Perayaan Natal umat Kristen Ortodoks Koptik memiliki tradisi yang berbeda dengan denominasi kekristenan lainnya, seperti Protestan, Katolik, maupun Mormon. Jika umat Kristen pada umumnya merayakan Natal setiap 25 Desember, maka umat Kristen Ortodoks Koptik Mesir di seluruh dunia, termasuk di Bali, memperingati Natal pada 7 Januari 2026.
“Kami Ortodoks Koptik merayakan Natal pada 7 Januari. Tapi karena saya juga melayani jemaat di Yogyakarta dahulu, lalu melayani di Bali. Seminggu di Yogyakarta, seminggu kemudian di Bali,” kata Abouna Nofir kepada infoBali di Rumah Doa Ortodoks Koptik Indonesia Perawan Santa Maria dan Malaikat Agung Rafael, Denpasar, Minggu (11/1/2025). Abouna adalah sebutan bagi pemimpin agama Kristen Ortodoks, seperti pastor untuk Katolik atau pendeta untuk Kristen Protestan.
Nofir mengatakan tema Natal tahun ini adalah memaknai arti turunnya Tuhan ke dunia dalam bentuk manusia yang bernama Yesus. Dalam memaknai itu, Nofir mengatakan Tuhan memberikan berkah dan cinta kasih ke seluruh manusia sebagai ciptaan-Nya sejak Adam dan Hawa hingga saat ini.
“Tuhan mengasihi manusia sejak awalnya (penciptaan alam semesta). Tuhan menginginkan manusia mewarisi hidup kekal di dalam kerajaan-Nya. Karena itu Tuhan datang reinkarnasi sebagai manusia untuk menebus manusia kembali seperti yang dikasihi Tuhan sejak awal,” kata Nofir.
Tak hanya menyampaikan khotbah tema Natal ke jemaat. Nofir juga menyampaikan dirinya juga mendoakan Bali, seluruh masyarakat, dan seisinya pada Natal tahun ini. Dia berdoa agar Bali mendapat keberkahan dari Tuhan setelah banyak hal negatif yang dilalui Bali dan masyarakatnya sepanjang 2025.
“Kami berdoa untuk pemimpin di negeri ini. Kami berdoa untuk pulau Bali, untuk semua tumbuhan dan makhluk hidup lainnya. Termasuk berdoa untuk masyarakat Bali di dalam liturgi kami,” katanya.
infoBali berkunjung ke gereja yang beralamat di Jalan Tukad Buaji nomor 78, Kelurahan Sesetan, Denpasar. Pukul 07.30 Wita, para jemaat sudah mulai beribadah hingga selesai pukul 10.00 Wita. Misa Natal dimulai pukul 07.30 Wita.
Nuansanya, sangat sederhana dan mirip umat Islam saat beribadah di masjid. Ada warga Bali dan tiga warga asing asal Australia dan Ethiopia yang hadir. Semua jemaat perempuan mengenakan kain putih di atas kepala. Sedangkan jemaat pria, hanya mengenakan pakaian yang rapi dan sopan saja.
Semua ayat dan doa tidak dibacakan langsung dengan ucapan, tapi dilantunkan dan diucapkan dengan merdu seperti nyanyian. Mirip umat Islam saat melantunkan sholawat kepada Rasulullah SAW. Ayat dan doa dilantunkan sebagian dalam bahasa Indonesia, bahasa Arab, dan bahasa Koptik.
“Ya, mirip yang muslim. Untuk jemaat perempuan pakai kain (di atas kepala) itu wajib,” kata Ketua Yayasan Koptik di Bali David Rendy Rudianto.
Tidak ada pernak pernik khas Natal seperti pohon Natal, lampu hias warna warni dan lainnya di ruangan lantai 2 gereja itu. Tidak ada alat musik seperti organ atau piano, drama kelahiran Yesus, atau pertunjukkan musik yang biasa tampil di gereja Protestan, Katolik, dan denominasi Kristen pada umumnya saat perayaan Natal.
“Kalau di ruang lainnya ada pohon Natal kecil. Tapi di ruang ibadah utama, tidak ada. Hanya lukisan figur para rasul saja. Tidak ruang ibadah juga tidak boleh tepuk tangan apalagi loncat-loncat,” kata Ketua Yayasan Koptik di Bali David Rendy Rudianto.
Pengucapan ayat dan doa hanya dilantunkan dengan nyanyian saja oleh jemaat yang didahului oleh Nofir sebagai Abouna. Hanya alat musik seperti simbal dan triangle yang mengiringi beberapa kalimat doanya sebagai tradisi tata cara ibadah yang juga digunakan di gereja Ortodoks Koptik di Mesir.
Jemaat di Rumah Doa Ortodoks Koptik Indonesia Perawan Santa Maria dan Malaikat Agung Rafael tidak beribadah dengan deretan kursi panjang. Sebabnya, Ortodoks Koptik belum diresmikan sebagai agama di Indonesia.
Sehingga, bangunan yang dipakai ibadah hanya berstatus rumah doa, bukan gereja. Selain Mesir, gereja Ortodoks Koptik maupun Ortodoks Eropa dengan bangunan yang megah, tetap menggunakan kursi panjang sebagai tempat duduk jemaatnya.
Mereka berdiri lalu bersujud dengan alas bantal berbentuk persegi saat melantunkan ayat atau doa tertentu. Jumlah jemaat yang hadir tidak membludak, hanya memenuhi setengah luas ruangan ibadah.
“Kalau gerejanya besar, pakai (kursi panjang). Tapi ini rumah doa. Karena belum diresmikan sebagai agama. Syaratnya, harus punya gereja di 20 provinsi dan jemaatnya minimal 100 ribu orang. Ortodoks Koptik di Indonesia hanya ada tujuh saja. Jemaatnya belum sampai 100 ribu,” katanya.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
Meski tanpa ragam pernak-pernik yang menonjol, justru itulah yang menjadi salah satu dari identitas umat Kristen Ortodoks Koptik di seluruh dunia. Para jemaat fokus beribadah Natal meski tanpa hiasan di sana sini.
Sebagai informasi, Ortodoks Koptik di Bali muncul sejak dua tahun lalu. Seperti umumnya, Kristen Ortodoks menganut semua liturgi atau tata cara ibadah kekristenan awal yang diinisiasi para pengikut Yesus.
“Kami terbuka untuk saudara dari Protestan dan Katolik yang ingin ibadah di sini. Tapi, tidak bisa menerima (sarana ibadah) perjamuan kudus. Karena belum resmi Ortodoks Koptik,” katanya.
Soal tanggal Hari Raya Natal, mereka menggunakan kalender Julian. Berbeda dengan penanggalan Gregorian yang dipakai di seluruh dunia hingga kini. Menurut penanggalan kalender Julian, Natal dirayakan pada tanggal 7 Januari pada tahun berikutnya setelah perayaan Natal di kalender Gregorian pada 25 Desember.
Ortodoks Koptik kental dengan budaya oriental arab di Mesir. Berbeda dengan Ortodoks di Rusia, Rumania, atau negara balkan dan slavik lainnya yang kental dengan budaya Eropa timur. Selain di Bali dan Yogyakarta, Ortodoks Koptik tersebar di Manado, Surabaya, Malang, dan Tangerang.









