Jakarta –
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai berdampak pada strategi energi Indonesia. Pemerintah memutuskan menambah impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) dari Amerika Serikat (AS) untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan akibat konflik AS dan Israel melawan Iran.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan rantai distribusi LPG global saat ini tengah mengalami dinamika. Indonesia pun mengambil langkah antisipatif agar pasokan energi domestik tetap aman.
Bahlil menjelaskan total impor LPG Indonesia saat ini mencapai 7,6 juta ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 70-72% berasal dari Amerika Serikat, kemudian sekitar 20% dari Timur Tengah, dan sisanya dipasok dari negara lain.
Untuk mengantisipasi ketidakpastian pasokan dari kawasan Timur Tengah, pemerintah mulai menambah kontrak pasokan dari Amerika Serikat dan sejumlah negara lain, termasuk Australia.
“Dengan kondisi sekarang, yang di Middle East kita pecah lagi, untuk kita ambil kontrak jangka panjang dengan Amerika dan beberapa negara lain. Di akhir minggu ini kita masuk dua kargo dari Australia, itu untuk LPG,” kata Bahlil dalam keterangan tertulis, dikutip, Sabtu (14/3/2026).
Bahlil memastikan pasokan solar tidak mengalami gangguan karena seluruhnya berasal dari produksi dalam negeri. Kondisi ini juga didukung oleh peresmian Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan pada Januari 2026 lalu.
Menurutnya, proyek tersebut meningkatkan kapasitas produksi bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri sehingga mampu menekan impor. Peningkatan kapasitas kilang itu dapat mengurangi impor bensin hingga 5,5 juta ton dan solar hingga 3,5 juta ton.
Meski demikian, sebagian kebutuhan bensin nasional masih dipenuhi melalui impor dari Malaysia dan Singapura. Ke depan, pemerintah mendorong pembangunan kilang baru agar produksi BBM dalam negeri meningkat dan ketergantungan terhadap impor dapat berkurang.
“Kita harus mengembangkan refinery kita, kilang-kilang kita, untuk semua kita produksi dalam negeri. Yang pada akhirnya kemudian nanti, kalau lifting kita nggak mencapai 1,6 juta, selisih antara kebutuhan crude dan kemampuan kita lifting, itulah yang kita impor. Jadi ke depan itu tinggal impor crude saja,” jelas Bahlil.
Dalam kesempatan itu, Bahlil juga memastikan ketersediaan BBM dan LPG aman menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026. Hal tersebut ia sampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna di Jakarta, Jumat (13/3).
Bahlil melaporkan cadangan Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) RON 90 mencapai 24,39 hari atau melampaui batas minimal yang ditetapkan. Kemudian cadangan Jenis BBM Umum (JBU) RON 92 mencapai 28 hari dan RON 98 mencapai 31 hari.
Sementara itu, cadangan solar subsidi mencapai 16,41 hari. Untuk solar CN 53 tercatat 46 hari, sedangkan avtur mencapai 38 hari.
“Jadi saya pikir untuk urusan bensin, insya Allah clear Bapak (Presiden). Cadangan menjelang hari raya untuk semua BBM dan LPG, insya Allah aman Bapak,” tutup Bahlil.
