Aktris Aurelie Moeremans membuka lembar paling gelap dalam hidupnya lewat buku digital Broken Strings. Memoar ini memuat kisah penuh luka sejak ia memasuki dunia hiburan di usia 15 tahun hingga menjadi korban grooming, pelecehan, dan pemerkosaan.
Dalam buku tersebut, Aurelie menceritakan pengalamannya saat pertama kali terjun ke dunia entertainment Tanah Air sebagai remaja blasteran Belgia-Indonesia. Minim pengalaman, ia kemudian berinteraksi dengan orang-orang dewasa yang belakangan disadarinya melakukan grooming.
Aurelie baru memahami bahwa yang dialaminya saat itu merupakan bentuk kekerasan seksual setelah dirinya beranjak dewasa. Menurutnya, ketika masih remaja, ia tidak menyadari hal tersebut karena pelaku menggunakan cara yang begitu halus dan manipulatif.
Kisah penuh luka Aurelie dalam Broken Strings viral di media sosial dan menuai simpati publik. Banyak warganet mengaku tersentuh sekaligus terkejut membaca perjalanan hidup sang aktris.
“Masih stuck sama buku “Broken Strings”. ceritanya kaya fiksi tapi nyatanya kisah yg begini memang ada. dan setelah baca ini trs liat dia skrng rasanya lega. after everything she’s been through .. she made it. aurélie.. kamu hebat bangett,” tulis seorang netizen, dikutip dari siliconartists, Selasa (13/1/2025).
“Sakit Banget Baca Kisah Hidup Aurelie Moeremans. Ditulis sendiri dengan gamblang masa muda nya terjebak dan penuh kekerasan seksual, toxic relationship dll,” sebut yang lain.
“Gue baru selesai baca broken strings selama baca beneran ngerasaiin kepala jdi sakit, mual, jijik, marah, nangis bgtt… yang Aurélie rasakan jdi ke ikut ngerasaain jga pas baca tiap part yg bikin sakit, big hug Aurélie Moeremans,” cetus sebuah akun di linimasa X.
“Baru selesai baca broken strings, gue bener-bener mual, muak, jijik, dan pusing banget bacanya, butuh jeda beberapa lama buat nyelesain bukunya, dan cuma bisa nangis pas aurelie ceritain semua trauma masa mudanya di buku ini,” demikian tulis seorang warganet.
“Selesai baca broken strings, mata gue bengkak. ya Allah.. gila sih dia kuat bgt. rasanya mau pelukk Aurelie kecil,” tulis pembaca lainnya.
Buku Broken Strings dirilis Aurelie Moeremans secara gratis melalui media sosialnya. Memoar ini tersedia dalam dua versi bahasa, yakni Inggris dan Indonesia, serta ditulis dari sudut pandang korban.
Kisah masa lalunya sempat menjadi perhatian publik ketika Aurelie menegaskan dirinya tidak pernah menikah, kecuali dengan Tyler Bigenho pada 2024. Pengalaman menjadi korban grooming itu terjadi sejak ia berusia 15 tahun.
Bintang film Story of Dinda: Second Chance of Happiness tersebut akhirnya memutuskan membagikan kisah hidupnya agar menjadi pelajaran bagi banyak orang melalui buku digital Broken Strings.
“Proses menulisnya sebenarnya relatif cepat. Saat aku mulai menulis, semuanya mengalir begitu saja seperti menulis diary. Ceritanya sudah lama ada di kepalaku, hanya butuh keberanian untuk akhirnya dituangkan,” cerita Aurelie Moeremans kepada infocom melalui pesan singkat, Senin (12/1/2026).
Aurelie yang kini tinggal di Amerika Serikat bersama suami, Tyler Bigenho, mengakui proses tersebut tidak mudah. Ia harus kembali membuka luka lama yang menyimpan trauma mendalam.
“Iya, tentu saja (nggak mudah). Kendala terbesarnya adalah harus membuka kembali luka lama yang selama ini aku pendam. Mengingat detail-detail itu tidak mudah dan cukup menyakitkan, tapi justru proses itu menjadi bagian dari penyembuhan,” tuturnya.
