Bandara Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), akhirnya menampilkan sosok Sultan Bima XIV Muhammad Salahuddin melalui tayangan videotron. Penayangan itu dilakukan setelah cucu Sultan Bima XIV, Dewi Ratna Muchlisa atau Dae Dewi, protes lantaran foto kakeknya tak pernah dipajang di bandara itu.
Meski sosok sang kakek sudah ditayangkan oleh pengelola bandara, Dae Dewi kini mengungkit lahan berdirinya Bandara Bima. Ia menyebut Bandara Bima berdiri di atas tanah wakaf kakeknya yang belum lama ini dinobatkan sebagai pahlawan nasional itu.
“Sudah kami pasang dan tampilkan (sosok Sultan Bima XIV) melalui videotron,” kata Kepala Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Sultan Muhammad Salahuddin Bima, Suroso, kepada infoBali, Rabu (7/1/2026).
Suroso menjelaskan layar videotron tersebut berada di terminal kedatangan dan keberangkatan Bandara Bima sejak Senin (5/1/2026). Tayangan dalam videotron itu menampilkan nama lengkap Sultan Muhammad Salahuddin dan narasi Kesultanan Bima.
“Kalau untuk foto Sultan sendiri belum (dipasang). Kami masih menunggu surat yang menyusul dari pihak Kesultanan Bima,” ujar Suroso.
Suroso mengaku sudah mengundang dan bertemu dengan keluarga Kesultanan Bima yang diwakili oleh Dae Dewi. Ia berharap tidak ada lagi polemik antara keluarga Kesultanan Bima dengan pengelola Bandara Bima.
“Sudah bertemu Senin kemarin. Sudah tidak ada lagi persoalan,” imbuhnya.
Di sisi lain, Dae Dewi kembali menyinggung Bandara Bima dan kemurahan hati kakeknya di masa lalu. Melalui akun Facebook pribadinya @Dewi Ratna Muchlisa, Dae Dewi menyebut lahan Bandara Bima adalah tanah wakaf kakeknya, Sultan Bima XIV.
“Perlu diketahui lahan pembangunan Bandara Bima adalah tanah wakaf Sultan,” ungkap Dae Dewi seperti dikutip infoBali dari unggahan Facebook tersebut.
Dae Dewi menyebut berkat tanah wakaf pribadi kakeknya itulah Bandara Bima bisa berdiri. Hingga kini, bandara tersebut juga melayani penerbangan internasional rute Bima-Darwin Australia.
“Tanah di Bima diwakafkan dijadikan bandara itu hanya sebagian kecil. Saya ingin mengisahkan, bukan berarti ingin mengambil alih,” tutur perempuan yang juga Kepala Museum Samparaja itu.
Sebelumnya, Dae Dewi menyatakan kecewa kepada manajemen Bandara Bima lantaran tak memajang foto Sultan Muhammad Salahuddin. Dae Dewi berharap pengelola bandara memasang foto Sultan Muhammad Salahuddin. Terlebih, nama kakeknya itu juga telah dipakai menjadi nama bandara Bima.
Suroso mengaku sudah mengundang dan bertemu dengan keluarga Kesultanan Bima yang diwakili oleh Dae Dewi. Ia berharap tidak ada lagi polemik antara keluarga Kesultanan Bima dengan pengelola Bandara Bima.
“Sudah bertemu Senin kemarin. Sudah tidak ada lagi persoalan,” imbuhnya.
Di sisi lain, Dae Dewi kembali menyinggung Bandara Bima dan kemurahan hati kakeknya di masa lalu. Melalui akun Facebook pribadinya @Dewi Ratna Muchlisa, Dae Dewi menyebut lahan Bandara Bima adalah tanah wakaf kakeknya, Sultan Bima XIV.
“Perlu diketahui lahan pembangunan Bandara Bima adalah tanah wakaf Sultan,” ungkap Dae Dewi seperti dikutip infoBali dari unggahan Facebook tersebut.
Dae Dewi menyebut berkat tanah wakaf pribadi kakeknya itulah Bandara Bima bisa berdiri. Hingga kini, bandara tersebut juga melayani penerbangan internasional rute Bima-Darwin Australia.
“Tanah di Bima diwakafkan dijadikan bandara itu hanya sebagian kecil. Saya ingin mengisahkan, bukan berarti ingin mengambil alih,” tutur perempuan yang juga Kepala Museum Samparaja itu.
Sebelumnya, Dae Dewi menyatakan kecewa kepada manajemen Bandara Bima lantaran tak memajang foto Sultan Muhammad Salahuddin. Dae Dewi berharap pengelola bandara memasang foto Sultan Muhammad Salahuddin. Terlebih, nama kakeknya itu juga telah dipakai menjadi nama bandara Bima.






