Ngada –
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngada membeberkan kronologi kematian siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Korban berinisial YBR (10) tersebut tewas gantung diri di pohon cengkih, Kamis (29/1/2026).
Kronologi itu terungkap dalam Laporan tertulis Pemkab Ngada ke Gubernur NTT Melkianus Emanuel Melkiades Laka Lena. Laporan itu ditandatangani Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Yohanes CW Ngebu atas nama Bupati Ngada. Yohanes membagikan salinan laporan tertulis itu kepada .
Dalam kronologi kematian YBR versi Pemkab Ngada itu, tak terdapat laporan tentang permintaan YBR dibelikan buku tulis dan pulpen yang tak bisa dipenuhi ibu kandungnya karena keterbatasan ekonomi. Pemkab Ngada hanya melaporkan beberapa kondisi psikososial korban, seperti kemiskinan ekstrem keluarga hingga kurang perhatian dan pendampingan orang tua.
Berikut kronologi kematian YBR menurut Pemkab Ngada:
Pada Rabu (28/2/2026), YBR pamit dari neneknya untuk menginap di rumah ibu kandungnya. Korban diasuh neneknya sejak usia satu tahun tujuh bulan.
Pada Kamis (29/2/2026) pagi, YBR mengeluh sakit kepala. Ibu korban meminta YBR tetap berangkat ke sekolah. Korban kemudian kembali ke pondok di kebun neneknya, tempat mereka tinggal.
“Korban terlihat oleh beberapa saksi tidak berangkat sekolah dan berada di sekitar pondok kebun neneknya,” demikian tertulis dalam laporan tersebut.
Sejumlah saksi yang hendak ke kebun sempat melihat dan berbicang denga YBR sebelum korban gantung diri.
Sekitar pukul 09.00 Wita, saksi pertama berinisial GK bersama istri dan seorang anaknya berusia lima tahun melihat YBR sedang duduk sendiri di pintu pondok menghadap ke arah jalan setapak. GK saat itu hendak ke kebunnya dan melintasi jalan setapak di samping kiri pondok. Jarak dari jalan setapak ke pondok sekitar dua meter.
Sembari berjalan, GK bertanya dalam bahasa daerah Bajawa, kenapa YBR tak pergi sekolah. Korban menjawab sedang sakit. Saat itu GK melihat ada kertas di depan korban.
GK melanjutkan perjalanannya ke kebun yang tidak jauh dari pondok korban. Sekitar pukul 11.30 Wita, GK mendengar teriakan dan tangisan dari arah pondok milik korban. GK langsung berlari menuju sumber suara dan didapatinya sudah banyak orang di halaman pondok tersebut. Dia kaget melihat YBR sudah tergantung di dahan pohon cengkih tepat di depan pondok.
Saksi kedua berinisial RP dilaporkan juga memberikan kesaksian yang hampir sama. Sekitar pukul 10.00 Wita, RP ke kebunnya dan melewati jalan setapak samping kanan pondok tempat tinggal korban. Jarak jalan setapak ke pondok sekitar satu meter.
Pada saat itu RP melihat korban sedang duduk sendiri di pintu pondok menghadap ke arah samping kiri jalan setapak bawah. YBR melihat RP berjalan di dekat pondok dan menyapanya dalam bahasa Bajawa. “Om Finus dua? (Om Finus ke kebun?)”
FN menjawab “Iya”. Sambil berjalan, FN bertanya kenapa YBR tidak pergi sekolah. Sambil memegang dahinya dan sedikit tertunduk, YBR menjawab: “ja’o bha’i la’a sekolah, ja’o ulu heo” (saya tidak pergi sekolah, saya sakit kepala). FN kemudian melanjutkan perjalanannya ke ke kebun.
Adapun yang pertama kali melihat YBR tergantung di pohon cengkih adalah pria berinisial KD. Sekitar pukul 11.00 Wita, KD datang mengikat kerbau miliknya di kubangan yang tidak jauh dari pondok korban. Setelah mengikat kerbaunya, KD berjalan ke arah pondok hendak meminta tolong kepada nenek korban untuk membantu mengawasi kerbau tersebut.
Saat berjalan menuju pondok milik korban, dari kejauhan KD melihat ada seperti pakaian berwarna merah yang sedang digantung di pohon cengkih. KD terus berjalan menuju ke arah pondok dan pada jarak kurang lebih tiga meter, dia melihat ada seseorang yang sudah tergantung di pohon cengkih di depan pondok.
KD panik dan berlari kembali ke arah jalan utama. Orang pertama yang dia temui adalah perempuan berinisial L, yang berada di kompleks rumah penduduk yang tidak jauh dari tempat kejadian. Ia menyampaikan informasi ada yang gantung diri di dekat pondok nenek YBR.
KD dan L kemudian menyampaikan informasi itu kepada Y yang kebetulan melintas di dekat mereka. Y adalah Sekretaris Desa di sana. Y dan sejumlah warga kemudian mendatangi lokasi kejadian dan menemukan YBR gantung diri.
Kepala desa setempat kemudian melaporkan peristiwa itu ke polisi, yang kemudian datang mengevakuasinya. YBR dinyatakan meninggal dunia di TKP dan kemudian dibawa ke Puskesmas Dona.
Pada Jumat (30/2/2026), YBR dimakamkan dan keluarga melaksanakan prosesi adat karena peristiwa itu dikategorikan sebagai mati golo kematian tidak wajar dalam adat Ngada.
Diberitakan sebelumnya, YBR ditemukan tewas gantung diri di pohon cengkih setelah permintaannya dibelikan buku tulis dan pulpen tak bisa dipenuhi ibunya yang mengalami kesulitan ekonomi. YBR diasuh neneknya sejak berusia satu tahun tujuh bulan karena kondisi ekonomi keluarga yang susah.
Polres Ngada telah mengehentikan penyelidikan kasus kematian YBR. Berdasarkan hasil gelar perkara, tak ada unsur pidana yang menyebabkan kematian korban. YBR juga bukan korban perundungan (bullying),
“Kematian seseorang (YBR) bukan akibat tindak pidana, murni bunuh diri. Tidak ada bully, dll,” kata Kapolres Ngada AKBP Andrey Valentino, Sabtu (7/2/2026).






