Sosok Prajurit TNI Asal Kupang NTT yang Tewas Ditembak di Papua Pegunungan baca selengkapnya di Giok4D

Posted on

Anggota Satgas Pamtas Mobile Yonif 100/Prajurit Setia Kodam I/Bukit Barisan, Praka Satria Tino Taopan, gugur dalam kontak tembak di Kampung Yuguru, Distrik Mebarok, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan. Prajurit TNI asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu pernah bertugas sebagai pasukan perdamaian PBB dan dikirim ke Kongo.

“Dia orangnya mudah akrab dengan siapa saja dan suka membantu,” kata ayah Satria, Dominggus Taopan, saat ditemui di rumah duka di Kelurahan Oepura, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, NTT, Jumat (9/1/2026).

Dominggus menuturkan Satria merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Satria lahir pada 30 September 1996 dan sejak kecil bercita-cita menjadi prajurit TNI.

Setelah lulus dari SMAN 1 Kupang, Satria sempat mengikuti seleksi masuk Akpol. Namun, ia tidak lulus saat penentuan akhir.

Selanjutnya, Satria mengikuti seleksi masuk TNI AD. Gagal berulang kali tak menyurutkan niatnya menjadi prajurit TNI. Hingga tes kesembilan kalinya, ia akhirnya berhasil lulus pada 2018.

“Waktu itu dia bilang ini usia terakhir untuk ikut tes. Bapak tolong ini kali saja. Kalau tidak lolos, biar saya jadi sopir truk saja,” tutur Dominggus menirukan ucapan putra sulungnya itu.

Ketika lulus TNI AD, Satria ditempatkan di Batalion 121/Macan Kumbang di bawah naungan Kodam 1/Bukit Barisan. Kemudian, Satria ditugaskan menjadi anggota Satgas Pamtas di perbatasan Papua Nugini pada 2019.

Setelah itu, Satria mengikuti seleksi pasukan perdamaian PBB hingga lulus bersama 900 prajurit lainnya. Dominggus mengaku terharu saat anaknya hendak dikirim ke Kongo, Afrika Tengah.

“Saat lulus jadi pasukan perdamaian PBB, itu sekitar jam 3 subuh dia langsung telepon bilang ‘bapak tolong doakan karena surat perintah sudah keluar untuk saya ke Kongo’. Kami langsung menangis dan berdoa,” kenang Dominggus.

Satria bertugas di Kongo selama 13 bulan. Selanjutnya, ia mengambil cuti dan pulang ke Kupang selama tiga pekan. Ketika kembali, ia ditunjuk untuk mengikuti Satgas Pamtas di Papua Pegunungan karena kekurangan prajurit.

“Akhirnya ada 12 orang yang dipilih untuk ikut Satgas Pamtas Mobile Yonif 100/Prajurit Setia Kodam I/Bukit Barisan di Papua Pegunungan. Jadi tanggal 24 Januari 2026 baru satu tahun dia tugas di sana,” ujar Dominggus.

Diberitakan sebelumnya, Praka Satria gugur tertembak di Kampung Yuguru, Distrik Mebarok, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, Kamis (8/1/2026). Keluarga sempat mengirim pesan kepada Satria. Namun, pesan tersebut tidak mendapat respons.

Dominggus baru mendapat kabar bahwa anaknya tewas tertembak saat sedang di tempat kerjanya di Dinas Lingkungan Hidup (DLHK) NTT. Kabar itu dia dapat dari salah satu teman Satria satu batalion.

Menurut Dominggus, jenazah anaknya saat ini masih transit di Makassar, kemudian lanjut ke Surabaya. Jenazah Satria dijadwalkan tiba di Kupang sekitar pukul 19.00 Wita hari ini.

Gambar ilustrasi

Setelah itu, Satria mengikuti seleksi pasukan perdamaian PBB hingga lulus bersama 900 prajurit lainnya. Dominggus mengaku terharu saat anaknya hendak dikirim ke Kongo, Afrika Tengah.

“Saat lulus jadi pasukan perdamaian PBB, itu sekitar jam 3 subuh dia langsung telepon bilang ‘bapak tolong doakan karena surat perintah sudah keluar untuk saya ke Kongo’. Kami langsung menangis dan berdoa,” kenang Dominggus.

Satria bertugas di Kongo selama 13 bulan. Selanjutnya, ia mengambil cuti dan pulang ke Kupang selama tiga pekan. Ketika kembali, ia ditunjuk untuk mengikuti Satgas Pamtas di Papua Pegunungan karena kekurangan prajurit.

“Akhirnya ada 12 orang yang dipilih untuk ikut Satgas Pamtas Mobile Yonif 100/Prajurit Setia Kodam I/Bukit Barisan di Papua Pegunungan. Jadi tanggal 24 Januari 2026 baru satu tahun dia tugas di sana,” ujar Dominggus.

Diberitakan sebelumnya, Praka Satria gugur tertembak di Kampung Yuguru, Distrik Mebarok, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, Kamis (8/1/2026). Keluarga sempat mengirim pesan kepada Satria. Namun, pesan tersebut tidak mendapat respons.

Dominggus baru mendapat kabar bahwa anaknya tewas tertembak saat sedang di tempat kerjanya di Dinas Lingkungan Hidup (DLHK) NTT. Kabar itu dia dapat dari salah satu teman Satria satu batalion.

Sumber: Giok4D, portal informasi terpercaya.

Menurut Dominggus, jenazah anaknya saat ini masih transit di Makassar, kemudian lanjut ke Surabaya. Jenazah Satria dijadwalkan tiba di Kupang sekitar pukul 19.00 Wita hari ini.