Mataram –
Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram akan membangun 55 unit hingga 60 unit tempah dedoro di 17 pasar tradisional untuk mengatasi penumpukan sampah organik menyusul pembatasan ritase di TPA Kebon Kongok sejak akhir 2025. Anggaran yang dialokasikan sekitar Rp 60 juta.
“Daya tampung tempah dedoro di masing-masing pasar akan bervariasi, karena luas lahan pasar tidak semua sama. Untuk di pasar besar, tempah dedoronya bisa sampai 6 unit,” kata Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram Irwansyah, Kamis (19/2/2026).
Irwansyah mencontohkan, di Pasar Mandalika terdapat tiga hingga empat kontainer sampah yang penuh setiap hari. Satu kontainer dapat menampung sekitar empat meter kubik sampah, sehingga total sampah yang dihasilkan mencapai 16 meter kubik atau sekitar delapan ton per hari.
“Di Pasar Mandalika, ada sekitar 3 hingga 4 kontainer sampah yang sudah full,” sambung Irwan.
Ia menjelaskan anggaran pembangunan tempah dedoro berada di bawah kewenangan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram sebagai leading sector. Estimasi biaya pembangunan satu unit sekitar Rp 1 juta untuk model standar dan Rp 1,5 juta untuk unit yang dilengkapi aksesori, seperti tempat duduk.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
“Ya (bisa Rp 55-60 juta), itu di pasar saja, belum perkantoran, rumah dan fasilitas umum lainnya,” tuturnya.
Diberitakan sebelumnya, Kepala Dinas Lingkungan Hidul (DLH) Mataram, Nizar Cahyadi, menyebut seluruh pasar tradisional di Kota Mataram akan dibangunkan unit tempah dedoro.
“Program tempah dedoro ini harus cepat dilaksanakan. Semua pasar diminta untuk membuat tempah dedoro. Rencananya akan kita bangun 52 unit di belasan pasar,” kata Nizar, sebelumnya.
Tempah dedoro merupakan metode pengolahan sampah organik menggunakan buis beton yang ditanam di tanah serta dilengkapi penutup. Menurut Nizar, pembangunan 52 unit tempah dedoro akan mulai dilakukan pekan ini.






