Diplomasi Denmark Kandas di Gedung Putih, AS Ngotot Mau Kuasai Greenland

Posted on

Upaya diplomasi Denmark kandas di Gedung Putih. Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen mengakui gagal melunakkan sikap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang tetap ngotot ingin menguasai Greenland, meski menuai penolakan keras dari sekutu NATO.

Dilansir dari infoNews , Kamis (15/1/2025), Menteri Luar Negeri Denmark bersama perwakilan Greenland, wilayah otonom di bawah Kerajaan Denmark, bertemu dengan Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Pertemuan itu digelar untuk mengklarifikasi apa yang mereka sebut sebagai kesalahpahaman menyusul pernyataan agresif Trump terhadap sekutu NATO tersebut.

“Kami tidak berhasil mengubah posisi Amerika. Jelas bahwa presiden memiliki keinginan untuk menaklukkan Greenland,” kata Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen kepada wartawan seusai pertemuan
.
“Dan kami telah menjelaskan dengan sangat, sangat jelas bahwa ini bukan untuk kepentingan kerajaan,” tambahnya.

Lokke menyebut pengambilalihan Greenland oleh AS, tempat Washington telah lama memiliki pangkalan militer, sama sekali tidak perlu. Ia mengatakan isu itu sangat emosional bagi rakyat Greenland dan Denmark, sekutu lama AS yang pasukannya pernah bertempur bersama Amerika di Afghanistan dan secara kontroversial, di Irak.

“Gagasan yang tidak menghormati integritas teritorial Kerajaan Denmark dan hak penentuan nasib sendiri rakyat Greenland, tentu saja, sama sekali tidak dapat diterima,” ujar Lokke.

“Oleh karena itu, kita masih memiliki perbedaan pendapat mendasar, tetapi kita juga sepakat untuk tidak sepakat,” lanjutnya.

Lokke menambahkan kedua pihak sepakat membentuk sebuah komite yang akan bertemu dalam beberapa minggu ke depan untuk melihat apakah masih ada peluang kemajuan.

Beberapa jam sebelum pertemuan, Trump kembali menegaskan bahwa NATO harus mendukung upaya AS mengambil kendali Greenland, meski sekutu utama Eropa telah berbaris mendukung Denmark.

Trump menyebut Greenland “sangat penting” bagi sistem pertahanan udara dan rudal Golden Dome yang tengah direncanakannya. “Apa pun yang kurang dari itu tidak dapat diterima,” tulisnya di jejaring sosial Truth Social miliknya.

Saat pembicaraan berlangsung, Gedung Putih juga memposting di X: “Ke mana arahmu, orang Greenland?”

Unggahan tersebut disertai gambar dua kereta luncur anjing. Satu mengarah ke Gedung Putih dengan bendera AS besar, sementara yang lain menuju bendera Tiongkok dan Rusia di atas Kremlin dan Tembok Besar Tiongkok yang disinari kilat.

Baik Denmark maupun Greenland menegaskan tidak ada pihak yang “mengklaim” Greenland. Lokke mengatakan tidak ada kapal Tiongkok yang terlihat di kawasan itu selama satu dekade terakhir. Menjelang pertemuan, Denmark juga berjanji akan meningkatkan kehadiran militernya di pulau luas, jarang penduduk, dan memiliki posisi strategis tersebut.

Trump sebelumnya mengejek langkah Denmark memperkuat keamanan Greenland dengan menyebutnya hanya “dua kereta luncur anjing.” Denmark menyatakan telah menginvestasikan hampir US$ 14 miliar untuk keamanan kawasan Arktik.

Dampak ke Hubungan Transatlantik

Perselisihan soal Greenland disebut telah mengguncang hubungan transatlantik secara mendalam. Denmark dan Greenland sama-sama menegaskan bahwa hanya warga Greenland yang berhak menentukan masa depan pulau otonom tersebut.

