Sejumlah peternak sapi di Desa Manistutu, Kecamatan Melaya, Jembrana, Bali, mulai resah. Pasalnya, hewan ternak mereka mengalami gejala aneh berupa benjol-benjol kemerahan hingga bengkak pada kaki yang berujung kematian.
Salah seorang peternak, Ni Kadek Suartini, menceritakan anak sapinya mati pada 4 Januari lalu. Sebelum mati, sapi tersebut sempat menunjukkan gejala bentol dan bengkak di bagian kaki.
“Sempat disuntik oleh dokter hewan, tetapi tetap mati. Saat suami saya selesai mencari rumput, sapi ditemukan sudah mati. Yang mati anak sapi, ciri-cirinya ada bentol kemerahan,” ungkap Suartini saat ditemui infoBali, Minggu (11/1/2026).
Keresahan serupa dirasakan oleh Suwitra, peternak lain. Sapi miliknya yang berusia 4 bulan kini mengalami gejala serupa. Bahkan, bentol-bentol di tubuh sapinya sudah mulai pecah.
“Pecah bentolnya, keluar darah banyak. Sudah dua minggu seperti ini. Awalnya saya kira digigit nyamuk, tetapi makin banyak sampai kakinya bengkak. Sementara saya obati pakai minyak saja, tidak saya suntik,” jelas Suwitra.
Sapi para peternak di Jembrana itu diduga terkena penyakit kulit berbenjol atau lumpy skin disease (LSD). Namun, Kabid Keswan-Kesmavet Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, I Gusti Ngurah Putu Sugiarta, menyatakan belum bisa memastikan penyakit tersebut adalah LSD. Mengingat, Bali hingga saat ini masih berstatus bebas LSD.
“Sesuai di lapangan, kami belum berani memastikan itu dugaan LSD. Kami tetap berkoordinasi karena perubahan cuaca ini ada penyakit yang mirip LSD, misalnya demodikosis. Kami tetap survei setiap hari untuk mengecek kasus ini,” kata Sugiarta.
Sugiarta menjelaskan LSD merupakan penyakit kulit yang ditandai dengan kerompeng pada kulit, demam, dan penurunan nafsu makan. Penyakit ini menular antar-sapi melalui perantara nyamuk dan lalat, tetapi tidak menular ke manusia (bukan zoonosis).
“Kalau laporan sapi mati itu ada, karena penyakit sapi itu banyak. Kelihatannya tidak mematikan, tetapi stresnya yang mengakibatkan mati,” imbuh Sugiarta.
Hingga saat ini, tercatat ada sekitar tujuh laporan kasus serupa, mayoritas menyerang anakan sapi (pedet). Sugiarta juga telah melakukan tindakan awal berupa pemberian disinfektan dan penyemprotan (spraying) di lokasi temuan.
“Kalau disebut suspek, ya mengarah ke sana, tetapi kami belum berani membenarkan itu LSD. Kami akan memantau perkembangan dan berencana mengambil sampel darah untuk diuji di Balai Besar Veteriner (BBVet) guna memastikan penyebab pastinya,” tegas Sugiarta.
Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana mengimbau peternak untuk waspada terhadap perubahan musim yang memicu banyaknya penyakit. Selain itu, pembagian disinfektan kepada medikvet di setiap kecamatan telah dilakukan untuk menekan penyebaran penyakit kulit pada ternak.
“Kita masih lakukan pemantauan dahulu karena perubahan cuaca saat ini juga memicu banyak penyakit hewan. Jadi masyarakat kami imbau untuk segera melaporkan jika terjadi penyakit aneh pada ternak,” jelas Sugiarta.






