Mataram –
Kompol I Made Yogi Purusa Utama menjadi saksi mahkota untuk terdakwa Ipda I Gde Aris Chandra Widianto dalam sidang pembunuhan Brigadir Muhammad Nurhadi. Kompol Yogi juga berstatus terdakwa dalam kasus tewasnya anak buahnya itu di Gili Trawangan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu (16/4/2025) malam.
Yogi saat menjadi saksi menceritakan awal mula pergi ke Gili Trawangan bersama Ipda Aris, Nurhadi, dan dua perempuan masing-masing bernama Misri Puspita Sari dan Meylani Putri. Terungkap juga asal usul riklona dan ekstasi yang dikonsumsi saat berada di vila privat The Beach House and Resort.
Yogi Memesan Misri
Dua hari sebelum berangkat ke Gili Trawangan, tepatnya pada Senin (14/4/2025), Yogi berada di salah satu hotel Mataram. Yogi di sana bersama Aris dan Nurhadi. Mereka makan siang bersama bos terdakwa Aris dari Jakarta inisial T dan rombongannya.
“Senin itu, saya menghubungi saksi Misri untuk komunikasi awal, sebelumnya melalui DM (di Instagram), berlanjut ke telepon,” kata Yogi, Senin (23/2/2026).
Yogi sebelumnya pernah bertemu Misri sekilas di Jakarta bersama temannya. Hal itu juga diutarakan Yogi saat berbincang dengan Misri di telepon. Yogi dalam telepon itu menanyakan ke Misri terkait pernah mengonsumsi narkoba atau tidak. Misri lantas menjawab pernah memakai ekstasi.
“Tetapi, baru-baru ini suka pakai (minum) riklona,” sebut Yogi menirukan suara Misri. “Saya juga ada sedikit tremor bang, jadi harus membeli riklona tersebut,” imbuh Yogi.
Yogi meminta Misri untuk datang ke Lombok. Kebetulan, Misri saat itu sedang berada di Bali. Yogi juga memberitahukan Misri akan pergi ke Gili Trawangan. Mereka di sana hanya semalam, hari Rabu datang, Kamis langsung pulang. “Misri menjawab nggak apa-apa. Saya juga belum ke gili,” ucap Yogi.
Misri sempat menanyakan acara yang akan dilakukan Yogi ke Gili Trawangan. Yogi saat itu menjawab akan liburan sekaligus mendampingi tamu untuk mengecek vila. Tamu itu ialah bosnya terdakwa Aris.
Misri yang juga menjadi tersangka dalam kasus ini kembali bertanya apakah ada ekstasi saat di Gili Trawangan. Yogi menimpali berapa yang dibutuhkan dan akan disiapkan. “(Yogi bertanya ke Misri) Kamu butuh berapa? (Misri menjawab) saya kalau ekstasi ada tiga atau empat bang,” kata Yogi menirukan perkataan Misri.
Seusai berbincang dengan Misri melalui telepon, Yogi sempat berbicara dengan Nurhadi rencana yang akan dilakukan di Gili Trawangan pada Rabu (16/4/2025). Saat itu, Yogi berujar, Nurhadi sempat nyeletuk terkait pembahasan Yogi dengan Misri persoalan ekstasi.
Nurhadi pun bertanya dengan atasannya butuh berapa ekstasi dan akan mencarikan ekstasi. “(Yogi menjawab) sekitar tiga atau empatlah. Saya coba cari ndan, ya,” kata Yogi menirukan perkataan Nurhadi.
Pembahasan ke Gili Trawangan
Yogi kemudian kembali membahas rencana pergi ke Gili Trawangan itu dengan terdakwa Aris pada Selasa (15/4/2025), termasuk membahas hotel tempat menginap. Yogi kala itu juga mengatakan akan membawa Misri ke Gili Trawangan.
Yogi dalam pembahasan itu juga sempat menanyakan kepada Aris akan membawa perempuan atau tidak ke Gili Trawangan. “Aris menjawab, terserah ndan,” sebutnya.
Yogi pun menawarkan diri untuk mencarikan Aris perempuan jika berminat. Aris tidak menolak. Yogi kemudian menghubungi salah satu perempuan yang dikenal untuk meminta wanita yang bisa diajak pergi ke Gili Trawangan.
“Tidak lama, saya menunjukkan foto salah satu freelance (perempuan), yaitu Putri. Saat itu disepakati oleh terdakwa, ‘siap ndan, tidak ada masalah’,” ujar Yogi.
Yogi saat itu juga kembali menghubungi Misri untuk kesiapan keberangkatan esok harinya. Yogi menyatakan akan dijemput oleh salah satu sopir travel di Bali. Yogi juga membelikan tiket penyebrangan menuju Lombok ke Misri. Yogi saat itu juga mentransfer uang Rp 2 juta kepada Misri. Uang itu ditransfer lantaran Misri mengaku telah mendapatkan tiga setrip riklona.
Berangkat ke Gili Trawangan
Keesokan harinya, Rabu (16/4/2025) siang, mereka bersiap berangkat ke Gili Trawangan. Nurhadi datang menjemput Yogi ke rumahnya. Mereka menuju ke Polda NTB.
“Dalam perjalanan (dari rumah Yogi menuju Polda NTB) saya sempat diberikan oleh saudara Nurhadi enam butir ekstasi warna hijau, bergambar granat. (Dibungkus) satu klip,” ucap Yogi. Yogi memberikan Nurhadi uang sebesar Rp 4 juta untuk membeli ekstasi.
Nurhadi, Yogi, dan Aris berangkat menggunakan mobil menuju Pelabuhan Senggigi untuk menjemput Misri sekitar pukul 13.00 Wita. Setelah menjemput Misri, mereka bertolak ke sebuah minimarket untuk menjemput Putri. “Saat itu Putri sudah menunggu,” kata Yogi.