Di jalan-jalan tenang ibu kota Nuuk, bendera Greenland berwarna merah-putih tampak berkibar di jendela toko, balkon apartemen, hingga kendaraan dan bus kota, sebagai simbol persatuan nasional saat pembicaraan dimulai.

“Kita berdiri bersama di masa-masa ketika kita mungkin merasa rentan,” tulis pemerintah kota Nuuk di Facebook.

Pemimpin Greenland menyatakan pulau itu lebih memilih tetap menjadi bagian dari Denmark. Pernyataan tersebut mendorong Trump untuk mengatakan bahwa “itu akan menjadi masalah besar baginya.”

Vance, yang sebelumnya mengecam Denmark sebagai sekutu yang buruk saat berkunjung ke Greenland tahun lalu, dikenal dengan sikap kerasnya, termasuk ketika ia secara terbuka mencela Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Ruang Oval pada Februari lalu. Namun, pertemuan kali ini berlangsung tertutup bagi pers, sehingga tidak ada konfrontasi terbuka di depan kamera.

(dpw/dpw)

Tekanan Trump soal Greenland

Beberapa jam sebelum pertemuan, Trump kembali menegaskan bahwa NATO harus mendukung upaya AS mengambil kendali Greenland, meski sekutu utama Eropa telah berbaris mendukung Denmark.

Trump menyebut Greenland “sangat penting” bagi sistem pertahanan udara dan rudal Golden Dome yang tengah direncanakannya. “Apa pun yang kurang dari itu tidak dapat diterima,” tulisnya di jejaring sosial Truth Social miliknya.

Saat pembicaraan berlangsung, Gedung Putih juga memposting di X: “Ke mana arahmu, orang Greenland?”

Unggahan tersebut disertai gambar dua kereta luncur anjing. Satu mengarah ke Gedung Putih dengan bendera AS besar, sementara yang lain menuju bendera Tiongkok dan Rusia di atas Kremlin dan Tembok Besar Tiongkok yang disinari kilat.

Baik Denmark maupun Greenland menegaskan tidak ada pihak yang “mengklaim” Greenland. Lokke mengatakan tidak ada kapal Tiongkok yang terlihat di kawasan itu selama satu dekade terakhir. Menjelang pertemuan, Denmark juga berjanji akan meningkatkan kehadiran militernya di pulau luas, jarang penduduk, dan memiliki posisi strategis tersebut.

Trump sebelumnya mengejek langkah Denmark memperkuat keamanan Greenland dengan menyebutnya hanya “dua kereta luncur anjing.” Denmark menyatakan telah menginvestasikan hampir US$ 14 miliar untuk keamanan kawasan Arktik.

Dampak ke Hubungan Transatlantik

Perselisihan soal Greenland disebut telah mengguncang hubungan transatlantik secara mendalam. Denmark dan Greenland sama-sama menegaskan bahwa hanya warga Greenland yang berhak menentukan masa depan pulau otonom tersebut.

Di jalan-jalan tenang ibu kota Nuuk, bendera Greenland berwarna merah-putih tampak berkibar di jendela toko, balkon apartemen, hingga kendaraan dan bus kota, sebagai simbol persatuan nasional saat pembicaraan dimulai.

“Kita berdiri bersama di masa-masa ketika kita mungkin merasa rentan,” tulis pemerintah kota Nuuk di Facebook.

Pemimpin Greenland menyatakan pulau itu lebih memilih tetap menjadi bagian dari Denmark. Pernyataan tersebut mendorong Trump untuk mengatakan bahwa “itu akan menjadi masalah besar baginya.”

Vance, yang sebelumnya mengecam Denmark sebagai sekutu yang buruk saat berkunjung ke Greenland tahun lalu, dikenal dengan sikap kerasnya, termasuk ketika ia secara terbuka mencela Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Ruang Oval pada Februari lalu. Namun, pertemuan kali ini berlangsung tertutup bagi pers, sehingga tidak ada konfrontasi terbuka di depan kamera.

Tekanan Trump soal Greenland