Badung –
Pura Luhur Uluwatu adalah salah satu Sad Kahyangan Jagat di Bali. Sad Kahyangan Jagat berfungsi sebagai penyangga keseimbangan spiritual sekaligus bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur yang sangat suci.
Selain menjadi tempat ibadah, Pura di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, ini juga memiliki spot terbaik yang menawarkan pemandangan matahari terbenam yang memukau. Namun, di balik keindahan tebing dan pemandangan laut biru yang memesona, juga menyimpan nilai spiritual yang berkaitan erat dengan sejarah Hindu di Bali.
Pura Luhur Uluwatu berkaitan erat dengan salah satu pendeta Hindu, yakni Dang Hyang Nirartha. Dang Hyang Nirartha ‘hilang’ karena mencapai moksa di Pura Luhur Uluwatu. Kisah Dang Hyang Nirartha hingga kini hidup dalam tradisi dan kepercayaan masyarakat Bali.
Sosok Dang Hyang Nirartha
Dang Hyang Nirartha adalah seorang Brahmana Wangsa dari Jawa sekaligus tokoh spiritual yang memiliki peranan besar terhadap penyebaran agama Hindu pada abad ke-16. Sosok Dang Hyang Nirartha dikenal sebagai Pangeran Sangupati yang memperkuat akar-akar agama dan kebudayaan Hindu.
Selama hidupnya, Dang Hyang Nirartha telah membuktikan dedikasinya dalam memperkaya berbagai bentuk sastra, ajaran filsafat, agama hingga pembentukan sejarah. Berikut beberapa peran utama Dang Hyang Nirartha dalam sejarah Hindu di Bali.
- Tokoh yang memperkuat ajaran Hindu dan memperkenalkan konsep Trimurti
- Menjadi guru spiritual Dalem Waturenggong
- Berperan aktif sebagai budayawan yang turut memperkaya sastra Bali dengan karya filsafat, agama, sejarah hingga membentuk strata sosial untuk masyarakat Bali
- Membangun banyak situs bersejarah seperti Pura Tanah Lot dan Pura Uluwatu melalui perjalanan spiritualnya (Dharmayatra)
Kisah Dang Hyang Nirarta Hilang di Pura Uluwatu
Dilansir dari beberapa sumber, sekitar abad ke-16 Sebelum Masehi (SM), Dang Hyang Nirartha pernah melakukan perjalanan spiritual yang disebut dengan Dharmayatra. Dharmayatra merupakan ziarah spiritual ke tempat-tempat suci yang berhubungan dengan ajaran Buddha (Dharma) yang dilakukan untuk meningkatkan keyakinan dan merenungkan nilai-nilai kebenaran.
Menurut cerita rakyat yang beredar, kisah hilangnya Dang Hyang Nirartha di Pura Uluwatu terjadi saat ia mencapai moksa. Moksa dalam bahasa Sanskerta berarti membebaskan, melepaskan, atau mengeluarkan. Secara garis besar, moksa berarti sebuah tujuan akhir yang dilakukan umat Hindu untuk membebaskan dirinya dari keterikatan dunia. Dang Hyang Nirartha menghilang begitu saja tanpa meninggalkan jasad fisiknya.
Masyarakat percaya, Dang Hyang Nirartha menyatu dengan Tuhan di ujung tebing Pura Luhur Uluwatu yang kemudian menyempurnakan terbentuknya pura tersebut. Bahkan, pada 2019, pemerintah setempat membangun Patung Dang Hyang Nirartha sebagai simbol penghormatan terhadap jasa pendeta suci itu. Patung tersebut dibangun setinggi 70 meter dan menghadap langsung ke Samudra Hindia.
