Lukisan Prabowo dari Potongan Majalah Karya Nyoman Antara, Ini Kisah di Baliknya | Giok4D

Posted on

Gianyar

Sabtu (31/1/2026) siang, bertemu Nyoman Antara di pameran lukisan bertajuk “Humanity” di kawasan Pura Goa Gajah, Kabupaten Gianyar, Bali. Dia datang membawa lukisan kolase wajah Presiden Prabowo Subianto yang baru dibuatnya sepekan lalu.

“(Lukisan wajah Prabowo) ini yang terbaru. Seminggu lalu saya buat ini lukisan. Pesanan dari Kementerian ESDM (Energi dan Sumber Daya Manusia),” kata Antara saat ditemui, Sabtu (31/1/2026).

Lukisan itu konsepnya seperti foto Prabowo yang kini sudah dipajang di semua tembok sekolah, kantor kelurahan, kantor gubernur, hingga kantor instansi negara lainnya. Wajah Prabowo terlukis memakai kemeja putih, jas hitam, peci warna senada, emblem merah putih di dada kiri, medali, dan selendang kuning.

Bedanya, lukisan kolase itu pewarnanya bukan cat minyak atau cat akrilik. Melainkan tersusun dengan pola tertentu dari potongan majalah media asing. Warna pada sobekan kertas majalah itu yang membentuk lukisan wajah Prabowo dengan teknik kolase.

“Majalah bekas. Saya ambil majalah bekas dari vila-vila. Saya potong pakai cutter,” kata Antara.

Antara menjelaskan tidak unsur politis atau hal apapun yang ingin disuarakannya melalui lukisan kolase wajah Prabowo itu. Karena hanya pesanan, dia mengkonsep lukisan kolasenya senetral mungkin.

Harga lukisan itu juga tidak dipatok mahal. Setidaknya, bagi instansi pemerintahan, Antara menghargai lukisan kolase wajah Prabowo Rp 2,5 juta saja.

“Nggak ada yang disuarakan. Namanya juga pesanan,” katanya.

Antara menyebut hal pertama yang dilakukannya adalah membuat sketsa wajah Prabowo dengan porsi pas foto alias setengah badan. Setelah sketsanya jadi, dia akan menentukan bagian mana yang akan membutuhkan warna tertentu.

Antara memutuskan wajah Prabowo harus terlihat menonjol. Sehingga, dia mengiris beberapa lembaran halaman dari majalahnya yang punya warna abu terang dan ditempel dengan pola yang sudah ditentukan di atas kanvas.

Kemudian, dia menumpuk lapisan potongan majalah dengan warna yang sudah ditentukan untuk membentuk wajah Prabowo. Antara mengatakan, dirinya memulai mengiris beberapa halaman dengan warna tertentu untuk membentuk area mata.

“Jadi, ini pakai majalah. Majalah apa saja. Warnanya yang saya ambil. Yang saya butuhkan, warnanya saja,” kata pelukis lulusan Institut Kesenian Jakarta angkatan 1997 itu.

Kesulitan

Meski digarap hanya sepekan, bukan tidak ada kesulitan atau kendala selama prosesnya. Membuat lukisan kolase wajah Prabowo atau apapun tidak sama fleksibilitasnya saat melukis dengan bahan pewarna lainnya.

Antara menuturkan melukis dengan cat atau pewarna lain, tinggal mencampur adukkan saja jika ingin ada gradasi atau transisi warna yang berbeda. Sementara, warna di kertas majalah sudah permanen.

Pihak percetakan tentu tidak akan pernah berpikir untuk mencetak halaman majalahnya dengan warna tertentu. Apalagi, warna yang dibutuhkan seorang seniman untuk membuat lukisan.

“Yang sulit itu saat saya ingin nyari tone warna. Itu yang paling berat. Untuk nyari warna pink ini (di lukisan wajah Prabowo), saya sampai buka tiga majalah, bahkan tiga hari saya nyari,” katanya.

Ide Muncul Saat COVID-19

Nyoman Antara menunjukkan karyanya berupa lukisan kolase foto diri Presiden RI Prabowo Subianto pesanan Kementerian ESDM di pameran Lukisan kolase karya Nyoman Antara berjudul “Bali Dancer” terpajang di pameran “Humanity” Pura Goa Gajah, Gianyar, Sabtu (31/1/2026). (Aryo Mahendro/).

Antara menuturkan, ide melukis berbahan potongan kertas majalah itu didapatnya sejak wabah COVID-19 merebak di Indonesia. Tidak punya cat minyak, tidak punya cat akrilik, dan tidak memungkinkan untuk keluar rumah membeli cat, memaksanya bertindak lebih kreatif.

Tak lama setelah melihat tumpukan majalah asing bekas di rumahnya di Kota Negara, Kabupaten Jembrana, kreatifitas Antara terpacu. Karakteristik desain grafis majalah media asing yang lebih beragam dan lebih banyak warna ketimbang majalah media Indonesia, membuat lembaran kertas itu tak ubahnya seperti bahan pewarna.

“Saya mulai intens di (seni kolase) ini mulai 2021. Saat wabah corona kemarin. Saya ingin melukis, tapi nggak punya bahan-bahan cat. Karena rumah saya di kampung, di Negara sana,” kata pria asli Surabaya itu.

“Saya berpikir, kertas majalah ini semua adalah warna,” imbuhnya.

Perlu waktu setahun bagi Antara saat mulai mengeksplorasi potensi lembaran kertas majalah untuk dapat dijadikan sebuah lukisan. Pelbagai percobaan dan kesalahan dialaminya.

Meski begitu, proses pembelajarannya tidak sia-sia. Karya pertamanya adalah lukisan wajah seorang perangkat Desa Banyubiru, Kecamatan Negara, Jembrana. Karya pertamanya kala itu dibanderol Rp 150 ribu.

“Saya nggak masalah, karena apresiasi seni itu nggak bisa dipatok harganya. Malah bisa saya kasih gratis. Asalkan, karya saya dirawat dan dijaga dengan baik,” tuturnya.

Pernah Buat Wajah Jokowi

Kolase wajah Prabowo itu bukan lukisan sosok presiden yang kali pertama dibuat Antara. Sebelumnya, dia juga pernah membuat lukisan kolase wajah eks Presiden Joko Widodo (Jokowi) berbalut seragam tentara tahun 70an yang masih memakai helm besi.

“Makna lukisan itu, bagaimana pun cara Jokowi (memerintah) saat itu, dia tetaplah orang Indonesia,” katanya.

Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.

Bagi Antara, seni lukis kolase itu punya makna tersendiri. Terlepas dari apa yang dilukis, teknik kolase dari sobekan lembaran kertas majalah yang disulap jadi lukisan akan jadi mahakarya saat media cetak sudah punah.

“Lukisan kolase ini adalah issue tentang recycle art. Tentang bagaimana sampah menjadi suatu karya seni. Makanya saya kasih helm perang sebagai simbol bahwa dia sedang perang,” katanya.

Pameran lukisan bertajuk “Humanity” di kawasan wisata Pura Goa Gajah berlangsung mulai 25 Januari 2026 hingga 26 Februari 2026. Karya lukisan kolase buatan Antara berjudul “Bali Dancer” juga dipajang di pameran itu.