Denpasar –
Sejak pagi warga SMPN 13 Denpasar sudah disibukkan dengan upacara penyucian bangunan baru di sekolah mereka. Gamelan ditabuh semarakkan perayaan yang bertepatan dengan Tumpek Krulut itu. Seusai khusyuk bersembahyang, mereka bergegas mengumpulkan sampah organik sisa upacara.
Guru dan siswa OSIS bekerja sama membawanya ke teba modern di belakang merajan sekolah. Ketiga siswa itu membuka teba modern yang tertanam di bawah tanah dan meletakkan canang bekas masuk ke lubangnya. Setiap siswa SMPN 13 Denpasar memang dibiasakan untuk bertanggung jawab atas sampah yang mereka hasilkan sendiri.
“Kalau kita buang ke TPA kan banyak banget numpuknya. Jadi, kita bikin teba modern untuk pengolahan organiknya. Nunggu 9-12 bulan untuk jadi pupuk dan dipakai ke tanaman sekitar sini. Saya percaya pepatah yang bilang apa yang kita berikan ke alam, bakal ke diri kita sendiri,” tutur salah satu siswa, Diah Cahyani, ditemui, Sabtu (3/1/2026).
Supaya berjalan efektif, sampah botol plastik, kertas, karton hingga organik sudah langsung dipisahkan begitu selesai konsumsi. Siswa bisa meletakkannya di titik-titik yang tersebar di sekolah. Kesadaran menciptakan lingkungan yang nyaman untuk bersama dibangun dari kelas 7 melalui edukasi harian maupun ekstrakurikuler.
Siswa memperagakan pembuatan eco-enzyme. (Foto: Ni Komang Ayu Leona Wirawan) |
“Minggu pertama itu terasa susah. Tapi, sebulanan jadi terbiasa. Kita di rumah juga melakukan pemilahan. Sampah anorganik nanti bisa dijual ke pengepul,” sambung Diah.
Tidak berhenti pada pemilahan dan teba modern, SMPN 13 Denpasar juga berinovasi membuat olahan eco enzyme berupa sabun cair dan batang. Pada kesempatan lain, ditunjukkan proses pembuatan eco-enzyme hingga sabun itu.
Sebagian siswa memperagakan pembuatan eco-enzyme yang terbuat dari kulit buah, molase, dan air tersebut. Siswa dengan cekatan memotong kulit buah hingga mencampurkan seluruh bahan sesuai arahan guru matematika mereka, Nurul Ekawati.
Sekitar 10 kilogram eco-enzyme bisa dihasilkan dalam sekali pembuatan dan bisa dipanen dalam 3 bulan. Menurut Kepala SMPN 13 Denpasar, Ni Made Sukarini, edukasi lingkungan dimulai sejak kelas 7 dengan belajar memilah dan membuat eco enzyme. Berlanjut ke kelas 8 dan 9 dengan belajae membuat sabun cair dan batang.
“Eco-enzyme ini bisa digunakan untuk membersihkan selokan atau siram ke tumbuhan. Tinggal dituang saja. Tidak membahayakan hewan. Pertama kali bikin di rumah juga pada bingung, dikira minuman sampai saya jelaskan manfaatnya. Sekarang biasa dipakai Mama di rumah,” cerita Tian selagi berkutat dengan adukan seluruh bahan, Selasa (27/1/2026).
Sebagian lainnya memperagakan pembuatan sabun cair dan batang yang bahan utamanya dari eco enzyme. Biasanya kegiatan ini dilakukan pada awal semester baru. Hasil jadinya pun dibeli orang tua siswa melalui pameran sekolah.
“Tujuan kami melaksanakan ini adalah membiasakan anak bagaimana membuang sampah sesuai tempatnya. Kemudian, pemanfaatan sampah untuk bisa menjadi sesuatu yang berguna. Rencananya ke depan juga akan mengolah kain perca sebagai keterampilan anak-anak,” jelas Sukarini.
Sukarini menyampaikan kegiatan edukasi ekologisnya tersebut bermula dari kesadaran kondisi lingkungan sekolah yang luas namun gersang. Sejumlah guguran dedaunan dari pohon liar di sekitar sekolah kemudian dikumpulkan dan dimasukkan ke lubang.
“Tadinya setiap tanaman yang ditanam di sini itu kering dan mati. Kita buatkan lubang dan arahkan ke situ. Ketika sampah membusuk, jadi humus. Baru bisa kita tanam pohonnya di situ,” kenang Sukarini.
Upaya coba-coba dari guru dan staf sekolah setiap pembersihan tersebut rupanya mampu menghasilkan kompos guna menyuburkan lingkungan sekolah. Kegiatan sekolah yang ramah lingkungan pun berlanjut hingga hari ini. Seluruh warga sekolah terus meningkatkan pengetahuan dan kapasitas di bidang lingkungan hidup. Bahkan alumni tetap dibuka ruang kolaborasi inovasi lingkungan bersama pihak sekolah.







