Mataram –
Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat tingkat okupansi hotel di NTB sepanjang 2025 terus mengalami penurunan. Penurunannya mencapai 20 persen, bahkan lebih.
Minimnya atraksi budaya serta dampak efisiensi anggaran menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi kinerja hotel-hotel di daerah tersebut.
“Penurunannya sampai 20 persen, ini jelas kerugian. Terutama hotel-hotel yang banyak menggantungkan dari MICE. Kalau nggak ada MICE sama sekali, dan hanya mengandalkan kamar saja, okupansi kita sampai 30 persen, nggak lebih,” kata Pembina dan Penasehat PHRI NTB, I Gusti Lanang Patra, saat dikonfirmasi di Mataram, Kamis (12/2/2026).
Lanang menjelaskan, hotel-hotel yang selama ini bergantung pada kegiatan meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE) menjadi yang paling terdampak. Menurunnya aktivitas tersebut membuat tingkat hunian kamar ikut tertekan.
Untuk tetap bertahan, para pengusaha hotel di NTB pun berupaya mencari pangsa pasar lain di luar MICE. Salah satunya dengan membidik penyelenggaraan event-event berskala besar, seperti seminar atau pertemuan di bidang kesehatan.
“Kami mencari pasar-pasar lain, di luar MICE. Seperti asosiasi seperti IDI. Itu kan banyak event-eventnya, banyak spesialisnya juga. Jadi setiap spesialis itu wajib mengadakan simposium, temu ilmiah, dan pesertanya itu nggak sedikit, tapi ribuan di seluruh Indonesia,” bebernya.
Minim Atraksi Budaya
Selain faktor efisiensi anggaran, Lanang menilai minimnya atraksi budaya turut berpengaruh terhadap rendahnya tingkat hunian kamar, khususnya pada lama tinggal wisatawan di hotel-hotel berbintang di NTB.
“Mengenai lama tinggal, padatnya jadwal wisatawan untuk bepergian itu terbatas sekali. Tidak punya pagelaran seni, hanya objek (wisata) yang dikunjungi, itu-itu saja. Beda dengan Bali, disana ada pagelaran, kesenian, pameran, sehingga lama (wisatawan menginap),” tuturnya.
Menurut Lanang, optimalisasi atraksi budaya akan berdampak langsung pada peningkatan tingkat hunian kamar. “Harus dibangun, baru bisa lama masa tinggalnya. Mereka ini datang semalam dua malam, hanya melihat objek-objek itu (itu saja),” jelasnya.
“Itulah sebabnya, kita terus mendorong supaya wisata budaya ini terus digerakkan. Atraksi-atraksi budaya dan penambahan objek-objek wisata,” sambungnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) NTB mencatat rata-rata lama menginap (RLM) tamu hotel pada Desember 2025 mengalami penurunan 0,05 hari dibandingkan November 2025, menjadi 1,85 hari.
Jika dilihat berdasarkan kelas hotel bintang, RLM tertinggi tercatat pada hotel bintang lima dengan rata-rata menginap 2,65 hari. Sementara itu, RLM terendah terdapat pada hotel bintang satu dengan rata-rata lama menginap hanya 1,12 hari.
