Ekspor Bali 2025 Turun 10,65%, Industri Pengolahan Tertekan

Posted on

Denpasar

Kinerja ekspor Bali sepanjang 2025 melemah. Nilai ekspor Provinsi Bali tercatat turun 10,65 persen secara tahunan, dengan sektor industri pengolahan sebagai penyumbang terbesar yang justru mengalami tekanan paling dalam.

Nilai ekspor barang Provinsi Bali sepanjang 2025 tercatat mencapai US$ 565,48 juta. Angka tersebut menurun 10,65 persen dibanding tahun sebelumnya.

“Ini secara kumulatif dari Januari sampai Desember 2025 itu mengalami penutrunan sebesar 10,65 persen,” ujar Statistisi Ahli Madya BPS Bali, I Made Agus Adnyana, Senin (2/1/2026).

Berdasarkan sektor, ekspor Bali sepanjang 2025 masih didominasi industri pengolahan dengan nilai mencapai US$ 493,28 juta. Namun, sektor ini tercatat mengalami penurunan sebesar 13,73 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Sektor pertambangan mencatat nilai ekspor relatif kecil, yakni sebesar US$ 0,64 juta, dan juga mengalami penurunan sebesar 14,63 persen secara tahunan.

Di tengah tekanan tersebut, sektor pertanian justru menunjukkan kinerja positif. Nilai ekspor sektor ini tumbuh 18,56 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan didominasi oleh komoditas perikanan.

“Pertanian nilai ekspornya meningkat sebesar 18,56 persen dibandingkan tahun lalu dengan nilai sebesar US$ 71,56 juta,” katanya.

Dari sisi negara tujuan, Amerika Serikat masih menjadi tujuan utama ekspor Bali sepanjang 2025. Posisi kedua ditempati Tiongkok, disusul Australia, Jerman, dan Jepang.

Dari lima negara tujuan utama tersebut, hanya Jerman yang mencatat pertumbuhan positif. Nilai ekspor Bali ke Jerman mencapai US$ 23,94 juta atau meningkat 18,53 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Dari kelima tujuan ekspor Bali ini hanya ke Jerman ini yang meningkat sebesar 15,83 peresen dengan komoditas utama adalah logam mulia dan perhiasan,” imbuhnya.

Berdasarkan komoditas, ikan, krustasea, dan moluska masih menjadi komoditas ekspor utama Bali sepanjang 2025. Selanjutnya diikuti logam mulia dan perhiasan atau permata, serta pakaian dan aksesorisnya bukan rajutan. Seluruh komoditas tersebut tercatat mengalami penurunan.

Sebaliknya, komoditas kertas, karton, dan barang daripadanya menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan 37,62 persen dan nilai ekspor mencapai US$ 45,84 juta.

Ekspor buah-buahan mencatat lonjakan paling signifikan sepanjang 2025, yakni meningkat hingga 256,58 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Tiongkok menjadi negara tujuan utama ekspor komoditas tersebut.

Selain ekspor, nilai impor barang Provinsi Bali sepanjang 2025 juga tercatat mengalami penurunan. Secara kumulatif atau c-to-c, impor Bali turun sebesar 5,50 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Impor barang Provinsi Bali selama tahun 2025 itu mencapa US$ 163,98 juta. Ini secara c to c akumulatif mengalami penurunan sebesar 5,5 persen,” jelasnya.

Berdasarkan negara asal, Amerika Serikat menempati posisi pertama sebagai negara pemasok impor Bali dengan komoditas utama berupa mesin dan peralatan mekanis. Posisi berikutnya ditempati Tiongkok, Jerman, Australia, dan Thailand.

Dari sisi komoditas, impor Bali sepanjang 2025 masih didominasi mesin dan peralatan mekanis beserta bagiannya yang sebagian besar berasal dari Amerika Serikat. Selanjutnya logam mulia serta perhiasan atau permata yang banyak diimpor dari Thailand.

Selain itu, Bali juga mengimpor mesin dan perlengkapan elektrik dari Tiongkok, minyak atsiri, wewangian, dan kosmetik yang sebagian besar berasal dari Prancis, serta barang dari kulit samak yang berasal dari Tiongkok.

Adapun impor bahan bakar mineral yang berasal dari Singapura tercatat mengalami penurunan paling signifikan sepanjang 2025, yakni sebesar 40,22 persen dibandingkan 2024.