Anggaran sebesar Rp 2 miliar akan diajukan ke APBD Pergeseran Kabupaten Bangli. Dana sebesar itu akan digunakan untuk memperbaiki jalur penghubung antara Desa Adat Juwuk Bali dan Desa Adat Penatahan, yang ambles gegara tanah longsor.
“Jalan di Desa Juwuk Bali itu paling parah. Kalau (perbaikan) dengan konstruksi jembatan lebarnya 18 meter, hampir Rp 2 miliar (biayanya),” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten Bangli Dewa Agung Suryadarma kepada infoBali, Kamis (15/1/2025).
Surya mengatakan, anggaran sebesar Rp 2 miliar itu masih diajukan ke Pemerintah Kabupaten Bangli. Kemungkinannya, akan dimasukkan ke anggaran pergeseran atau anggaran perubahan.
Jika, pengajuan anggaran itu disetujui dan dimasukkan ke dalam APBD Pergeseran, maka perbaikan jalan dapat dimulai Februari 2025. Namun, jika dimasukkan ke dalam APBD Perubahan, maka Agustus 2026 baru akan dimulai perbaikannya.
“Karena APBD 2026 sudah digedok Oktober 2025. Nah baru ada bencana tanah longsornya bulan Desember 2025. Tapi, tetap nanti pertimbangan pak bupati, mana yang penting dan mana yang ditunda,” kata Surya.
Surya mengatakan, dana Rp 2 miliar bukan anggaran semata wayang yang diajukan. Total anggaran yang diajukan ke Pemerintah Kabupaten Bangli adalah Rp 3,5 miliar.
Selain untuk memperbaiki jalan penghubung di dua desa itu, ada empat titik lain yang bernasib serupa. Adapun empat titik itu adalah ruas Jalan Penataan – Manuk, ruas Jalan Mancingan – Selat dan ruas Jalan Sribatu – Malet.
Tiga ruas jalan itu berada di wilayah Kecamatan Susut. Kerusakan jalan akibat hujan deras yang memicu longsor juga terjadi di ruas Jalan Bebalang – Taman Bali, Kecamatan di Bangli dan ruas Jalan Penelokan – Batur di Kecamatan Kintamani.
“Harus segera mendapat penanganan bencana. Paling cepat (terealisasi) di APBD Pergeseran,” katanya.
Pantauan infoBali, kondisi jalan itu kini terputus total. Rongga bekas longsornya menganga dari sisi utara badan jalan hingga ke sisi selatan bahu jalan.
Rel besi pembatas jalan di sisi utaranya sudah jatuh ke dasar longsoran yang tersambung dengan sungai. Kabel listrik juga terlihat menjuntai ke bawah dari sisi timur ke sisi barat jalan.
Saat ini, ada palang bambu yang terpasang rapat di sisi barat dan sisi timur jalan untuk mencegah kendaraan apapun yang ingin melintas. Longsor itu hanya menyisakan jalan setapak yang masih dapat diakses warga dengan berjalan kaki.
Nyoman Diarta, warga Desa Juwuk Bali mengatakan, jalur itu adalah jalan alternatif satu-satunya. Sering dilewati warga yang bepergian ke Kota Bangli.
Jalan penghubung itu juga kerap dilewati warga atau pengendara motor yang ingin ke Bangli, dari arah Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Namun, saat jalan itu belum diperbaiki, semua warga harus berputar melewati Desa Demulih dan Desa Adat Manuk.
“Saya biasa ke Bangli cuma tujuh menit kalai lewat jalan ini. Sekarang saya dan warga lain harus memutar ke Desa Demulih dan Desa Manuk. Perjalanan jadi 20 menit. Lumayan jauh,” kata Diarta.
Diarta mengatakan, jalan alternatif sudah mulai longsor sejak Desember 2025, meski hanya seperempat badan jalan yang terdampak. Namun, karena intensitas hujan yang tinggi, kini seluruh badan jalan sudah ambles.
“Kalau sudah musim hujan, di sini hampir tiap hari hujan. Warga yang lewat jalan kaki, juga jarang. Bahaya itu,” katanya.






