Badung –
Di bawah jembatan Jalan Pitu, Banjar Lateng, Desa Sibangkaja, Badung, deru kendaraan tak pernah benar-benar berhenti. Di sela suara mesin dan debu jalan, berdiri sebuah kandang kambing sederhana.
Tempat itu menjadi bagian dari keseharian Makrupin (60), pria asal Jawa Timur yang perlahan mengumpulkan harapan lewat ternak miliknya.
Kandang kambing tersebut mendadak viral di media sosial. Tak sedikit warganet yang menyoroti pemanfaatan kolong jembatan sebagai kandang ternak dan menilainya melanggar aturan penggunaan fasilitas umum. Namun di balik kontroversi itu, tersimpan cerita panjang tentang keterbatasan, inisiatif, dan mimpi berangkat umrah.
Makrupin mulai memelihara kambing sejak 2021. Saat itu, ia hanya memiliki tiga ekor kambing dan belum mempunyai lahan untuk kandang. Jembatan beton lama di kawasan tersebut menjadi satu-satunya pilihan yang ia miliki.
“Awalnya cuma iseng beli dari tetangga karena saya belum punya tempat buat kandang, akhirnya ya dipakai saja jembatan lama itu. Kambing-kambing ini saya tabung, niatnya nanti mau dipakai untuk biaya berangkat umrah,” kata Makrupin saat ditemui di lokasi, Senin (9/2/2026).
Dari Jembatan Lama ke Kandang
Sebelum jembatan Jalan Pitu dibangun pada 2017, kawasan itu telah memiliki jembatan beton kecil yang menghubungkan pusat desa dengan permukiman baru di sekitar Blumbungan. Setelah jembatan baru berdiri, struktur lama tak lagi difungsikan dan perlahan berubah menjadi area kumuh.
Di bawah jembatan, tumpukan sampah kerap menggunung. Limbah rumah tangga, bangkai, hingga sisa pemotongan ayam dibuang sembarangan dari atas jembatan dan menimbulkan bau menyengat.
Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.
“Dulu di sini kotor sekali, banyak yang buang sampah sembarangan dari atas jembatan sampai baunya bikin sesak napas. Saya bersihkan sendiri setiap minggu supaya lebih pantas dilihat, baru setelah itu saya pakai buat pelihara kambing,” tutur Makrupin.
Perlahan, area yang semula kumuh mulai tertata. Kandang dibangun di atas dak beton bekas jembatan dan disekat dengan tembok permanen. Jumlah kambing pun terus bertambah hingga kini mencapai sekitar 20 ekor.
Makrupin menyadari risiko pencemaran lingkungan jika ternak dikelola sembarangan. Ia memastikan kotoran kambing tidak dibuang ke sungai, melainkan dikumpulkan dan diolah menjadi pupuk kompos bernilai ekonomi.
“Kandang ini saya sekat supaya kotorannya tidak berceceran ke sungai dan bisa kami kumpulkan untuk dijual jadi pupuk. Sebelum ada kambing, area ini juga sempat dipakai warga lain untuk pelihara lele daripada lahannya mubazir,” beber putra Makrupin, Roni.
Meski demikian, keberadaan kandang di fasilitas umum tetap menjadi sorotan. Informasi mengenai kandang kambing di kolong jembatan itu viral di media sosial dan memicu beragam reaksi.
Viral dan Dipanggil Desa
Respons datang dari Satpol PP Badung dan aparat Desa Sibangkaja. Makrupin dipanggil ke kantor desa untuk memberikan klarifikasi terkait penggunaan fasilitas umum tersebut.
“Soal pakai tempat itu saya akui memang salah karena menggunakan fasilitas umum untuk kepentingan pribadi. Saya sudah bicara dengan pihak desa dan tidak keberatan kalau memang harus pindah,” aku Makrupin.
Perbekel Sibangkaja, Ni Nyoman Rai Sudani, menyebut aktivitas Makrupin sebenarnya telah lama berada dalam pantauan desa. Menurutnya, informasi yang beredar di media sosial cenderung tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi di lapangan.
Makrupin saat menunjukkan puluhan ekor kambing miliknya yang terpelihara baik di bawah kolong jembatan Jalan Pitu, Banjar Lateng, Desa Sibangkaja, Badung, Senin (9/2/2026). Foto: Agus Eka/ |
Meski mengakui penggunaan lahan tersebut melanggar aturan, pihak desa memastikan tidak ditemukan pencemaran lingkungan.
“Pencemaran lingkungan itu tidak ada karena kami sudah cek langsung ke lokasi bersama BPD dan kelian dinas. Kami tetap berikan teguran karena bagaimanapun itu fasilitas umum, tapi kami hargai inisiatifnya membersihkan tempat yang dulunya kumuh itu,” ungkap Rai Sudani.
Jalan Tengah untuk Masa Depan
Untuk mencegah persoalan serupa terulang, Desa Sibangkaja menyiapkan solusi jangka panjang. Seluruh kambing milik Makrupin direncanakan akan dibeli melalui BUMDes Aura Cempaka dan dikelola dalam program ketahanan pangan desa.
Langkah tersebut diharapkan menjadi jalan tengah, agar Makrupin dapat memindahkan ternaknya tanpa kehilangan nilai ekonomi dari usaha yang telah ia bangun bertahun-tahun.
“Rencananya kambing-kambing itu akan kami beli untuk dikelola desa melalui program ketahanan pangan seperti ternak sapi dan puyuh yang sudah jalan. Ini solusi supaya tidak ada masalah di kemudian hari dan usahanya tetap bisa berlanjut,” pungkas Rai Sudani.
Di bawah kolong jembatan yang kini ramai dibicarakan, Makrupin masih setia merawat kambing-kambingnya. Di balik kandang sederhana itu, tersimpan mimpi sederhana pula: suatu hari bisa menjejakkan kaki ke Tanah Suci dari hasil jerih payah sendiri.






