosi sesaat dan telah meminta wali kelas untuk memasukkan kembali di grup WA.
“Saya sendiri baru tahu. Kemungkinan itu terjadi karena emosi sesaat. Tidak ada maksud apa pun. Saya sudah minta agar wali murid yang bersangkutan dimasukkan kembali ke grup WA kelas,” kata Zaenul.






