Badung –
Sebuah video yang memperlihatkan ketegangan antara seorang warga negara asing (WNA) dengan warga lokal di Desa Tumbak Bayuh, Kecamatan Mengwi, Badung, Bali, viral di media sosial. Turis pria tersebut mendatangi rumah warga, memprotes suara musik pertunjukan joged bumbung yang sedang berlangsung dalam rangkaian upacara adat.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
“Waktu itu kejadiannya tanggal 4 Februari sekitar jam 10 malam saat acara tiga bulanan anak saya, kalau secara tradisional di sini ngepat bulanan. Tamu itu memang sewa vila di seberang jalan depan,” kata penyelenggara acara, Utari Laksmi, saat ditemui di rumahnya, Sabtu (7/2/2026).
Dalam rekaman video, tampak WNA tersebut meminta agar volume suara musik dikecilkan sementara warga menegaskan bahwa kegiatan itu adalah bagian dari tradisi. Meski sempat terjadi adu mulut, sejumlah tetangga dan warga di lokasi berusaha menenangkan situasi agar tidak terjadi keributan fisik.
“Bule itu memang sempat protes dan tanya sampai kapan musik ini dimainkan karena dia merasa terganggu suaranya. Syukurnya tidak sampai ribut, setelah bicara dia langsung kembali lagi ke tempat tinggalnya,” ujar Utari.
Utari menduga protes tersebut muncul karena ketidaktahuan wisatawan terhadap adat istiadat setempat yang sedang berjalan di lingkungan permukiman. Pihak penyelenggara juga tidak menyangka rekaman kejadian itu akan viral lantaran awalnya hanya didokumentasikan oleh kru kelompok kesenian asal Tabanan.
“Mungkin dia tidak tahu dan tumben melihat ada acara seperti ini di rumah warga jadi dia merasa sensitif. Namanya turis kan tidak semua bisa menerima, ada yang senang lihat tradisi, ada juga yang memang sensitif,” imbuhnya.
Aparat desa setempat bersama Bhabinkamtibmas telah mendatangi lokasi untuk memastikan situasi tetap kondusif dan tidak ada konflik berkepanjangan. Penyelenggara upacara pun bersikap kooperatif dengan membatasi durasi pertunjukan setelah adanya komplain dari tamu asing tersebut.
“Kami sudah sampaikan ke dia, tinggal satu penari saja yang tampil setelah itu acara selesai, itu jam 10 malam terakhir. Kami tetap lanjut tapi tidak sampai lewat jam 12 malam dan sudah dijelaskan ke aparat kalau tidak ada keributan,” pungkas Utari.






