Flores Timur –
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengklaim telah membuat saluran darurat pengendali banjir di hunian sementara (huntara) penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Desa Konga, Kecamatan Titehena. Klaim itu disampaikan menyusul banjir yang merendam empat kopel huntara dan berdampak pada 22 kepala keluarga (KK), termasuk balita, Sabtu (31/1/2026).
Akibat kejadian itu, puluhan warga terpaksa mengungsi ke huntara tetangga karena hunian mereka tidak bisa ditinggali. Wakil Bupati Flores Timur, Ignasius Boli Uran, menyebut saluran pengendali banjir yang dibuat bersifat sementara.
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.
“Itu sudah ada saluran yang dibuat untuk mengendalikan banjir. Hanya darurat, galian saja. Tidak bisa permanen karena dilarang oleh aturan,” kata Ignasius saat dikonfirmasi, Senin (2/2/2026).
Ignasius menjelaskan, posisi huntara yang berada di lahan miring menjadi salah satu penyebab banjir mudah masuk ke dalam hunian saat hujan deras.
“Banjir besar karena sudah letaknya miring,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Flores Timur, Fredy Moat Aeng, mengatakan dirinya berada langsung di lokasi huntara untuk memantau kondisi hunian dan warga terdampak banjir.
“Kami di huntara. Saya sudah berkantor di huntara. Ini dengan warga Nobo kerja bakti,” ujarnya singkat.
Sebelumnya, Pemkab Flores Timur berencana memperbaiki huntara bagi penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki. Bupati Flores Timur, Antonius Doni Dihen, menyebut perbaikan tersebut membutuhkan anggaran sekitar Rp 400 juta sesuai rencana anggaran biaya (RAB).
Sementara itu, dana belanja tak terduga (BTT) Flores Timur saat ini mencapai sekitar Rp 6,6 miliar.
“Benar. 6,6 Miliar itu dana BTT yang tersedia.Kita tidak bisa bangun permanen di situ. Tidak dibolehkan aturan. Angkanya masih bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Birokrat kita ketakutan, Trauma,” ujar Anton Doni Dihen kepada, Selasa (16/12/2025).
Anton Doni menegaskan, pemerintah daerah harus mematuhi aturan penanganan darurat bencana agar tidak menimbulkan persoalan hukum di kemudian hari.
“Takut jadi temuan, tidak makan uang pun bisa penjara,” imbuhnya.
Ia pun meminta para penyintas erupsi untuk bersabar menghadapi kondisi tersebut.
“Kita berharap, saudara-saudari pengungsi kita masih boleh bersabar. Ada ancaman sangat nyata, tapi ada aturan yang membuat kita tidak bisa mengambil langkah terlalu cepat. Semoga Tuhan dan leluhur Lewotana tetap jaga kita, jaga saudara-saudari kita,” tandasnya.
Sebelumnya, banjir mengepung empat kopel huntara penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Desa Konga, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur, Sabtu (31/1/2026), sekitar pukul 18.00-19.00 Wita.
Sebanyak 22 KK, termasuk balita dan sejumlah lansia asal Desa Hokeng Jaya, terpaksa mengungsi ke huntara tetangga karena hunian mereka dipenuhi air dan lumpur.
“Tadi hujan lebat sekali. Banjir masuk lagi ke kopel. 4 kopel (terdampak). Ada 20 an Kepala keluarga (KK), 2 balita dan beberapa lansia. Malam ini mereka tidur sementara di kopel-kopel tetangga,” kata Kepala Desa Hokeng Jaya, Gabriel Bala Namang, saat dikonfirmasi, Sabtu (31/1/2026) malam.
Gabriel mengatakan, warga Desa Hokeng Jaya telah menetap di huntara selama sekitar lima bulan sejak September tahun lalu akibat ancaman erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki.






