Heboh Pabrik Gas Oplosan hingga Kesurupan Massal Siswi SMP

Posted on

Denpasar

Salah satu pemicu kelangkaan gas LPG 3 kilogram (kg) yang terjadi di Bali belakangan salah satu pemicunya disebut-sebut lantaran banyak gudang LPG oplosan yang beroperasi. Politikus I Gusti Putu Artha mengungkapkan hal tersebut. Kabar mengenai gudang atau pabrik LPG oplosan menjadi salah satu kabar terpopuler selama sepekan terakhir di Bali.

Selanjutnya, Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana menyebut masalah sampah di Bali bisa menurunkan perolehan devisa negara. Sebab, Bali yang merupakan destinasi wisata dunia akan mendapat sorotan mengenai sampah. Dampaknya, menjadi kampanye negatif.

Makan Bergizi Gratis (MBG) bermasalah terjadi Karangasem. Siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) 5 Karangasem mendapatkan menu program MBG tak layak konsumsi. Lauk berupa sate lilit ayam yang diterima siswa sudah basi dan nasinya kering.

Sementara itu, kesurupan massal terjadi di SMPN 2 Marga, Tabanan. Belasan siswi SMPN 2 Marga, Tabanan, Bali, mengalami kerauhan atau kesurupan massal pada Rabu (4/2/2026). Peristiwa itu terjadi saat sekolah menggelar kegiatan literasi internal.

Berikut rangkuman berita terpopuler selama sepekan terakhir dalam rubrik Bali Sepekan di.

Pabrik Gas Oplosan Diduga Bikin LPG Melon Langka

Kelangkaan gas LPG 3 kilogram atau gas melon kembali terjadi di Bali. Politikus asal Bali, I Gusti Putu Artha, mengaitkan kondisi tersebut dengan dugaan maraknya praktik pengoplosan gas yang disebut berlangsung di tiga wilayah, yakni Tabanan, Badung, dan Gianyar.

Dalam unggahan di akun media sosial pribadinya, ia melampirkan bukti video lokasi pabrik gas oplos itu. Ia bahkan sempat mendokumentasikan aktivitas di dalam pabrik tersebut dari jauh.

Artha menjelaskan jika dirinya telah melaporkan aktivitas ini ke Polda Bali sejak 3 September 2025. Namun, belum ada respons.

“Jadi dokumen saya itu terdiri dari kajian sekitar 3 halaman baik dari sisi tingkat kerugian pajak negara, keuntungan mereka, jumlah gas yang dioplos dan hasil lengkap sampai bagaimana modus operandi gas itu,” kata mantan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI itu kepada, Sabtu (7/2/2026).

Artha membagi ada dua pihak yang terlibat yakni agen resmi dan unsur preman. Ia juga menduga adanya keterlibatan pihak kepolisian dalam kasus ini.

Menurut sumber yang dimiliki Artha, salah satu pelaku mengaku menyetorkan uang sebesar Rp 350 juta per bulan ke Jakarta.

Setelah semua bukti ia lampirkan ke Polda Bali, Artha kembali mendatangi tiga lokasi tersebut. Ternyata ada yang sudah tidak beroperasi dan diduga pindah tempat.

Kabid Humas Polda Bali Kombes Ariasandy menyampaikan pihaknya telah mengecek lokasi yang diduga menjadi pabrik oplos gas.

“Tempat sesuai video pada postingan media sosial Facebook tersebut adalah bekas TKP pengoplosan gas LPG yang sebelumnya dilakukan penindakan oleh Satreskrim Polres Gianyar,” kata Ariasandy.

Ariasandy menjelaskan bahwa kondisi di lokasi tersebut saat ini terbengkalai yang dibuktikan dengan keadaan banyak rerumputan dan sampah-sampah daun.

“Dari pencocokan video sesuai postingan pada media sosial Facebook dengan kondisi saat ini dipastikan video tersebut adalah video lama pada saat sebelum dilakukan penindakan berupa penggerebekan dan penangkapan oleh Satreskrim Polres Gianyar yang saat ini baru diposting kembali,” jelas Ariasandy

Sampah Bali Bisa Turunkan Devisa Negara

Menteri Pariwisata (Menpar), Widiyanti Putri Wardhana, menyatakan Indonesia berpotensi kehilangan hingga 3 persen devisa jika destinasi wisata, khususnya di Bali, kotor akibat sampah sehingga wisatawan enggan berkunjung. Hal ini dikarenakan Bali sebagai penyumbang devisa pariwisata terbesar nasional.

Widiyanti mengapresiasi langkah Kementerian Lingkungan Hidup (LH) serta pemerintah daerah dalam menangani persoalan sampah.

“Bisa 3 persen lebih itu dampaknya penurunan devisa dan kunjungannya. Jadi kami dari Kementerian Pariwisata sangat berterima kasih mengapresiasi kementerian lingkungan hidup dan semua pemda juga dan semua yang terlibat,” ujarnya saat kunjungan kerja ke Pantai Kedonganan, Badung, Jumat (6/1/2026).

