Aksi demonstrasi yang berlangsung di Polda dan DPRD Nusa Tenggara Barat (NTB) berujung ricuh. Kerusuhan tersebut mengakibatkan belasan massa aksi mengalami luka-luka, sementara sekitar 30 orang lainnya pingsan terkena gas air mata.
“Kalau yang luka itu kurang lebih sekitar 10 sampai 15 orang,” ujar Koordinator Umum (Kordum) Aksi, Lalu Nazir Huda, kepada infoBali, Sabtu (30/8/2025).
Luka-luka yang dialami massa aksi disebabkan oleh berbagai faktor. Beberapa di antaranya terluka akibat lemparan benda dari kelompok massa yang tidak kondusif, serta pukulan dari aparat kepolisian.
“Tadi ada yang luka kena besi waktu dobrak gerbang, ada juga yang kena batu akibat lemparan massa yang nggak kondusif. Kalau kena pukul aparat, nggak terlalu parah, karena kepolisian terus menahan,” jelas Nazir.
Selain luka, massa aksi juga menghadapi masalah lain berupa pingsan. Jumlah massa yang pingsan bahkan dua kali lipat lebih banyak dibandingkan yang terluka. “Kalau yang pingsan itu sampai sekitar 30 orang,” tambahnya.
Penyebab utama pingsannya para demonstran, menurut Nazir, adalah gas air mata yang ditembakkan aparat untuk membubarkan kerumunan. “Kebanyakan pingsan karena gas air mata tadi,” kata Nazir.
Aksi yang berlangsung di Gedung DPRD NTB di Jalan Udayana, Kota Mataram, juga menyebabkan kerusakan. Gedung dewan tersebut ludes dibakar massa.