Denpasar –
Pertumbuhan ekonomi Provinsi Bali pada 2025 mencapai 5,82 persen. Angka ini merupakan yang tertinggi dalam tujuh tahun terakhir, terutama sejak pandemi COVID-19.
“Jadi selama 7 tahun terakhir kalau kami lihat datanya memang 5,82 itu merupakan pertumbuhan yang tertinggi pasca COVID,” ujar Agus Gede Hendrayana Hermawan Kepala BPS Provinsi Bali, Kamis (5/2/2026).
Hermawan menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Bali sempat mengalami penurunan signifikan saat pandemi. Namun mulai menunjukkan pemulihan sejak 2022 dan terus membaik hingga 2025.
“Pertumbuhan kita kan sempat mengalami kontraksi yang dalam ketika COVID. Habis itu, pelan-pelan mulai dari tahun 2022 kita sudah mencatatkan pertumbuhan,” katanya.
Dari 17 kategori lapangan usaha, seluruhnya mencatatkan pertumbuhan, dengan sebagian besar menunjukkan kinerja sangat baik pada 2025.
Sektor pariwisata tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Bali. Lapangan usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum, serta Jasa Perusahaan menjadi sumber pertumbuhan terbesar dengan kontribusi masing-masing sebesar 10,25 persen dan 7,84 persen.
Di tengah kebijakan efisiensi dari pusat, sektor administrasi pemerintahan justru mencatatkan pertumbuhan tertinggi di antara lapangan usaha lainnya, yakni sebesar 10,99 persen.
“Belanja pegawai itu salah satu yang mempengaruhi adalah jumlah pegawainya. Artinya kan dulu misalnya belum ada P3K, sekarang ada P3K. Upah gaji itu kan tidak kena efisiensi. Tidak ada aturan yang gaji pegawai itu diturunkan,” jelasnya.
Tiga sektor dengan kontribusi terbesar terhadap perekonomian Bali adalah Akomodasi dan Makan Minum sebesar 22,27 persen, Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 13,12 persen, serta Transportasi dan Pergudangan sebesar 10,20 persen.
Meski menjadi kontributor kedua terbesar, sektor pertanian hanya tumbuh tipis sebesar 1,70 persen.
“Walaupun masih tumbuh tapi pertumbuhan relatif rendah, yaitu salah satunya yang mendorong ke bawah itu produksi padi berdasarkan hasil KSA tahun 2025 itu bahkan tercatat turun 7,49 persen,” imbuhnya.
Dari sisi pengeluaran, kontribusi terbesar berasal dari konsumsi rumah tangga sebesar 52,52 persen. Disusul ekspor luar negri 40,35 persen, dan pembentukan modal tetap bruto 27,57 persen.
Hampir seluruh komponen pengeluaran tumbuh positif. Ekspor luar negeri mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 8,22 persen, disusul konsumsi rumah tangga yang tumbuh stabil sebesar 5,47 persen. Hanya konsumsi LNPRT yang mengalami kontraksi sebesar 3,97 persen, mengingat 2025 merupakan tahun pasca-politik.
PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) per kapita Bali atas dasar harga berlaku pada tahun 2025 mencapai Rp 72,66 juta per orang, meningkat 7,93 persen dibandingkan 2024 yang sebesar Rp 67,32 juta.
“Artinya, jika PDRB dibagi rata kepada seluruh penduduk Bali, masing-masing akan memperoleh Rp 72,66 juta. Namun, ini belum sepenuhnya mencerminkan kesejahteraan masyarakat karena setiap orang memiliki sumber daya yang berbeda,” tutupnya.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.