Namun, ia menegaskan bahwa upaya ini tidak boleh berhenti hanya pada kegiatan seremonial melainkan harus dijadikan kebiasaan sehari-hari.

“Harus terus-menerus. Dan apabila dimulai dari sekolah jadi kebiasaan sehari-hari membersihkan destinasi atau daerah sekolah,” lanjutnya.

Sate MBG Basi di Karangasem

Siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) 5 Karangasem mendapatkan menu program MBG tak layak konsumsi. Lauk berupa sate lilit ayam yang diterima siswa sudah basi dan nasinya kering.

Kepala SDN 5 Karangasem, I Putu Arnawa, mengatakan menu MBG tersebut tiba di sekolah pada pagi hari. Sebelum diberikan ke siswa, petugas dari sekolah mengecek makanan terlebih dahulu.

Siswa SDN 5 Karangasem menyantap bekal setelah menu MBG tidak layak dikonsumsi konsumsi karena sate basi dan nasi kering, Rabu (4/2/2026) (Foto: I Wayan Selamat Juniasa).

Setelah dicek, terang Arnawa, ditemukan ada sate yang kurang matang dan sedikit masam. Beberapa nasi juga kering sehingga tidak layak untuk dikonsumsi. Selain sate dan nasi, menu MBG juga berisi sayur urap dan tahu.

“Karena tidak layak dikonsumsi oleh anak-anak, saya kemudian melapor ke pihak SPPG. Di saat yang sama, dari pihak SPPG juga melapor agar menu sate tidak dikonsumsi karena sudah masam,” kata Arnawa, Rabu (4/2/2026).

SPPG Subagan 2, penyaji menu MBG untuk SDN 5 Karangasem, memohon maaf atas menu MBG tak layak konsumsi.

“Kami mohon maaf, ini akan jadi pelajaran buat kami agar tidak terulang untuk ke depannya,” kata Kepala SPPG Subagan 2, Aryasa, saat ditemui di SDN 5 Karangasem, Rabu (4/2/2026).

Aryasa mengungkapkan sate ayam lilit yang dijadikan lauk menu MBG sudah disiapkan sejak Selasa (3/2/2026) sore. Saat itu, olahan daging ayam juga dicampur dengan kelapa. Kemudian, sate mulai digoreng oleh petugas di SPPG pada Rabu (4/2/2026) sekitar pukul 03.00 Wita.

“Sebelum didistribusikan ke sekolah, kami sudah cek dan layak dikonsumsi. Tetapi ternyata, setelah tiba di sekolah, sate ayam lilitnya sedikit masam,” ujar Aryasa.

Oleh sebab itu, Aryasa meminta kepada sekolah untuk tidak mengonsumsi sate ayam lilit tersebut. Menurut Aryasa, penyebabnya kemungkinan adalah campuran kelapa pada olahan daging ayam.

“Ini pelajaran buat kami dan menu sate ayam lilit kami anggap gagal sehingga untuk ke depannya menu ini kemungkinan tidak kami pakai,” ucap Aryasa.

Kesurupan Massal di SMPN 2 Marga

Belasan siswi SMPN 2 Marga, Tabanan, Bali, mengalami kerauhan atau kesurupan massal pada Rabu (4/2/2026). Peristiwa itu terjadi saat sekolah menggelar kegiatan literasi internal.

Plt Kepala SMPN 2 Marga, Ni Made Dian Kurnia, menjelaskan kejadian bermula ketika kegiatan literasi diawali dengan persembahyangan bersama. Saat prosesi berlangsung, salah satu siswi tiba-tiba mengalami kerauhan dan langsung dibopong ke ruang guru.

Namun, situasi justru berkembang di ruang guru. Siswi tersebut berteriak histeris. Tak lama berselang, belasan siswi lain yang masih berada di lapangan ikut berteriak histeris.

“Salah satu siswi kemudian mengatakan ‘kebus nira (panas tubuh saya),” ujar Dian Kurnia.

Menurut Dian, saat ditanya oleh salah satu guru, siswi yang mengalami kerauhan menunjuk pelinggih berupa bebaturan yang berada di sebelah barat area sekolah.

Dari penelusuran pihak sekolah, bebaturan tersebut diketahui sebagai tempat pemujaan yang selama ini tidak diperbolehkan untuk menghaturkan canang atau banten menggunakan dupa.

“Selama ini memang tidak boleh mebanten menggunakan dupa di lokasi itu. Kemungkinan murid-murid baru tidak mengetahui hal ini. Dan ini kejadian pertama kali di sekolah kami,” tegasnya.

Untuk menenangkan para siswi, pihak sekolah kemudian menghubungi pemangku. Setelah situasi dinilai terkendali, sekolah memutuskan untuk memulangkan seluruh siswa.

“Agar kesurupan tidak merembet ke siswa lain, akhirnya kami ambil keputusan untuk memulangkan siswa setelah pemberian MBG,” tegas Dian.

Pasca-kejadian tersebut, pihak sekolah berencana menghaturkan upakara sebagai bentuk permohonan maaf secara niskala.