Gubernur Bali Wayan Koster mengaku kerap menjadi sasaran perundungan atau bully oleh warganet di media sosial (medsos). Meski begitu, Koster menegaskan dirinya tidak pernah mempermasalahkan komentar galak warganet.
Koster menganggap kritik dan cibiran yang diarahkan terhadap dirinya sebagai bagian dari dinamika seorang pemimpin. Pria asal Desa Sembiran, Buleleng, itu memilih melaksanakan tugas ketimbang menanggapi komentar di medsos.
“Kalau ada yang masih ribut-ribut begini, begitu, kita sabar saja. Tugas kita itu bekerja, bukan berbicara di media sosial. Bekerja dan bekerja. Di-bully itu risiko sebagai pemimpin,” kata Koster saat groundbreaking Shortcut Singaraja-Mengwitani titik 9 dan 10 di Gitgit, Sukasada, Buleleng, Rabu (7/1/2026).
Koster mengakui komentar warganet di medsos galak-galak. Ia menilai komentar nyinyir tersebut justru menjadi sarana untuk menguji ketahanan mental seorang pemimpin.
“Kalau segitu nyinyir diladeni, berarti kita tidak tahan. Nyaman saja kerja. Sekarang media sosial itu galak, jadi tidak apa-apa. Itu yang menguji kekuatan dan ketahanan mental,” imbuh Koster.
Gubernur Bali dua periode itu menyebut dunia akan terasa sepi jika tak ada kritik maupun cibiran. Ia pun mempersilakan warganet melontarkan kritik sebagai bagian dari koreksi terhadap kebijakan pemimpin.
“Saya sangat menikmati bully-bully-an seperti itu. Kalau tidak ada bully, sepi dunia. Kalau dunia sepi, kita tidak tahu mana yang baik, mana yang buruk,” kata Koster.
“Kalau memang dengan cara mem-bully dia hidupnya bahagia, beri kesempatan mem-bully seluas-luasnya supaya hidupnya makin bahagia. Hidup yang paling mulia itu membuat kebahagiaan untuk orang lain,” sambungnya.
Koster menegaskan dirinya siap menampung seluruh kritik dari warga. Menurut dia, setiap orang memiliki cara masing-masing ketika mengkritik pemerintah.
“Ada yang bilang, Pak di-bully terus bagaimana? Ya tidak apa-apa. Memang senangnya orangnya begitu. Kita tidak bisa ngelarang,” pungkasnya.
Gubernur Bali dua periode itu menyebut dunia akan terasa sepi jika tak ada kritik maupun cibiran. Ia pun mempersilakan warganet melontarkan kritik sebagai bagian dari koreksi terhadap kebijakan pemimpin.
“Saya sangat menikmati bully-bully-an seperti itu. Kalau tidak ada bully, sepi dunia. Kalau dunia sepi, kita tidak tahu mana yang baik, mana yang buruk,” kata Koster.
“Kalau memang dengan cara mem-bully dia hidupnya bahagia, beri kesempatan mem-bully seluas-luasnya supaya hidupnya makin bahagia. Hidup yang paling mulia itu membuat kebahagiaan untuk orang lain,” sambungnya.
Koster menegaskan dirinya siap menampung seluruh kritik dari warga. Menurut dia, setiap orang memiliki cara masing-masing ketika mengkritik pemerintah.
“Ada yang bilang, Pak di-bully terus bagaimana? Ya tidak apa-apa. Memang senangnya orangnya begitu. Kita tidak bisa ngelarang,” pungkasnya.






