Denpasar –
Gubernur Bali I Wayan Koster menyebut hanya sebagian kecil masjid di Bali yang memastikan melaksanakan salat Idulfitri pada 20 Maret 2026 atau malam takbiran berbarengan Nyepi pada 19 Maret. Seluruh masjid tersebut merupakan masjid Muhammadiyah.
“Sudah diperkirakan yang melaksanakan Idul Fitri tanggal 20 dan takbiran pada tanggal 19 itu hanya sedikit. Terutama yang dilaksanakan oleh semeton kita umat Muslim dari Muhammadiyah. Jadi kemarin dihitung hanya ada empat masjid dan juga pesertanya tidak banyak,” kata Koster saat menghadiri apel gelar pasukan Operasi Ketupat Agung 2026 di Mako Brimob Polda Bali, Kamis (12/3/2026).
Ia menjelaskan, hingga saat ini pemerintah masih menunggu keputusan resmi dari pemerintah pusat terkait penetapan Hari Raya Idulfitri. Karena itu, kemungkinan adanya perbedaan waktu pelaksanaan tetap terbuka.
“Idulfitri ada yang melaksanakan tanggal 20. Ini kan belum pasti karena belum ada keputusan dari pemerintah. Maka bisa terjadi ada takbiran tanggal 19 yang bertepatan dengan Hari Raya Nyepi,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi potensi tersebut, pemerintah daerah bersama unsur Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan majelis-majelis agama telah melakukan pertemuan guna menyepakati mekanisme pelaksanaan takbiran.
Koster menjelaskan apabila ada umat muslim yang melaksanakan Idulfitri pada 20 Maret, maka kegiatan takbiran pada 19 Maret yang bertepatan dengan Hari Raya Nyepi akan menyesuaikan dengan seruan bersama yang telah disepakati.
Dalam kesepakatan tersebut, takbiran diperbolehkan berlangsung pada pukul 18.00 hingga 21.00 Wita dengan beberapa ketentuan.
“Maka acara takbirannya kita dorong sedapat mungkin dilaksanakan di rumah. Kalau tidak di rumah dan harus ke masjid, maka sesuai seruan bersama dilaksanakan di masjid terdekat dengan berjalan kaki,” jelasnya.
Selain itu, pelaksanaan takbiran juga diminta tidak menggunakan pengeras suara secara berlebihan, tidak menggunakan lampu penerangan yang mencolok, serta tidak menggelar pawai.
Menurut Koster, kebijakan tersebut diambil untuk menjaga keseimbangan antara pelaksanaan ibadah umat muslim dengan penghormatan terhadap rangkaian Hari Raya Nyepi yang dijalankan umat Hindu di Bali.
Sebagai kepala daerah, ia menegaskan pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memfasilitasi seluruh umat beragama agar dapat menjalankan ibadahnya dengan baik.
“Sebagai gubernur, tugas saya adalah memfasilitasi agar semua umat beragama dapat menjalankan perayaan Idulfitri dan terutama bagi umat Hindu adalah perayaan Nyepi dengan tertib dan disiplin,” ujarnya.
Koster juga menekankan pentingnya menjaga hubungan harmonis antarumat beragama di Bali. Ia menyebut kondisi serupa bukan pertama kali terjadi dan selama ini selalu dapat diselesaikan dengan baik melalui semangat toleransi.
“Hal ini bukan pertama kali terjadi, juga pernah terjadi beberapa tahun sebelumnya dan tidak pernah menimbulkan masalah apa-apa. Karena kita di Bali memang sudah terbiasa saling menghormati dan penuh toleransi,” kata Koster.






