Denpasar –
Pemerintah Kota Denpasar menggelar Gebyar Pelayanan KB Gratis dengan menggandeng 19 fasilitas kesehatan (faskes) dan bidan praktik mandiri. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-238 Kota Denpasar.
Program tersebut diprakarsai Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Denpasar, dengan fokus pelayanan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP).
“Kita mencanangkan kick-off tentang pemantauan pelayanan KB pasca-salin. Jadi, sasaran kami lebih banyak ibu-ibu yang baru melahirkan. Jadi layanan kontrasepsinya hanya implan dan IUD,” tutur Kepala Dinas DP3AB2KB I Gusti Agung Sri Wetrawati di Klinik Catur Warga, Jalan Gatot Subroto IV Nomor 6, Denpasar, Kamis (19/2/2026).
Wetrawati menyebutkan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Provinsi Bali menyediakan 600 layanan IUD (Intra Uterine Device), 400 layanan implan, dan 50 layanan pencabutan implan. Alokasi stok layanan tersebut didistribusikan kepada faskes dan bidan praktik mandiri yang membutuhkan secara gratis.
“Misal mereka nggak pakai alat kontrasepsi, anaknya baru 6 bulan, sudah hamil lagi. Jadi ASI (air susu ibu) tidak maksimal dan tumbuh kembang anak terganggu. Bukan kami membatasi mereka memiliki anak, tapi mengatur jarak kelahiran,” tuturnya.
Senada dengan itu, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali, Ni Luh Gede Sukardiasih, mengatakan kesadaran masyarakat terhadap perencanaan keluarga semakin meningkat.
“Ini tadi, umur 28 tahun sudah punya dua anak, sementara tidak ingin punya anak lagi. Nah itu, artinya mereka sudah menyadari bahwa betapa pentingnya perencanaan kehidupan berkeluarga. Jadi, nanti mau anaknya tiga kah, empat kah, tergantung kesiapan mereka,” jelas Sukardiasih.
Ia menambahkan, fokus program keluarga berencana saat ini bukan lagi pada slogan pembatasan jumlah anak, melainkan pada upaya mewujudkan keluarga yang sehat dan berkualitas.
“Tidak ada lagi jargon, dua anak, laki perempuan sama saja, kan dulu begitu. Kalau sekarang nggak. Bagaimana mewujudkan keluarga berkualitas, dua anak sehat itu lebih baik. Itu maksudnya,” tegas Sukardiasih.
