Banguan Sudah Tua, SDN 5 Buahan Bakal Dipindah ke Lokasi Baru

Posted on

Bangli

Siswa SDN 5 Buahan di Jalan Susut, Desa Buahan, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, Bali, bakal punya gedung sekolah baru. Sekolah itu saat ini sudah tua dan dalam kondisi tidak layak guna.

“Lokasi barunya nggak jauh. Hanya 500 meter dari lokasi lama,” kata Kepala Dinas Pendidikan Gianyar Made Mawa kepada, Kamis (12/3/2026).

Pantuan, bangunan SDN 5 Buahan di pojok pertigaan dan bentuknya memanjang dari selatan ke utara. Cukup panjang untuk menyediakan ruang kelas bagi siswa kelas 1 hingga kelas 6, saru perpustakaan, ruang guru, ruang kepala sekolah, empat toilet, satu gudang, dan lapangan upacara.

Pintu masuknya di sisi timur. Di sana ada ruang guru, ruang kepala sekolah, dan tiga ruang kelas. Kondisinya, cukup memprihatinkan. Pintu di dua kelas di sisi timur terlihat terbuka.

Bukan sengaja dibuka, tapi sudah rusak dan tidak dapat di kunci. Begitu pula dua kelas yang akses masuknya di sisi barat. Plafon atau langit-langitnya terlihat masih berupa gedek atau anyaman rotan.

Cat tembok warna krim di seluruh area bangunan itu sudah banyak yang terkelupas. Empat toilet tak berpintu dan satu gudang di ujung sisi utara tampak kumuh.

“(Kondisi bangunan) sudah pernah kami survei. Sudah akan kami anggarkan untuk renovasi. Tapi nggak jadi karena warga dan perbekelnya minta dipindahkan saja,” kata Mawa

Mawa mengatakan dua alasan warga minta sekolah itu dipindahkan karena lokasinya berbahaya. Selain itu, kondisi bangunan juga tidak memungkinkan jika hanya renovasi saja.

Karenanya, pembangunan sekolah baru, perlu dilakukan di lokasi baru. Mawa mengatakan pembangunan fisik akan dimulai pada Mei hingga Juni.

“Saat ini sedang perencanaan. Masih digodok di unit layanan pengadaan (ULP) Pemerintah Kabupaten Gianyar. Anggarannya Rp 5 miliar,” katanya.

Nyoman Sumur, warga setempat, mengatakan sekolah itu pernah direnovasi pada tahun 2000. Namun, hanya sebagian kecil saja.

Bagian plafon pernah diganti yang baru. Tapi, tetap bahan gedek. Perbaikan juga dilakukan pada tiang bangunan sisi barat dan lantai di beberapa ruang kelas saja.

“Dulu kalau nggak salah tahun 2000, pernah diperbaiki sedikit-sedikit,” kata Sumur.

Sumur mengaku angkatan pertama siswa di sekolah itu. Sejak 1982 sekolah itu dibangun, kondisinya tidak banyak berubah hingga sekarang.

Dia merasa prihatin dengan kondisi bangunan almamaternya yang kini masih dirasakan para siswa generasi penerusnya. “Kasihan anak-anak di sekolah ini. Kalau saya punya anak yang sekolah di sini, bisa was-was saya,” katanya.