Daftar Isi
Denpasar –
Tahun baru Imlek adalah sebuah tradisi masyarakat Tionghoa yang menandai pergantian tahun berdasarkan kalender Lunar, serta melambangkan pembaruan dan keselarasan dengan alam. Perayaan Imlek tidak hanya identik dengan lampion dan barongsai saja, tetapi juga dengan tradisi bagi-bagi angpao yang selalu menjadi momen yang paling dinantikan.
Dilansir dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), angpao merupakan bentuk pemberian hadiah berupa uang yang ditaruh di dalam amplop berwarna merah, dari mereka yang sudah berkeluarga untuk diberikan kepada anak-anak atau saudara terdekat. Tradisi angpao ini biasanya dilaksanakan saat menjelang malam Imlek atau pada pagi harinya saat bersembahyang.
Namun tahukah kalian detikers? Bahwa angpao ternyata memiliki sejarah dan makna filosofis mendalam, serta menjadi identitas budaya yang menyatukan ikatan sosial. Pasalnya, bagi orang Tionghoa, nilai angpao tidak diukur dari jumlah uangnya, melainkan digunakan sebagai simbol harapan akan keberuntungan dan kesejahteraan dalam hidup mereka.
Berikut asal-usul serta makna filosofis dibalik tradisi paling ikonik saat Imlek, yakni angpao. Seperti yang telah dirangkum oleh dari berbagai sumber. Yuk, simak informasi selengkapnya!
Bagaimana Sejarah Angpao?
Dalam bahasa Mandarin, angpao disebut sebagai hóngbāo (红包), yakni amplop merah yang berisikan uang dengan nominal angka-angka keberuntungan, seperti kelipatan angka 2, 3, 6, 8, dan juga 9. Biasanya amplop merah ini diberikan sebagai hadiah pada berbagai perayaan besar, terutama Tahun Baru Imlek.
Lalu, bagaimana dengan asal-usul angpao? Konon, ada sebuah cerita legenda yang diyakini telah hidup sejak zaman kuno, yang berkaitan dengan ‘Nian’. Nian adalah makhluk mitologi dari Tiongkok yang dipercaya membawa teror bahkan mengancam keselamatan manusia pada masa lampau. Menurut legenda, Nian hanya muncul setahun sekali, yakni pada malam pergantian tahun. Nian digambarkan sebagai sosok monster mengerikan yang takut dengan warna-warna mencolok, terutama merah.
Sejak saat itulah, tepatnya sejak zaman Dinasti Qin (221-206 SM), angpao sudah digunakan sebagai benda sakral untuk melindungi rakyat Tionghoa dari ancaman Nian. Pada mulanya, angpao berbentuk uang koin yang diikat dengan benang merah, yang dipercaya bisa mengusir roh jahat.
Namun seiring berjalannya waktu, tradisi ini mengalami perubahan. Tradisi angpao kemudian digantikan dengan uang kertas yang dimasukkan ke dalam amplop merah sebagai jimat keberuntungan serta simbol harapan baik bagi manusia.
Apa Makna Angpao Pada Perayaan Imlek?
Dalam sejarah masyarakat etnis Tionghoa, angpao memegang nilai-nilai leluhur karena memiliki makna filosofis yang mendalam. Pada perayaan Imlek sendiri, tradisi angpao dilakukan sebagai bentuk ungkapan dari kebaikan hati dan doa restu. Warna merah pada angpao juga dipercaya dapat membawa keberuntungan dan energi positif bagi penerimanya.
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.
Hingga saat ini, tradisi angpao telah diwariskan secara turun-temurun, yang mana selalu hadir pada upacara pernikahan, acara kelahiran, hingga momen-momen spesial lainnya. Angpao digunakan sebagai simbol doa dan harapan baik di kehidupan orang Tionghoa.
Tradisi pemberian angpao dilakukan kepada saudara, kerabat, serta anggota keluarga lain yang memiliki usia lebih muda dari orang yang memberi, dengan harapan agar mereka dapat tumbuh dengan baik dan mendapat keberkahan di setiap langkahnya.
Demikian asal-usul dan makna filosofis angpao pada perayaan Imlek. Semoga informasinya bermanfaat ya, detikers!






