Denpasar –
PT Pertamina Bina Medika Indonesia Healthcare Corporation (IHC) berkolaborasi dengan Bank Mandiri dan InJourney Aviation Services (IAS) meluncurkan layanan medical tourism terpadu untuk memperluas akses pelayanan kesehatan berstandar internasional.
Layanan ini hadir di Bali International Hospital (BIH), Sanur, Denpasar, dengan sistem reservasi digital, pendampingan perjalanan, hingga layanan pemeriksaan kesehatan kelas premium yang terintegrasi.
“Kolaborasi ini kami ingin memberikan benefit kepada pasien yang ingin berobat di BIH tanpa harus ke luar negeri. Melalui fasilitas account di Bank Mandiri living Suka, ini memudahkan touch point bagi pasien mulai dari registrasi yang terhubung ke sistem, efisien support system dan di BIH (Hospital Information System),” terang Direktur Komersial IHC, Harmeni Wijaya.
Ia menjelaskan, integrasi sistem dari ketiga institusi ini dirancang untuk menghadirkan layanan yang sederhana, cepat, dan tepat waktu, terutama bagi pasien yang datang ke Bali untuk melakukan medical check-up maupun perawatan lainnya.
BIH yang berada di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), menjadi flagship hospital dalam pelayanan seperti di luar negeri namun berada di Indonesia. Selain itu, dokter-dokter yang biasanya melayani pasien di luar negeri dihadirkan atau membuka prakteknya di BIH sehingga masyarakat Indonesia tidak harus jauh-jauh berobat maupun memeriksa kesehatannya di negeri.
“Kami usung pilot project untuk bundling karena selain flexi hospital dengan klinik compatibility yang saat ini terbesar di IHC, banyak juga enabling-enabling untuk menggaet apa yang pemerintah Indonesia sasar,” sambung Direkrut Komersial IAS Muchdian Muchlis.
BIH akan difokuskan pada layanan unggulan seperti penanganan kanker, jantung, dan bedah ortopedi. Jika model ini berjalan baik, konsep serupa akan direplikasi ke 37 rumah sakit lain yang berada di bawah naungan IHC.
Selain itu, lokasi BIH yang dekat dengan bandara dinilai menjadi keunggulan tersendiri untuk menunjang akses dan percepatan layanan pasien. Seluruh proses pelayanan, termasuk kedatangan di bandara, telah dirancang terintegrasi demi menghadirkan pengalaman berstandar internasional.
Meski masih dalam tahap awal, kolaborasi ini diharapkan mampu saling melengkapi dalam menghadirkan layanan kesehatan kelas dunia di dalam negeri. Untuk target di 2026, Harmeni Wijaya berharap, pelayanan kesehatan yang ditawarkan Bali International Hospital bisa memiliki nilai yang baik atau seimbang.
“Kami perlu inisiatif agar bisa mendorong pasien yang biasanya keluar negeri, kini bisa berobat di dalam negeri. Jika perbandingannya 60:40 persen, tapi seiring dengan pelayanan yang kami berikan, kami optimis pasien lokal dan internasional itu bisa 50:50,” pungkasnya.






