Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat cabai rawit sebagai komoditas penyumbang inflasi paling tinggi di Pulau Dewata pada Desember 2025, yakni sebesar 96,39%. Komoditas dengan penyumbang inflasi tertinggi lainnya, antara lain tomat 43,01%, bawang merah 33,16%, dan daging ayam ras 3,34%.
Kepala BPS Provinsi Bali Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan mengungkapkan terdapat pula komoditas yang menekan inflasi di Bali pada Desember 2025, seperti kangkung -10,76%, cabai merah -8,19%, pisang -4,81%, dan beras -0,37%. Menurutnya, faktor cuaca turut mempengaruhi pasokan dan permintaan komoditas pangan pada akhir tahun lalu.
“Curah hujan akhir tahun Desember 2025, juga mempengaruhi harga komoditas karena jumlahnya berkurang, seperti cabai, bawang merah, dan tomat,” ujar Hermawan saat konferensi pers di Kantor BPS Bali, Denpasar, Senin (5/1/2026).
Selain musim hujan, hari besar keagamaan dan puncak aktivitas wisata (high season) turut mempengaruhi tingkat permintaan barang dan jasa di Bali. Hal itu membawa komoditas makanan, minuman, dan tembakau menyumbang tingkat inflasi paling tinggi dari bulan ke bulan sebesar 2,11% dan data tahun ke tahun (2024-2025) sebesar 4,90%.
Hermawan mengatakan total inflasi di Bali pada Desember 2025 meningkat 0,70% dibandingkan bulan sebelumnya. Sedangkan, total inflasi sepanjang tahun 2025 tercatat 2,91% dibandingkan tahun sebelumnya. Meski begitu, Hermawan menyebut angka tersebut tergolong aman.
“Kalau digolongkan tinggi, tidak. Kalau kita bicara target, kan masih di bawah target. Paling slow 2,5%, jadi target tertinggi pemerintah sebenarnya 3,5%,” ujar Hermawan.
“Jadi sebenarnya belum bisa dikatakan tinggi. Walaupun kalau dibandingkan dua tahun sebelumnya dia lebih tinggi,” imbuhnya.
Berdasarkan cakupan indeks harga konsumen, dia berujar, wilayah dengan inflasi tertinggi berada di wilayah Denpasar dengan total 3,45% (yoy). Disusul Tabanan 2,70%, Singaraja 2,51%, dan terendah Badung dengan 2,37%.
Sementara itu, BPS Nusa Tenggara Barat (NTB) juga mencatat inflasi bulanan sebesar 0,72 persen pada Desember 2025. Kenaikan harga cabai rawit dan bawang merah menjadi pemicu utama inflasi di NYTB kali ini.
“Inflasi kali ini dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau, seperti harga cabai rawit dan bawang merah. Kemudian disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya,” kata Kepala BPS NTB Wahyudin di kantornya, Senin.
Wahyudin menjabarkan beberapa komoditas yang turut andil inflasi pada Desember 2025. Mulai dari cabai rawit 0,28 persen, bawang merah 0,17 persen, emas perhiasan 0,12 persen, tomat 0,10 persen, dan daging ayam ras 0,07 persen.
Di sisi lain, sejumlah komoditas mencatatkan deflasi. Beberapa di antaranya ikan teri 0,04 persen, angkutan udara 0,03 persen, cabai merah 0,02 persen, ikan layang/ikan benggol 0,02 persen, serta ikan bandeng 0,01 persen.
Dari sisi wilayah, inflasi tertinggi terjadi di Kota Bima sebesar 0,80 persen dengan indeks harga konsumen 110,38. Kemudian disusul Kota Mataram dengan inflasi 0,71 persen dan IHK 110,44. Sementara, Kabupaten Sumbawa dengan inflasi 0,70 persen dan IHK 109,98.
“Semua kota/kabupaten IHK mengalami inflasi (m-to-m) pada bulan Desember 2025,” ujarnya.






