Dokter Gizi Beri Pesan Buat Kamu yang Punya Resolusi Diet pada 2026

Posted on

Banyak orang membuat resolusi sehat dengan menjalankan diet dengan metode tertentu untuk dijalankan kala tahun baru. Salah satunya diet yang cukup populer adalah intermitte fasting (IF).

Jendela atau periode puasa dan jendela makan pada diet IF dimodifikasi untuk membatasi penumpukan kalori yang berlebihan. Variasi diet ini cukup beragam berdasarkan durasi puasanya.

Dokter gizi klinis dari RS St Carolus Salemba, Yohannessa Wulandari, mengingatkan untuk tahu diri sebelum menjajal tren diet yang sedang hits, termasuk IF. Menurutnya, tidak semua tren cocok di semua kondisi.

“Terlalu lama durasi puasanya tentu tidak cocok buat yang diabetes, apalagi diabetesnya yang pakai insulin,” terang Yohanessa, mencontohkan kondisi yang tidak cocok menjalankan diet IF jika tanpa perhitungan yang cermat.

Menurut Yohanessa, konsultasi pada ahli yang kompeten perlu dilakukan ketika memiliki kondisi klinis tertentu. Hal yang sama juga berlaku pada jenis diet lain, seperti ketogenik yang juga sering dijalankan dengan kurang tepat.

“Ketogenik itu kan banyak lemak baiknya, tetapi suka disalah kaprahkan dengan misalnya konsumsi lemaknya yang penting semua lemak dimakan. Tentunya kurang cocok misalnya pada yang punya kelainan hati atau liver,” terang Yohanessa.

“Yang paling aman, paling ideal, sebenarnya balanced diet. Sekali makan memang harus ada komponen karbohidrat, protein, lemak baik, sama seratnya,” tegas Yohanessa.

Artikel ini telah tayang di infoHealth. Baca selengkapnya