Mereka berangkat ke Teluk Kodek, tempat jemputan khusus tamu The Beach House and Resort. Misri dalam perjalanan sempat menawarkan riklona yang dibawanya dari Bali. Misri juga mengaku sudah minum dua butir riklona saat di atas kapal perjalanan dari Pelabuhan Padangbai menuju ke Senggigi.
Misri menawarkan riklona kepada Yogi, Nurhadi, Aris, dan Putri di dalam mobil. Namun, hanya Putri yang minum. “Saya lihat, Misri memberikan ke putri dua biji. Satu yang diminum, satu yang disimpan,” kata Yogi.
Tiba di Gili Trawangan
Yogi, Misri, Aris, Putri, dan Nurhadi lantas tiba di Gili Trawangan dan menuju ke The Beach House dan Resort. Mereka kemudian disambut General Manager (GM) The Beach House and Resort.
Namun, hanya Yogi yang mendapatkan kamar di sana karena sudah penuh. Walhasil, Aris dan Nurhadi menginap di sebelahnya, Hotel Natya. Yogi sekamar dengan Misri, sedangkan Aris dengan Putri, sementara Nurhadi sendiri.
Yogi dan Misri masuk ke dalam kamar vila privat itu. Yogi di sana meminta riklona yang dibawa Misri. Yogi mengambil dua biji, tetapi hanya satu yang diminum.
Yogi melihat riklona yang dibawa Misri sebanyak tiga setrip. Rinciannya, dua setrip berisi full, sedangkan satu setrip sudah sisa enam biji. “Dari dua (yang diambil), saya minum satu. Karena saya berpikir dalam hati, tidak tahu efeknya. Satu lagi saya masukkan ke dalam klip ekstasi yang enam butir itu,” tutur Yogi.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
Tidak lama kemudian, Nurhadi datang ke vila tempat Yogi dan Misri menginap. Pengakuan Yogi, Nurhadi di sana memberikannya dua buah kondom dan ekstasi sebanyak tiga burit warna biru tanpa merek. Setelah itu, Nurhadi keluar.
Misri kemudian memintanya untuk menghubungi Aris, Putri, dan Nurhadi untuk datang ke vila mereka. Yogi lantas menghubungi mereka. Tidak berselang lama, Aris, Putri, dan Nurhadi tiba di vila.
Tiba di vila tempat Yogi dan Misri menginap, Nurhadi menanyakan terkait ekstasi kepada Yogi. Yogi mengaku sempat kaget mendengar apa yang diucapkan Nurhadi. “Saya jawab, serius kamu? Berapa bisa kamu? (Nurhadi menjawab) Setengah saja dahulu, Ndan,” tiru Yogi.
Yogi kemudian memberikan setengah ekstasi kepada Nurhadi dan langsung diminumnya. Setengah sisanya diminum sendiri oleh Yogi. Setelah itu, Misri juga meminta satu butir dan diberikan oleh Yogi.
Selain itu, Aris dan Putri juga diberikan satu butir dan dibagi untuk berdua. “Untuk Putri dan Aris, saya titipkan ke Misri untuk menyerahkan ke Putri. Saya lihat Putri menyerahkan ke Aris dan aris memotong membagi dua, tetapi saya tidak melihat beliau (Aris) minum atau Putri minum,” terang Yogi.
Selesai mengonsumsi ekstasi, Putri dan Misri masuk ke dalam toilet kamar untuk ganti pakaian menggunakan baju renang. Saat balik, Misri kembali membawa riklona.
“Keluar ganti pakaian, Misri sempat membawa yang saya lihat satu setrip sisa riklona menawarkan kepada almarhum. Saya tidak tahu almarhum minum atau tidak. Kedua, menawarkan ke saya dengan memasukkan dua biji ke mulut saya. Saya bilang, kan sudah tadi dua. Misri jawab, tambah lagi,” ujar Yogi.
Seusai itu, mereka lantas mendengarkan musik. Nurhadi kala itu sempat bertanya kepada Yogi ada acara minum-minum atau tidak. Yogi kala itu mengatakan dirinya suka minum merek Singleton, tetapi tidak masalah jika tak ada.
Nurhadi lantas keluar membeli minuman. Tak lama kemudian, Nurhadi balik lagi, tetapi minuman belum datang. Setelah itu, mereka berlanjut mendengarkan musik. Nurhadi dan Aris kemudian membuka baju.
Kematian Nurhadi
Menurut Yogi, ia terakhir kali melihat ponsel sekitar pukul 17.05 Wita. Saat itu, dirinya sudah tidak fokus terhadap ponsel karena konsentrasinya menurun dan kondisinya lemas. Yogi kemudian menaruh ponselnya di kantong celana kanan. Yogi juga sempat merangkul Misri dan tertidur.
Yogi mengaku tidak sadar kala itu. Ia mulai sadar sekitar pukul 21.00 Wita saat dibangunkan oleh Misri. Saat dibangunkan, Yogi sudah berada di tempat tidur. Yogi juga mengaku tidak pernah merasakan minuman beralkohol yang dipesan Nurhadi.
Saat bangun, hanya Misri yang dilihat oleh Yogi. Menurut Yogi, Aris, Putri, dan Nurhadi tidak terlihat. Namun, Misri tiba-tiba memberitahunya bahwa Nurhadi berada di dasar kolam.
“Saya langsung nyemplung ke kolam. Posisi almarhum pada saat itu posisi kepala ke selatan. Saya turun, saya angkat. Saya taruh di pinggir kolam,” terang Yogi sambil menangis.





