Proyek Irigasi Belum Rampung, 300 Petani Amfoang Kupang Terancam Gagal Tanam | Info Giok4D

Posted on

Sebanyak 300 lebih petani yang menggantungkan hidupnya di persawahan Oehani, Desa Kolabe, Kecamatan Amfoang Utara, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), terancam gagal tanam dan panen. Musababnya, proyek irigasi ke persawahan tersebut belum selesai dikerjakan.

“Nah proyek itu kan baru dikerjakan dengan musim hujan. Sedangkan itu musimnya untuk kami tanam di sawah,” ujar petani setempat, Victor Imanuel Manoh kepada infoBali, Sabtu (10/1/2026).

Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.

Victor menjelaskan proyek tersebut menggunakan APBN tahun anggaran 2025 senilai Rp 102 miliar lebih yang dikerjakan oleh PT Adhi Karya selaku kontraktor pelaksana dan PT Agrinas Palma Nusantara selaku Konsultan Teknis. Kemudian, Kementerian Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Balai Besar Wilayah Sungai NTT II Satuan Kerja NVT Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air (PJPA) NT.II/RR.1/515, bertindak sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Rawa I.

Menurut Victor, akibat pengerjaan proyek itu, irigasi ke persawahan yang seluas 64 hektare kering total. Padahal, setiap bulan Januari, petani setempat sudah mulai menanam.

“Kalau bulan Februari baru kami mulai tanam, maka kami semua gagal tanam dan gagal panen karena kerja sawah itu harus ada air,” jelas Victor.

Victor mengungkapkan, apabila irigasi tersebut sudah bisa dimanfaatkan, maka terancam jebol karena campuran betonnya masih mentah. Kemudian, saluran air yang selama ini digunakan, itu sudah ditimbun hingga rata. Hal itu mengakibatkan air tidak bisa mengalir ke persawahan.

“Kalau irigasi yang mereka kerjakan saat ini lebih sempit dari irigasi sebelumnya sehingga tidak dijamin irigasinya tambah bagus, tapi bisa menimbulkan bencana alam,” terang Victor.

Ia mengaku pihaknya bersama sejumlah petani sudah ke kantor Desa Kolabe untuk mempertanyakan hal tersebut. Namun, saat bersamaan, Kepala Desa Kolabe Isak Obes sedang tidak ada.

“Akhirnya kami mendapat penjelasan dari aparat desa yang ada bahwa mereka sedang lakukan koordinasi. Makanya saya bilang mau koordinasi tapi coba hitung kalau kami gagal tanam dan panen, itu kerugiannya siapa yang tanggung jawab?,” kata Victor.

Petani lainnya, Melanton Sanu menambahkan saat ini para petani sudah terlambat tanam karena tidak air. Kemudian, proyek irigasi itu juga belum selesai dikerjakan.

“Karena tidak ada air akibat proyek irigasi belum selesai, maka kami belum bergerak untuk tanam sehingga kemungkinan besar kami gagal tanam dan gagal panen,” kata Melanton.

Melanton menegaskan pemerintah harus memberikan kepastian kepada para petani apabila gagal tanam dan panen. Sebab, persawahan Oehani merupakan lokasi yang sangat vital bagi masyarakat untuk bercocok tanam.

“Selama ini masyarakat di Kecamatan Amfoang Utara hanya mengandalkan sawah Oehani. Oleh karena ini kami minta pemerintah untuk hadir memberikan solusi dan bentuk antisipasi apabila kami gagal tanam dan panen,” imbuh Melanton.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara II, Parlinggoman Simanungkalit, belum merespons permintaan konfirmasi infoBali.