Buleleng –
Lima patung mengalirkan air bersuhu sekitar 42 derajat celsius ke kolam sedalam 1 meter. Sejumlah pengunjung berendam di kolam berukuran sekitar 800 meter persegi tersebut. Sesekali mereka berdiri di depan patung untuk merasakan aliran air panas membasuh tubuh.
Di sisi kolam untuk pengunjung dewasa tersebut, terdapat kolam untuk anak-anak. Luasnya sekitar 18 meter persegi dengan kedalaman 50 sentimeter. “Kolam tidak dibuat dalam karena konsepnya berendam,” tutur Manajer Operasional Banyuwedang Hot Spring, Komang Sudiasa, kepada, Selasa (17/2/2026).
melali (pelesiran) ke Banyuwedang Hot Spring pada Selasa lalu. Objek wisata berupa pemandian air panas itu berlokasi di Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali atau sekitar 3 jam dari Kota Denpasar.
Sudiasa mengeklaim Banyuwedang Hot Spring merupakan pemandian dengan air yang paling panas di Bali. Sumber air panas itu bersuhu hingga 45 derajat celsius. “Ini paling panas dibandingkan yang lain,” ungkap pria berusia 41 tahun tersebut.
Saya pun mencoba berendam di Banyuwedang Hot Spring. Badan seperti tersiram air panas begitu masuk kolam. Akibatnya perlu waktu agar tubuh beradaptasi dengan air tersebut hingga badan nyaman berendam.
Aroma belerang pun menusuk hidung. Sehingga kepala sedikit pusing saat awal berendam. Bahkan, saya tak kuat jika badan langsung dialiri air panas yang keluar dari patung di tepi kolam.
Hal ini berbeda saat mengunjungi pemandian air hangat lainnya di Pulau Dewata seperti di Air Panas Angseri, Tabanan. Suhu air di objek wisata tersebut sekitar 25 derajat celsius. Adapun, suhu air hangat saat berendam di Seked Batur, Kintamani, Bangli, sekitar 30 derajat celsius.
Pengelola Banyuwedang Hot Spring pun memasang imbauan di beberapa tempat. Pengunjung diimbau untuk berendam paling lama 20 menit. Selain itu, pelancong diminta segera mentas dari kolam dan minum air putih jika pusing agar tak dehidarasi.
Banyuwedang Hot Spring, Buleleng, Bali, memiliki sejumlah fasilitas seperti restoran, taman bermain, hingga pemandian privat. Foto: Gangsar Parikesit/ |
Hal unik lainnya saat berendam di Banyuwedang Hot Spring adalah pemandangan berupa hutan bakau. Objek wisata ini bersebelahan dengan Taman Nasional Bali Barat.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
detikers juga harus waspada dengan barang bawaan selama berendam di Banyuwedang. Musababnya, monyet wira-wiri di sekitar kolam. Hewan itu kerap mencari makanan yang dibawa pengunjung lalu membawanya lari ke hutan bakau.
Menurut Sudiasa, monyet sudah ada dari dulu. Primata itu hanya mengambil makanan yang dibawa pengunjung. “Pakaian dan tas nggak diambil,” ujarnya.
Pengelola Banyuwedang Hot Spring menyarankan pengunjung menaruh barang bawaannya di loker agar tak diambil monyet. Selain itu, pelancong sebaiknya tidak menaruh pakaian dan telepon genggam di plastik karena monyet kerap mengambil bungkusan itu karena dikira makanan.
Hal menarik lainnya adalah air panas di kolam air bening. Ini berbeda saat berendam di tempat air panas lainnya di mana air hangat di kolam berwarna kecokelatan.
Menurut Sudiasa, air jernih karena saat malam hari pengelola mengganti airnya. Banyuwedang Hot Spring buka sejak pukul 07.00 Wita hingga 22.00 Wita.
Tiket masuk Banyuwedang untuk wisatawan domestik sebesar Rp 15 ribu, sedangkan untuk turis asing sebesar Rp 45 ribu. Selain itu, terdapat ruang berendam privat yang dilengkapi dengan jakuzi dengan kapasitas lima orang. Tarif berendam di ruang privat itu mencapai Rp 100 ribu per jam.
Sudiasa menerangkan saat akhir pekan atau hari libur jumlah pengunjung Banyuwedang Hot Spring bisa mencapai 200-an orang. Bahkan, pelancong membeludak hingga 500 orang saat libur Galungan, Kuningan, dan Lebaran. Sedangkan, saat hari kerja jumlah turis yang berendam hanya 50-100 orang. “Pengunjung 80 persen wisatawan domestik dan sisanya turis asing,” paparnya.
Sejarah Air Panas Banyuwedang
Manajer Operasional Banyuwedang Hot Spring, Komang Sudiasa, menuturkan air panas Banyuwedang sebelumnya digunakan untuk pengobatan atau terapi pasien yang sakit seperti kulit, rematik, dan lainnya. Saat itu, ustaz dari kota-kota di Jawa Timur seperti Banyuwangi dan Madura membawa pasiennya berobat ke Banyuwedang. Pasien yang mau berendam juga ada yang berasal dari kampung muslim di Loloan, Jembrana, Bali.
Ustaz dan pasiennya itu lalu membuat bangunan langgar dari bahan semi permanen seperti triplek. Langgar itu digunakan untuk salat dan tempat beristirahat. “Lambat laun makin dikenal dan Banyuwedang menjadi tempat berobat karena airnya bagus dan mengandung sulfur,” tutur Sudiasa.
Adapun warga setempat kerap menggunakan air panas untuk keperluan sehari-hari seperti mandi, cuci, kakus (MCK), memasak, dan minum ternak.
Sudiasa menjelaskan sumber air panas Banyuwedang berasal dari tujuh batu. diajak melihat langsung sumber air panas tersebut. Saat penutup sumber air panas dibuka, hawa panas langsung menguar dan kaca mata saya pun langsung berembun. Aroma belerang menguar dari sumber air panas yang berada di pantai itu.
Pengelola memompa sumber air panas bersuhu sekitar 45 derajat celsius ke dua kolam. Jarak antara sumber air panas ke kolam sekitar 50 meter. Adapun, suhu air di kolam sekitar 42 derajat celsius.
Manajer Operasional Banyuwedang Hot Spring Komang Sudiasa, Selasa (17/2/2026). Foto: Gangsar Parikesit/ |
Pengelola, Sudiasa berujar, mulai menata pemandian air panas itu pada 2000. Mereka membuat bak agar air panas tak terbuang ke laut lalu membuat sekat yang memisahkan tempat berendam untuk pengobatan laki-laki dan perempuan.
Mereka yang ingin berobat, Sudiasa melanjutkan, bisa langsung berendam di sumber air panas. Pengelola tidak memungut bayaran bagi yang ingin berobat.
Adapun tempat berendam untuk wisata mulai dikembangkan pada 2017. Pengelola membuat kolam, restoran, taman bermain, kamar mandi, hingga tempat bilas secara bertahap. “Private pool (jakuzi) baru dibuat pada 2024,” katanya. “Itu juga karena memenuhi permintaan konsumen yang ingin kamar privat.”
Belakangan, pengelola Banyuwedang Hot Spring menyediakan layanan melukat. Turis asing yang ingin membersihkan jiwa dikenai biaya Rp 750 ribu. Tarif itu sudah termasuk banten (sajen), pemangku yang membimbing melukat, hingga pijat. Sedangkan untuk tarif melukat wisatawan domestik Rp 200 ribu. “Melukat di sini tidak hanya penyucian tapi juga melebur penyakit,” imbuh Sudiasa.








