Gubernur Bali Wayan Koster bakal mentraktir kopi hingga babi guling untuk warga hari ini. Traktiran itu diklaim sebagai wujud kasih sayang kepada generasi muda Bali dalam rangka perayaan Tumpek Krulut yang jatuh pada Sabtu, 3 Januari 2026.
“Momentum ini, sebagai salah satu cara menunjukkan rasa kasih sayang Gubernur Koster terhadap sameton Bali,” tulis unggahan di akun Instagram pemprov_bali terkait traktiran kopi dan babi guling itu.
Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.
Ada tiga lokasi yang dapat dituju untuk menikmati kopi dan hidangan gratis dari Gubernur Koster itu. Mulai dari Kopi Jenar (Jalan Kaliasem Denpasar), Tan-Panama Coffee (Veteran Denpasar), dan Babi Guling Men Wenci (Sangeh).
Lantas, apa makna perayaan Tumpek Krulut?
Tumpek Krulut merupakan salah satu hari suci menurut Hindu Bali yang dirayakan setiap 210 hari pada Sabtu (Saniscara) kliwon wuku krulut. Tumpek Krulut kerap diidentikkan sebagai perayaan hari kasih sayang (valentine) versi Bali.
Lontar Sundarigama menjelaskan Tumpek Krulut sebagai hari suci untuk melakukan pemujaan kepada Sang Hyang Iswara sebagai manisfestasi Tuhan yang membidangi unsur seni dan keindahan. Tumpek Krulut disebut sebagai hari kasih sayang ala Bali karena kegiatan berkesenian dapat memperhalus rasa dan menumbuhkan sikap welas asih.
Tumpek Krulut juga dikenal sebagai Tumpek Lulut. Kata lulut dalam bahasa Bali berarti jalinan atau rangkaian dan welas asih. Perayaan ini dikaitkan dengan taksu kesenian, khususnya gamelan, sehingga disebut pula sebagai odalan gong.
Taksu yang diturunkan pada hari Tumpek Krulut dipercaya dapat mendatangkan kebahagiaan dan rasa kasih sayang. Taksu merupakan kekuatan spiritual yang menjiwai berbagai kegiatan seni yang dilakoni orang Bali.
Seseorang yang mendengarkan alunan dari gamelan juga secara tidak langsung akan menikmati dan menimbulkan kesenangan atau kebahagiaan. Dengan demikian, perayaan Tumpek Krulut bertujuan untuk menjalin hubungan harmonis antar sesama manusia dan taksu di dalam diri.
Luh Irma Susanthi dalam salah satu artikelnya menjelaskan Tumpek Krulut bukan sekadar penghormatan terhadap seni. Melainkan menjadi panggilan spiritual untuk mencintai, merawat, dan menyucikan kehidupan melalui vibrasi nada yang harmoni.
Lontar Sundarigama menyebutkan:
“Tumpek Krulut punika Sang Hyang Iswara mapan ring gamelan, gong, tabuh-tabuhan miwah pratima Ida Bhatara, punika pinaka angayunin rasa suci tresna ring sasabran jagat.“
Nukilan tersebut memaknai Tumpek Krulut sebagai perayaan atas hasirnya manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa dalam aspek suara suci (Nada Brahman) melalui gamelan, alat musik, dan lambang-lambang suci lainnya. Perayaan Tumpek Krulut bertujuan untuk menanamkan cinta kasih universal (tresna ring sasabran jagat).
Nilai Teo Estetis dalam ajaran agama Hindu berkaitan dengan estetika yang beriringan dengan Satyam (kebenaran), Siwam (kesucian), dan Sundaram (keindahan). Sehingga, Tumpek Krulut memiliki nilai Teo Estetis, yakni keindahan dalam aspek teologis.
Tumpek Krulut juga berhubungan dengan aspek ketuhanan dalam bentuk seni. Di dalam alat gamelan terkandung nyasa (simbol) yang bersemayam para dewa yakni Dewa Iswara (Dang), Dewa Siwa (Ding), Dewa Brahma (Deng), Dewa Wisnu (Dung), dan Dewa Mahadewa (Dong).
Bersemayam juga para dewi-dewi di dalamnya, yakni Dewi Mahadewi, Dewi Umadewi, Dewi Saraswati, Dewi Sri dan Dewi Gayatri. Alat-alat seni (gamelan) tetap tidak terlepas dari konsep Ketuhanan dengan manifestasinya para dewi-dewi di dalamnya.
Rahina Tumpek Krulut dirayakan secara sekala dan niskala. Perayaan secara sekala di antaranya dapat dilakukan dengan pagelaran pertunjukan seni. Sedangkan, secara niskala dilakukan dengan upacara penyucian gamelan atau alat musik.
Secara ritual, Tumpek Krulut dirayakan dengan mengupacarai gong atau gamelan yang digunakan sebagai pendamping upacara-upacara suci di Bali. Upacara penyucian ini bertujuan untuk menghilangkan hal-hal buruk yang melekat pada gamelan.
Selanjutnya, warga Hindu Bali mempersembahkan sajian berupa banten kepada Dewa Iswara. Jenis sesajen biasanya dilengkapi dengan ketupat, ajuman, pengambean, hingga peras. Sesajen tersebut diletakkan di dekat alat musik, diiringi doa agar alunan nada yang dihasilkan tetap indah dan memiliki taksu.
Selain itu, Tumpek Krulut di tingkat keluarga dapat dirayakan dengan menghaturkan banten dan persembahyangan di rumah masing-masing. Banten merupakan media untuk menunjukkan Sradha (keyakinan) dan Bhakti (persembahan tulus ikhlas) terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
