Gubernur Bali Wayan Koster berjanji akan mengoperasikan layanan bus rute Singaraja-Denpasar dan sebaliknya setiap hari jika seluruh titik Shortcut Singaraja-Mengwitani rampung. Ditargetkan, 12 titik shortcut akan rampung seluruhnya pada 2030. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali juga berencana mengoperasikan bus Trans Metro Dewata di Buleleng.
Menurut Koster, fasilitas bus Singaraja-Denpasar ditujukan bagi pegawai asal Buleleng yang bekerja di Denpasar atau Badung agar tidak perlu lagi tinggal di kos-kosan.
“Kita juga akan membawa layanan Trans Metro Dewata ke Buleleng. Selain itu, paling lambat September nanti Bali akan mendapat bantuan 10 unit bus listrik dari Korea yang akan dioperasikan di Buleleng dengan tarif sewa murah,” ujar Koster dalam acara groundbreaking atau peletakan batu pertama proyek Shortcut titik 9-10 di Desa Gitgit, Sukasada, Buleleng, Rabu (7/1/2026).
Ia menegaskan, keberadaan shortcut Singaraja-Mengwitani akan memberikan dampak signifikan terhadap mobilitas, efisiensi waktu tempuh, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat Buleleng.
Pembangunan jalan pintas (shortcut) Singaraja-Mengwitani titik 9 dan 10 resmi dimulai. Proyek strategis tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama (groundbreaking) oleh Gubernur Bali Wayan Koster di Kabupaten Buleleng, Rabu (7/1/2026) yang berlokasi di Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali.
Shortcut Singaraja-Mengwitani titik 9 dan 10 dikerjakan secara bertahap dan ditargetkan rampung pada 2027. Proyek ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali untuk memperkuat konektivitas Bali Utara dan Bali Selatan sekaligus mempercepat pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Buleleng.
Gubernur Koster menjelaskan pembangunan shortcut titik 9 dan 10 dibagi ke dalam tiga tahap. Tahap pertama dan kedua telah dilakukan groundbreaking, sementara tahap ketiga masih dalam proses tender. Total anggaran yang dialokasikan untuk proyek ini mencapai Rp 667,57 miliar yang bersumber dari Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan panjang jalan sekitar 3,9 kilometer, serta dilengkapi enam jembatan.
“Selain titik 9 dan 10, saya juga sudah memohon kepada Pak Menteri agar pembangunan bisa dilanjutkan ke titik 11 dan 12. Titik ini saya prioritaskan karena medannya sangat berat dan akan sangat membantu kelancaran lalu lintas dari Singaraja ke Denpasar,” kata Koster.
Koster juga menyampaikan, penamaan proyek diubah dari Mengwitani-Singaraja menjadi Singaraja-Mengwitani. Perubahan tersebut dilakukan agar penanganan pembangunan dari wilayah Singaraja dapat diprioritaskan lebih dulu, mengingat kondisi medan di kawasan tersebut jauh lebih berat dibandingkan titik 1 dan 2 yang relatif landai.
Untuk pembangunan shortcut titik 11 dan 12, kebutuhan anggaran pembebasan lahan diperkirakan mencapai Rp 80 miliar. Koster mengaku telah berdiskusi dengan pimpinan DPRD Bali agar proses pembebasan lahan bisa mulai dilakukan tahun ini.
“Kalau bisa, 50 persen anggaran pembebasan lahan dialokasikan di APBD Perubahan 2026 dan sisanya di APBD Induk 2027. Dengan begitu, tidak ada hambatan dan prosesnya bisa dimulai akhir 2027. Awal 2028 sudah bisa dilakukan groundbreaking,” jelasnya.
Koster menargetkan pembangunan shortcut Singaraja-Mengwitani hingga titik 12 dapat tuntas sebelum masa jabatan periode keduanya berakhir pada 20 Februari 2030. Sementara untuk pembangunan titik 1 dan 2, pelaksanaannya kemungkinan menyusul karena harga lahan di kawasan tersebut relatif lebih mahal.
“Yang penting seluruh shortcut dari titik 1 sampai 12 bisa selesai. Itu akan menjadi kenangan manis bagi masyarakat Bali, khususnya masyarakat Buleleng,” tegas Koster.






