Keluarga Pelatih Valencia Kirim Surat Haru: Labuan Bajo Selalu Kami Kenang

Posted on

Manggarai Barat

Keluarga pelatih sepakbola wanita Valencia CF, Martin Carreras Fernando, mengirim surat untuk warga Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Fernando dan tiga anaknya tewas dalam tragedi kapal wisata Putri Sakinah yang tenggelam di Selat Pulau Padar, Taman Nasional Komodo, pada 26 Desember 2026.

Surat tertanggal 13 Februari 2026 itu dikirim dari Valencia, Spanyol. Isinya memuat ucapan terima kasih kepada masyarakat Labuan Bajo sekaligus kesan positif keluarga Fernando selama berada di daerah tersebut.

Surat tersebut dibagikan Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gabungan Pengusaha Wisata Bahari dan Tirta Indonesia (Gahawisri) Labuan Bajo, Budi Widjaja, kepada. Budi diketahui mendampingi keluarga korban selama berada di Labuan Bajo.

“Atas nama keluarga, kami ingin menyampaikan -sekali lagi- rasa terima kasih kami yang tulus kepada masyarakat Labuan Bajo. Ini bukanlah ucapan terima kasih yang baru atau sesaat, melainkan kelanjutan dari perasaan yang muncul sejak awal dan tetap kami rasakan hingga kini,” demikian kutipan awal surat tersebut, dilihat, Senin (16/2/2026).

Dalam surat itu, keluarga mengenang sambutan dan perhatian masyarakat Labuan Bajo selama mereka berada di destinasi pariwisata superprioritas tersebut. “Sambutan, kedekatan, dan perhatian yang kami terima akan selalu kami kenang,” demikian kutipan surat tersebut.

Keluarga Fernando secara khusus menyampaikan penghargaan atas perhatian komunitas Kristen maupun Muslim di Labuan Bajo.

“Secara khusus, kami ingin menyampaikan penghargaan atas sikap komunitas Muslim dan komunitas Kristen di pulau ini, yang menerima kami dengan penuh rasa hormat dan kemurahan hati,” ujar keluarga dalam surat itu.

Selain itu, keluarga juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah dan lembaga negara yang terlibat dalam proses pencarian korban kapal tenggelam di Labuan Bajo. Dalam ungkapan tersebut, keluarga secara khusus menyebut Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo, Stephanus Risdiyanto, atas pendekatan manusiawi dan profesionalitasnya.

Keluarga turut mengucapkan terima kasih kepada para operator lokal, asosiasi pariwisata, asosiasi penyelam, relawan, masyarakat Labuan Bajo, hingga komunitas internasional yang dengan berbagai cara telah mendampingi dan membantu mereka sepanjang proses pencarian korban.

Pada bagian akhir surat, keluarga Fernando menyebut Labuan Bajo akan selalu mereka kenang. Bukan hanya sebagai lokasi tragedi, tetapi juga sebagai tempat mereka merasakan penghormatan dan dukungan.

“Labuan Bajo akan selalu kami kenang, tidak hanya sebagai tempat terjadinya sebuah tragedi, tetapi juga sebagai tempat di mana kami menemukan rasa hormat, dukungan, dan kemanusiaan,” tulis keluarga di pengujung surat tersebut.