Gubernur Bali Wayan Koster mengungkapkan akan lebih masif keliling kabupaten/kota di Bali untuk bertemu masyarakat pada tahun 2026.
Ia mengaku selama hampir satu tahun masa kepemimpinannya disibukkan untuk menyusun beberapa peraturan daerah hingga agenda-agenda gubernuran. Hal tersebut membuatnya belum sempat keliling Bali melihat berbagai dinamika permasalahan di masyarakat.
“Di tahun 2026 ini nanti kira-kira dari tujuh hari, lima hari di Jayasabha, dua hari akan berkeliling ke kabupaten/kota,” ujar Koster saat sambutan dalam acara Temu Media di Jayasabha, Denpasar, Minggu (4/1/2026).
Ia menegaskan, kunjungan ke lapangan dilakukan untuk melihat secara langsung berbagai persoalan rakyat. Mulai dari kondisi persawahan, infrastruktur jalan, ketersediaan air bersih, hingga rumah warga yang tidak layak huni.
“Jadi sekali waktu nengok sawah, sekali waktu lihat jalan rusak, sekali waktu lihat air yang susah, sekali waktu lihat warga yang rumahnya nggak layak, macam-macam soal kerakyatan semua,” sambung Koster.
Sehingga, lanjut dia, turun ke masyarakat tidak akan mengganggu ritme pelaksanaan dari program Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun. Ia bersyukur program tersebut sudah mulai berjalan di akhir tahun 2025.
“Coba bayangkan kalau ini bisa berjalan (100 tahun) maka Bali yang kita lihat ke depan Bali yang akan tumbuh berkembang kuat berdaya saing mengikuti perkembangan dan dinamika lokal,” bebernya.
Gubernur dua periode asal Desa Sambiran, Buleleng, itu menambahkan semua itu tetap berakar pada pasa budaya, tradisi, hingga kearifan lokal Bali. Oleh sebab itu, Koster mencanangkan program Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun itu untuk memperkuat fundamental Bali, baik dari alamnya maupun budayanya.
“Yang sebenarnya sejumlah program berlanjut yang sudah dilaksanakan di periode pertama, menggunakan aksara Bali, bahasa Bali, pakaian adat Bali, semuanya berkaitan dengan kearifan lokal,” tandas Koster.






