Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar memastikan bibit Siklon Tropis 91W bukan penyebab terjadinya hujan lebat dan cuaca ekstrem di Bali yang terjadi sekitar sepekan terakhir. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh faktor atmosfer lokal dan regional.
“Sejak awal kami terus memantau posisi dan pergerakan bibit siklon tropis 91W. Bali tidak terdampak karena posisinya berada jauh, yakni di Laut Filipina sebelah utara Maluku Utara,” ujar Prakirawan BMKG Wilayah III Denpasar I Wayan Wirata saat dihubungi, Kamis (15/1/2026).
Faktor-faktor yang memengaruhi cuaca di Bali salah satunya, massa udara basah yang terkonsentrasi dari lapisan permukaan hingga lapisan atas. Kemudian, adanya daerah konvergensi dan belokan angin di sekitar wilayah Bali, serta suhu muka laut yang hangat. Selain itu, Bali telah memasuki musim penghujan yang meningkatkan potensi terbentuknya awan-awan hujan.
Wirata menjelaskan bahwa bibit siklon tropis 91W mulai terdeteksi pada Senin (12/1/2026) pukul 01.00 WIB di Samudra Pasifik bagian utara Maluku Utara.
Pada saat yang sama BMKG mendeteksi kecepatan angin maksimum terpantau mencapai 30 knot atau sekitar 56 kilometer per jam dengan tekanan udara minimum 1002 hPa. Meski intensitas ini diprakirakan terus meningkat dalam 24 jam ke depan, tetapi akan bergerak menjauh dari wilayah Indonesia sehingga tidak mempengaruhi cuaca di Bali.
BMKG tetap mewaspadai fenomena cuaca lain yang berpotensi memengaruhi cuaca di Bali. Saat ini, BMKG memantau terbentuknya bibit siklon tropis 96S yang terbentuk pada, Rabu (14/1/2026) pukul 13.00 WIB di Samudera Hindia bagian selatan Nusa Tenggara Barat (NTB).
Berbeda dengan bibit siklon tropis 91W yang berdampak langsung pada cuaca, bibit siklon tropis 96S tidak memberikan dampak langsung pada kondisi cuaca dan perairan di Bali. Bibit siklon tropis 96S diprakirakan mempengaruhi kondisi cuaca dan perairan di wilayah Indonesia dalam 24 jam hingga, Jumat (16/1/2026) pukul 07.00 WIB.
Dampak tersebut berupa potensi hujan sedang hingga lebat di Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat, serta peningkatan tinggi gelombang kategori sedang setinggi 1,25-2,5 meter di Samudra Hindia bagian selatan Jawa Tengah, perairan selatan Pulau Sumba, Selat Bali, Selat Lombok, Selat Sumba,dan Laut Sawu.
Selain itu, tinggi gelombang kategori 2,5-4 meter juga berpotensi terjadi di Samudera Hindia bagian selatan Jawa Timur hingga bagian selatan Nusa Tenggara Timur (NTT).
“BMKG selalu memberikan informasi terupdate terkait perkembangan cuaca kepada stakeholder terkait,” tandas Wirata.
