Kerap Jadi Perdebatan, Puasa Ramadan Dimulai Saat Imsak atau Subuh?

Posted on

Denpasar

Sebelum memulai ibadah puasa, umat Islam umumnya melaksanakan sahur pada dini hari menjelang subuh. Kegiatan ini dilakukan sebagai persiapan fisik agar tubuh tetap bertenaga selama menjalani puasa seharian. Harapannya, dengan kondisi fisik yang prima, umat muslim mampu menjalani ibadah puasa dengan lebih khusyuk dan optimal.

Namun, pembahasan mengenai batas akhir waktu sahur kerap menimbulkan perbedaan pemahaman di kalangan masyarakat. Tidak sedikit umat muslim yang menganggap aktivitas makan dan minum harus dihentikan saat memasuki waktu imsak. Di sisi lain, ada pula yang masih melanjutkan sahur, bahkan setelah azan subuh berkumandang.

Pemahaman yang tepat mengenai waktu pelaksanaan sahur menjadi hal yang sangat penting bagi umat Islam sebab berkaitan langsung dengan keabsahan ibadah puasa yang dijalankan. Kesalahan dalam menentukan batas waktu makan dan minum berpotensi memengaruhi sah atau tidaknya puasa.

Berikut penjelasan mengenai pedoman waktu sahur yang benar berdasarkan ketentuan hukum dalam syariat Islam, lengkap dengan landasan hadits sebagai rujukan. Yuk, simak informasi selengkapnya!

Batasan Waktu Sahur

Batasan waktu sahur dalam ajaran Islam sudah ditentukan dengan jelas. Sahur dapat dilakukan sejak pertengahan malam hingga menjelang terbit fajar. Namun, batas akhir sahur bukan ditentukan oleh waktu imsak, melainkan saat masuknya waktu subuh yang ditandai dengan suara azan.

Allah SWT berfirman:
“Makan dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian, sempurnakanlah puasa hingga malam.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Ayat tersebut menjelaskan batas akhir sahur berlangsung hingga terbit fajar, sekaligus menandai masuknya waktu subuh. Artinya, makan dan minum masih diperbolehkan sebelum waktu subuh tiba. Namun, jika sudah mulai terdengar suara azan subuh, segala aktivitas sahur harus sudah berakhir, sekaligus menjadi tanda dimulainya puasa bagi umat Islam.

Fiqih Menghentikan Makan Sahur Saat Imsak

Mengutip laman Nahdlatul Ulama Online, peringatan waktu imsak yang diumumkan menjelang subuh selama Ramadan pada dasarnya berfungsi sebagai pengingat bagi umat Islam. Penanda waktu ini dimaksudkan agar masyarakat segera menyudahi aktivitas makan dan minum saat sahur sebelum azan subuh berkumandang sehingga pelaksanaan puasa dapat dimulai tepat waktu sesuai ketentuan syariat.

Penentuan awal puasa, dalam kajian fiqih, sebagai salah satu rukun Islam telah diatur dalam syariat. Lalu, apakah waktu imsak benar-benar menjadi penanda dimulainya seseorang untuk menahan lapar dan dahaga saat berpuasa?

Imam Al-Mawardi dalam kitab Iqna’ menjelaskan

وزمان الصّيام من طُلُوع الْفجْر الثَّانِي إِلَى غرُوب الشَّمْس لَكِن عَلَيْهِ تَقْدِيم الامساك يَسِيرا قبل طُلُوع الْفجْر وَتَأْخِير (الْفطر) يَسِيرا بعد غرُوب الشَّمْس ليصير مُسْتَوْفيا لامساكمَا بَينهمَا

Artinya: Waktu berpuasa adalah dari terbitnya fajar kedua sampai tenggelamnya matahari. Akan tetapi, (akan lebih baik bila) orang yang berpuasa melakukan imsak (menghentikan makan dan minum) sedikit lebih awal sebelum terbitnya fajar dan menunda berbuka sejenak setelah tenggelamnya matahari agar ia menyempurnakan imsak (menahan diri dari yang membatalkan puasa) di antara keduanya (Ali bin Muhammad Al-Mawardi, Al-Iqnaa’ [Teheran: Dar Ihsan, 1420 H] hal. 74).

Berdasarkan penjelasan ayat tersebut, waktu puasa dimulai sejak terbit fajar hingga matahari terbenam. Sementara itu, waktu imsak dipahami sebagai tanda pengingat agar umat Islam segera mengakhiri sahur.

Imsak umumnya berlangsung sekitar 10 hingga 15 menit sebelum azan subuh yang dapat dimanfaatkan untuk membersihkan sisa-sisa makanan dengan menggosok gigi dan berkumur, mandi hingga persiapan lainnya sebelum melaksanakan salat subuh.