Denpasar –
Israel menegaskan tak akan menarik pasukannya dari Jalur Gaza sebelum Hamas dilucuti sepenuhnya. Pelucutan senjata menjadi syarat mutlak yang dipatok Tel Aviv dalam fase kedua gencatan senjata yang tengah berjalan.
Penegasan itu disampaikan Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, saat fase kedua gencatan senjata Gaza mulai diberlakukan. Fase ini didasarkan pada rencana perdamaian usulan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengakhiri perang. Dalam skema tersebut, Hamas diwajibkan melucuti senjata, sementara Israel menarik mundur pasukannya dari wilayah Gaza.
“Kami tidak akan pernah membiarkan Hamas tetap ada, baik dengan senjata maupun terowongan. Slogannya sederhana: hingga terowongan terakhir,” kata Katz dalam konferensi yang digelar surat kabar Israel, Yedioth Ahronoth, seperti dilansir Anadolu Agency, Rabu (18/2/2026).
“Kami tidak akan bergeser dari Garis Kuning satu milimeter pun sampai Hamas dilucuti, dari senjatanya, dari terowongan, dan dari hal-hal lainnya,” tegasnya.
Garis Kuning yang dimaksud Katz merujuk pada garis lokasi mundurnya pasukan Israel di Jalur Gaza bagian timur pada fase pertama gencatan senjata. Pada fase kedua yang dimulai sejak bulan lalu, pasukan Israel diharuskan mundur secara bertahap dari garis tersebut.
Sekretaris Kabinet Israel, Yossi Fuchs, pada Senin (16/2), menyatakan pemerintah Tel Aviv memberi waktu 60 hari kepada Hamas untuk melucuti senjata. Fuchs juga mengancam akan melanjutkan perang jika Hamas tidak memenuhi tuntutan tersebut.
Gencatan senjata antara Israel dan Hamas berlaku sejak 10 Oktober 2025 dan mengakhiri sebagian besar pertempuran di Jalur Gaza. Namun dalam praktiknya, Israel masih melanjutkan serangan udara dan penghancuran di wilayah kantong Palestina itu, yang berulang kali disebut melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Perlucutan senjata Hamas menjadi bagian dari fase kedua gencatan senjata yang diumumkan mulai berlaku pada pertengahan Januari lalu. Selain itu, fase ini mencakup penarikan pasukan Israel lebih lanjut dari Jalur Gaza, dimulainya rekonstruksi Gaza, masuknya tambahan bantuan kemanusiaan, serta pembentukan komite administratif untuk mengelola wilayah tersebut.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
Perluas Produksi Senjata Dalam Negeri
Dalam laporan Yedioth Ahronoth, Katz juga menyerukan agar Israel memperluas produksi senjata dalam negeri demi memastikan kemampuan mempertahankan diri secara mandiri. Ia menyinggung persaingan global dalam pengadaan amunisi serta sejumlah perselisihan dengan sekutu selama masa perang sebagai alasan.
Katz memuji AS sebagai sekutu hebat yang mendukung Israel dalam menghadapi konflik multi-front, namun juga menyinggung adanya perselisihan yang memiliki dampak.
Ia mengumumkan Kementerian Pertahanan telah memutuskan meluncurkan inisiatif jangka panjang yang untuk sementara dinamai Perisai Israel. Program tersebut akan menambah 350 miliar Shekel ke dalam anggaran pertahanan selama satu dekade ke depan.
Katz menyebut rencana itu didasarkan pada kepercayaan yang kuat pada kekuatan ekonomi. “Tidak ada keamanan tanpa ekonomi, dan tidak ada ekonomi tanpa keamanan,” cetusnya.