“Ada momen di mana aku ingin berhenti karena terlalu berat. Tapi setiap kali ingin menyerah, aku ingat alasan awal kenapa aku menulis, yaitu untuk jujur pada diri sendiri dan bertahan,” jelas Aurelie Moeremans.
Perempuan yang tengah menanti kelahiran anak pertamanya itu bertekad menuntaskan buku tersebut dengan mengingat tujuan awalnya. Ia menulis sebagai proses penyembuhan, hingga akhirnya sang suami membaca tulisannya.
Respons positif dari suami membuat Aurelie Moeremans mantap menyelesaikan dan membagikan kisah hidupnya kepada perempuan lain sebagai pelajaran sekaligus penyemangat bagi mereka yang mengalami hal serupa.
“Awalnya aku sama sekali tidak berniat menjadikannya buku. Aku menulis untuk diriku sendiri, sebagai cara untuk healing, tapi setelah suamiku membaca, dia meyakinkanku bahwa cerita ini terlalu penting untuk disimpan sendiri dan bisa membantu banyak orang,” ungkap Aurelie Moeremans.
(dpw/dpw)
Viral dan Tuai Simpati
Buku dari Sudut Pandang Korban
Menulis untuk Menyembuhkan Luka


Buku Broken Strings dirilis Aurelie Moeremans secara gratis melalui media sosialnya. Memoar ini tersedia dalam dua versi bahasa, yakni Inggris dan Indonesia, serta ditulis dari sudut pandang korban.
Kisah masa lalunya sempat menjadi perhatian publik ketika Aurelie menegaskan dirinya tidak pernah menikah, kecuali dengan Tyler Bigenho pada 2024. Pengalaman menjadi korban grooming itu terjadi sejak ia berusia 15 tahun.
Bintang film Story of Dinda: Second Chance of Happiness tersebut akhirnya memutuskan membagikan kisah hidupnya agar menjadi pelajaran bagi banyak orang melalui buku digital Broken Strings.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
“Proses menulisnya sebenarnya relatif cepat. Saat aku mulai menulis, semuanya mengalir begitu saja seperti menulis diary. Ceritanya sudah lama ada di kepalaku, hanya butuh keberanian untuk akhirnya dituangkan,” cerita Aurelie Moeremans kepada infocom melalui pesan singkat, Senin (12/1/2026).
Aurelie yang kini tinggal di Amerika Serikat bersama suami, Tyler Bigenho, mengakui proses tersebut tidak mudah. Ia harus kembali membuka luka lama yang menyimpan trauma mendalam.
“Iya, tentu saja (nggak mudah). Kendala terbesarnya adalah harus membuka kembali luka lama yang selama ini aku pendam. Mengingat detail-detail itu tidak mudah dan cukup menyakitkan, tapi justru proses itu menjadi bagian dari penyembuhan,” tuturnya.
“Ada momen di mana aku ingin berhenti karena terlalu berat. Tapi setiap kali ingin menyerah, aku ingat alasan awal kenapa aku menulis, yaitu untuk jujur pada diri sendiri dan bertahan,” jelas Aurelie Moeremans.
Perempuan yang tengah menanti kelahiran anak pertamanya itu bertekad menuntaskan buku tersebut dengan mengingat tujuan awalnya. Ia menulis sebagai proses penyembuhan, hingga akhirnya sang suami membaca tulisannya.
Respons positif dari suami membuat Aurelie Moeremans mantap menyelesaikan dan membagikan kisah hidupnya kepada perempuan lain sebagai pelajaran sekaligus penyemangat bagi mereka yang mengalami hal serupa.
“Awalnya aku sama sekali tidak berniat menjadikannya buku. Aku menulis untuk diriku sendiri, sebagai cara untuk healing, tapi setelah suamiku membaca, dia meyakinkanku bahwa cerita ini terlalu penting untuk disimpan sendiri dan bisa membantu banyak orang,” ungkap Aurelie Moeremans.
Buku dari Sudut Pandang Korban
Menulis untuk Menyembuhkan Luka







