Lombok Utara –
Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal, berencana mendatangkan cabai dari luar Bumi Gora untuk menekan lonjakan harga di pasar selama Ramadan 1447 Hijriah. Hal itu disampaikan Iqbal saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Induk Tanjung, Lombok Utara, Rabu (25/2/2026).
Iqbal mengatakan harga cabai sejumlah daerah di NTB masih berada di atas Harga Acuan Pemerintah (HAP) selama Ramadan 1447 Hijriah. Iqbal berkomitmen akan terus memantau harga cabai di NTB.
“Cabai di sini masih di atas HAP, tetapi relatif stabil di angka Rp 100 ribu, ada yang Rp 90 ribu. Sementara di Mataram di beberapa pasar sudah sampai Rp 200 ribu. Ini yang mau kami lihat apa penyebabnya,” kata Iqbal di Pasar Tanjung, Rabu (25/2/2026).
Menurut Iqbal, kenaikan harga dipengaruhi oleh faktor cuaca dan terbatasnya stok. Akibatnya, terjadi ketidakseimbangan antara permintaan dan ketersediaan barang di pasaran.
Sebagai langkah intervensi, Iqbal berujar, Pemprov NTB juga menggelar pasar murah dengan menyediakan sejumlah komoditas dari Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog), seperti beras, minyak goreng, dan gula dengan harga standar. “Itu kami jual dengan harga standar supaya bisa ikut memengaruhi pasar,” katanya.
Selain itu, pemerintah daerah tengah mempertimbangkan opsi mendatangkan cabai dari luar NTB. Upaya tersebut diharapkan dapat menambah pasokan dan menekan harga di tingkat konsumen selama Ramadan hingga Idulfitri 1447 hijriah.
“Itu salah satu yang sedang kami dorong. Mungkin dalam waktu dekat, jumlahnya belum kami tentukan, tetapi paling tidak sesuai kebutuhan menjelang lebaran supaya bisa memengaruhi harga,” jelas Iqbal.
Menurut Iqbal, Pemprov NTB masih menghitung biaya untuk memasok cabai dari luas NTB dengan mempertimbangkan biaya distribusi paling murah. “Ada beberapa pilihan, sedang kami pertimbangkan yang paling murah ongkos angkutnya,” tuturnya.
Direktur Penganekaragaman Konsumsi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Rinna Syawal, mengatakan harga cabai di beberapa wilayah NTB mulai menunjukkan tren penurunan. Secara nasional, Rinna berujar, harga cabai memang masih berada di atas HAP yang ditetapkan sebesar Rp 57 ribu per kilogram (kg).
“Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di NTB, melainkan juga di sejumlah daerah lain di Indonesia. Kalau di daerah lain ada tiga kabupaten yang menurut data kami cukup tinggi, Lombok Timur, Lombok Tengah, Lombok Barat, tetapi kemarin dan hari ini sudah turun meskipun masih di atas HAP cabai,” terang Rinna.
Menurut Rinna, solusi jangka pendek yang dapat dilakukan adalah mendistribusikan cabai dari daerah surplus ke daerah defisit. Sejumlah daerah, seperti Jawa Timur (Jatim), Jawa Tengah (Jateng), dan Sulawesi dapat menjadi sumber pasokan ketika masa panen tiba. “Kalau mereka panen, kami bisa membantu fasilitasi distribusinya untuk dibawa ke daerah yang membutuhkan,” jelas Rinna.
