1 Anak NTB Terpapar Super Flu, Dinkes Pastikan Tak Ada Kasus Tambahan

Posted on

Anak perempuan berusia 12 tahun asal Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terpapar super flu atau influenza A (H3N2) subclade K. Penemuan kasus super flu pertama itu berdasarkan hasil pemeriksaan spesimen di Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) di Surabaya.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) NTB Lalu Hamzi Fikri mengatakan sebelumnya ada 8 sampel spesimen dari anak-anak bergejala super flu dikirim pada 10 November 2025 ke Labkesmas di Surabaya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan sequencing influenza yang diterima pada 5 Januari 2026, terkonfirmasi satu kasus positif influenza
A (H3N2) subclade K pada seorang anak perempuan berusia 12 tahun.

“Atas temuan ini kami sudah melakukan penyelidikan epidemiologis dan penanganan di lapangan. Kami juga sudah melakukan pemeriksaan serta pemantauan ketat terhadap kontak erat dan lingkungan sekitar kasus selama dua kali masa inkubasi virus influenza,” kata Fikri dikonfirmasi via telepon, Rabu malam (14/1/2026).

Fikri mengatakan hasil pemantauan menunjukkan tidak ditemukan kasus tambahan. Sehingga klaster kasus ini dinyatakan berhasil dikendalikan. Meski begitu, Fikri menegaskan bahwa situasi belum sepenuhnya bebas risiko tambahan kasus.

“Ada potensi penularan ulang masih dapat terjadi seiring meningkatnya mobilitas penduduk man masuknya musim penghujan yang umumnya disertai peningkatan kasus flu,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah juga berupaya memperkuat pemantauan kasus pertama Influenza Like Illness (ILI) serta pneumonia melalui sistem kewaspadaan dini dan respons (SKDR) di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan di NTB.

Pemantauan juga dilakukan, Fikri berujar, melalui surveilans sentinel ILI dan severe acute respiratory infection untuk mendeteksi secara dini potensi peningkatan kasus (SKDR).

“Data SKDR sudah dianalisis setiap minggu dan hingga saat ini tidak menunjukkan lonjakan signifikan kasus ILI, ISPA, maupun pneumonia,” klaim Fikri.

Untuk itu, Dinas Kesehatan NTB meminta masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat dalam mencegah peningkatan kasus super flu. Masyarakat juga diimbau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) untuk mencegah penularan.

“Kami imbau masyarakat bisa mengisolasi diri saat sakit, menggunakan masker, segera berobat apabila gejala memburuk, serta mematuhi anjuran petugas kesehatan,” tandasnya.

Diketahui, influenza A merupakan flu musiman (seasonal influenza) yang disebabkan oleh virus influenza tipe A subtipe H3N2. Secara umum, gejala influenza A menyerupai flu musiman. Antara lain demam, batuk, nyeri tenggorokan, sakit kepala, hidung berair, nyeri otot (myalgia), serta rasa tidak enak badan (malaise).

Dibandingkan jenis influenza lainnya, tingkat keparahan influenza A lebih tinggi dibandingkan A (H1N1) Pdm09 dan influenza B.