Denpasar –
Konsumsi listrik di Bali diprediksi turun hingga 400 megawatt (MW) saat Hari Raya Nyepi yang jatuh pada 19 Maret 2026. PLN menyebut penurunan beban listrik tersebut berasal dari sektor rumah tangga, perhotelan, hingga restoran.
“Prediksi kami sekitar 300-400 MW pada saat perayaan Hari Raya Nyepi,” ujar Manager Komunikasi dan TJSL PT PLN (Persero) UID Bali, I Wayan Eka Susana, Jumat (13/3/2026).
Eka menjelaskan PLN tidak akan melakukan pemadaman listrik selama perayaan Nyepi di Bali, kecuali dalam kondisi darurat. Selain itu, PLN juga menyiapkan skema penanganan gangguan listrik di rumah sakit maupun fasilitas vital lainnya.
“Nanti akan ada komunikasi dengan desa adat dan pecalang untuk membantu akses petugas kami jika terjadi gangguan listrik darurat, sehingga perjalanan kami lancar dan masalah kelistrikan kedaruratan teratasi,” imbuhnya.
Eka memprediksi puncak penggunaan listrik pada periode libur Nyepi dan Lebaran tahun ini terjadi pada 17 Maret 2026. Total beban listrik diprediksi mencapai 1.194 MW.
“Prediksi puncak sekitar 1.194 MW pada tanggal 17 Maret 2026 dengan cadangan kira-kira 127 MW. Jadi, itu kami prediksi sangat aman di dua hari raya tersebut,” ujar Eka.
Selain memastikan pasokan listrik, PT PLN (Persero) menyiapkan sejumlah posko pengamanan untuk mendukung kelancaran arus mudik dan balik Lebaran. Tiga posko disiapkan di wilayah Gilimanuk, Tabanan, dan Karangasem.
PLN juga menyiapkan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang tersebar di 93 lokasi untuk mendukung masyarakat yang menggunakan kendaraan listrik. “Selain itu ada 142 titik SPKLU di 93 titik untuk pengamanan masyarakat yang menggunakan kendaraan listrik,” pungkasnya.






