Napi Rutan Negara Sulap Koran Bekas Jadi Miniatur Kapal Pinisi

Posted on

Jembrana

Ada pemandangan menarik di balik jeruji besi Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Negara, Kabupaten Jembrana. Sejumlah warga binaan pemasyarakatan (WBP) tampak sibuk berkutat dengan tumpukan koran bekas. Di tangan mereka, limbah kertas tersebut disulap menjadi produk bernilai seni dan ekonomi tinggi.

Pantauan di lokasi, para narapidana ini memiliki peran masing-masing. Ada yang bertugas melinting lembaran koran dengan telaten, ada yang memotong kertas sesuai ukuran, hingga bagian pembuatan dan melakukan finishing yang memberikan sentuhan akhir pada produk.

Kepala Subsi Pelayanan Tahanan Rutan Negara, I Nyoman Tulus Sedeng, mengungkapkan kegiatan ini merupakan bagian dari program kemandirian di bidang kerajinan. Salah satu produk unggulan yang dihasilkan adalah alat persembahyangan seperti keben atau bokor (wadah sarana persembahyangan).

“Terutama dari pokja (kelompok kerja) ini yaitu membuat kerajinan untuk kegiatan persembahyangan seperti keben atau bokor. Pengerjaan untuk membuat keben ini paling cepat membutuhkan waktu tiga hari,” ungkap Tulus saat ditemui, Jumat (20/2/2026).

Selain alat upacara, para napi juga piawai membuat miniatur, seperti miniatur alat transportasi yaitu sepeda motor, mobil, hingga kapal Pinisi. Selain itu juga mereka juga membuat miniatur Makepung serta miniatur lain sesuai pesanan.

Tulus menambahkan, pengerjaan miniatur tersebut membutuhkan waktu yang lebih lama dan tingkat ketelitian yang lebih tinggi dibandingkan alat persembahyangan. Menariknya, pembeli juga bisa melakukan pemesanan khusus (custom).

“Pembeli juga bisa request mau dibuatkan apa. Selama ada foto referensinya, masih bisa direalisasikan menjadi miniatur,” imbuh Tulus.

Saat ini, terdapat tujuh orang narapidana yang telah melalui proses seleksi untuk bertugas di pokja kerajinan ini. Dalam kondisi normal, mereka mampu menghabiskan sekitar 5 kilogram koran bekas setiap minggunya.

“Biasanya menghabiskan koran sebanyak 5 kilogram setiap minggu, namun jika ada pesanan yang cukup rumit bisa lebih dari itu,” jelas Tulus.

Untuk harga, produk hasil karya warga binaan ini dibanderol bervariasi tergantung ukuran, Keben Besar Rp 300 ribu, Keben Kecil Rp 200 ribu. Kemudian untuk Bokoran Gede Rp 130 ribu, Bokoran Tanggung Rp 55 ribu dan Bokoran Kecil Rp 30.000. “Untuk miniatur itu biasanya harga menyesuaikan dengan pesanan,” ujar Tulus.

Melalui bekal keterampilan ini, pihak Rutan berharap para warga binaan memiliki modal keahlian saat menghirup udara bebas nantinya.

“Harapannya nanti jika teman-teman WBP sudah selesai menjalani masa tahanan dan kembali ke masyarakat, mereka bisa meneruskan keahlian ini dan menjadikannya awal untuk membuka usaha serupa. Sehingga tetap ada pemasukan,” pungkasnya.