Pelatih tim B sepakbola Wanita Valencia CF, Fernando Martin Carreras, dan dua anak laki-lakinya masing-masing berusia 9 dan 10 tahun, belum ditemukan hingga hari kesembilan pencarian oleh Tim SAR gabungan, Sabtu (3/1/2026).
Fernando dan kedua anaknya merupakan wisatawan asal Spanyol yang menjadi korban tenggelamnya kapal pinisi Putri Sakinah di Selat Pulau Padar, Labuan Bajo, kawasan Taman Nasional Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Insiden tersebut terjadi pada 26 Desember 2025 sekitar pukul 20.30 Wita
Dalam peristiwa itu, satu anak perempuan Fernando yang berusia 12 tahun ditemukan meninggal dunia pada 29 Desember 2025. Sementara itu, istri Fernando dan anak bungsunya yang berusia 7 tahun berhasil selamat.
Penanggung Jawab Divisi Marine Balai Taman Nasional Komodo (BTNK), Ande Kefi, mengatakan lokasi kecelakaan kapal wisata tersebut merupakan salah satu selat yang berbahaya bagi aktivitas pelayaran di kawasan Taman Nasional Komodo. BTNK merupakan pengelola kawasan tersebut.
Selat yang dikenal juga dengan nama Selat Lintah itu memisahkan Pulau Padar dan Pulau Rinca. Panjang selat tersebut sekitar satu kilometer dengan lebar 400 hingga 500 meter. Di bagian selatan, selat ini langsung berhadapan dengan laut lepas yang mengarah ke Pulau Sumba, sementara di bagian utara menghadap ke Laut Flores.
Titik tenggelamnya kapal pinisi Putri Sakinah berada sekitar 100 meter dari arah utara selat tersebut. Kapal diketahui berangkat dari Pulau Komodo pada malam kejadian.
“Selat Padar merupakan salah satu selat yang cukup berbahaya di saat terjadi pasang surut, apalagi di saat-saat musim tenggara dan musim barat. Selain itu arah menuju Padar selatan sudah menuju laut lepas arah selatan atau Sumba,” terang Kefi, Sabtu (3/1/2026).
Kefi menegaskan aktivitas pelayaran pada malam hari di selat tersebut memiliki risiko yang besar. Karena itu, BTNK tidak merekomendasikan kapal melintas di kawasan tersebut pada malam hari.
“Berlayar di malam hari merupakan resiko yg sangat berbahaya dan bahkan tak terhindarkan. Apalagi di saat-saat musim gelombang seperti sekarang. Perbedaan pasang di selat yang cukup sempit akan menambah dorongan gelombang semakin besar di saat terjadi hujan angin,” jelasnya.
Selain gelombang, arus laut di Selat Pulau Padar juga menjadi ancaman serius bagi keselamatan pelayaran. Menurut Kefi, arus di kawasan itu memiliki karakteristik khusus yang harus dipahami oleh nahkoda.
“Arus di selat itu merupakan arus ke bawah, yang menggulung ke dasar laut. Jadi perbedaan pasang surut dalam waktu yang sangat singkat membuat para nakhoda harus selalu waspada di saat melewati selat tersebut,” kata Kefi.
Ia menambahkan, nakhoda kapal yang melintas di Selat Pulau Padar seharusnya sudah memahami dengan baik karakteristik gelombang dan arus, serta memperhitungkan kondisi pasang surut secara cermat.
Keselamatan pelayaran, tegas Kefi, harus menjadi prioritas utama dan tidak semata-mata mengejar waktu tempuh menuju Pulau Padar atau destinasi lain di kawasan Taman Nasional Komodo.
“Seharusnya para nakhoda kapal sudah tahu memperhitungkan pasang surut, bukan semata-semata pengen mengejar trip selanjutnya,” ujarnya.
“Tapi harus memberikan pelayanan yang maksimal dengan mempertimbangkan keamanan, baik kapal maupun keselamatan wisatawan, karena pariwisata Labuan Bajo sudah mendunia atau go international,” tandas Kefi.
Risiko Pelayaran Malam Hari
Kefi menegaskan aktivitas pelayaran pada malam hari di selat tersebut memiliki risiko yang besar. Karena itu, BTNK tidak merekomendasikan kapal melintas di kawasan tersebut pada malam hari.
“Berlayar di malam hari merupakan resiko yg sangat berbahaya dan bahkan tak terhindarkan. Apalagi di saat-saat musim gelombang seperti sekarang. Perbedaan pasang di selat yang cukup sempit akan menambah dorongan gelombang semakin besar di saat terjadi hujan angin,” jelasnya.
Selain gelombang, arus laut di Selat Pulau Padar juga menjadi ancaman serius bagi keselamatan pelayaran. Menurut Kefi, arus di kawasan itu memiliki karakteristik khusus yang harus dipahami oleh nahkoda.
“Arus di selat itu merupakan arus ke bawah, yang menggulung ke dasar laut. Jadi perbedaan pasang surut dalam waktu yang sangat singkat membuat para nakhoda harus selalu waspada di saat melewati selat tersebut,” kata Kefi.
Ia menambahkan, nakhoda kapal yang melintas di Selat Pulau Padar seharusnya sudah memahami dengan baik karakteristik gelombang dan arus, serta memperhitungkan kondisi pasang surut secara cermat.
Keselamatan pelayaran, tegas Kefi, harus menjadi prioritas utama dan tidak semata-mata mengejar waktu tempuh menuju Pulau Padar atau destinasi lain di kawasan Taman Nasional Komodo.
“Seharusnya para nakhoda kapal sudah tahu memperhitungkan pasang surut, bukan semata-semata pengen mengejar trip selanjutnya,” ujarnya.
“Tapi harus memberikan pelayanan yang maksimal dengan mempertimbangkan keamanan, baik kapal maupun keselamatan wisatawan, karena pariwisata Labuan Bajo sudah mendunia atau go international,” tandas Kefi.






