Jembrana –
Arus mudik Lebaran 2026 di Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali, mencapai titik puncaknya pada Minggu (15/3/2026). Para pemudik yang hendak menyeberang ke Pulau Jawa harus ekstra sabar lantaran terjebak antrean hingga 14 jam. Kondisi ini disebut-sebut sebagai yang terparah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Pantauan di lokasi, area parkir kargo yang difungsikan sebagai buffer zone tampak penuh sesak oleh kendaraan. Tak hanya itu, kendaraan juga mengular di jalur utama Denpasar-Gilimanuk. Mirisnya, ekor antrean dilaporkan telah mencapai Kota Negara, atau berjarak sekitar 32 kilometer (km) dari pelabuhan.
Untuk mengurai kepadatan di jalan utama, petugas mengarahkan ribuan kendaraan masuk ke gang-gang pemukiman warga. Selain itu, mayoritas pemudik yang terjebak merupakan pengendara yang sudah mengantre sejak dini hari.
Salah satu pemudik asal Banyuwangi, Siti (46), mengaku kelelahan menghadapi kemacetan tahun ini. Wanita yang akrab disapa Iis ini berangkat dari Denpasar menggunakan mobil pribadi bersama suaminya pada Sabtu (14/3/2026) sore setelah berbuka puasa.
“Saya berangkat dari Denpasar setelah buka puasa kemarin. Dan terjebak macet di sejumlah lokasi sepanjang jalur Denpasar-Gilimanuk. Dari Badung hingga Tabanan itu sudah macet,” kata Iis saat ditemui di area pelabuhan, Minggu sore.
Iis menceritakan, ia baru memasuki wilayah Hutan Cekik sekitar pukul 02.00 Wita dini hari tadi. Namun, pergerakan kendaraan sangat lambat hingga Iis baru bisa masuk ke wilayah perkampungan sekitar pukul 12.00 Wita.
“Baru tadi pukul 17.30 Wita masuk wilayah Pelabuhan Gilimanuk, di sini antre lagi mau masuk kapal. Saya sampai sahur dan buka puasa di dalam mobil. Suami karena kelelahan jadi tidak puasa. Kesulitan sekali hanya untuk cari toilet di jalur macet,” keluhnya.
Menurutnya, ini adalah pengalaman mudik terparah yang pernah Iis alami. “Biasanya tahun-tahun sebelumnya berangkat buka puasa, jam 2 dini hari besoknya sudah sampai rumah di Banyuwangi,” imbuhnya.
Nasib serupa dialami Bogie (27), seorang driver freelance di Kuta yang hendak mudik ke Jember. Ia bahkan sempat mencoba jalur alternatif via Pupuan, Buleleng, untuk menghindari macet, tapi tetap saja terjebak di titik pertemuan arus.
“Berangkat kemarin jam 7 malam, mutar lewat Pupuan Buleleng dan kena macet di pertigaan Cekik Gilimanuk sekitar jam 10 pagi tadi,” ujar Bogie.
Bogie yang kali ini mudik menggunakan jasa travel mengaku rugi waktu dan materi. Uang saku yang disiapkan habis hanya untuk membeli konsumsi selama menunggu antrean yang tak kunjung bergerak.
“Uang habis hanya untuk beli makan minum selama macet saja ini. Ini saja (pukul 18.00 Wita) belum juga masuk kapal,” pungkasnya.
Hingga berita ini ditulis pada Minggu malam, volume kendaraan di Pelabuhan Gilimanuk terpantau masih padat merayap. Petugas kepolisian dan ASDP terus berupaya melakukan skema percepatan pemuatan kendaraan ke dalam kapal untuk mengurai antrean yang mengular hingga puluhan kilometer tersebut.
