Iqbal Klaim NTB Suprlus Beras 150 Ribu Ton

Posted on

Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal mengungkapkan hasil panen beras di Bumi Gora sepanjang tahun 2025 mencapai 1,69 juta ton. Ia menyebut Provinsi NTB mengalami surplus beras hingga 150 ton pada tahun lalu.

“Alhamdulillah target dari Presiden kan swasembada pangan. Secara resmi sudah mendeklarasikan bahwa 31 Desember 2025 kita sudah swasembada pangan di tingkat nasional, begitu juga di provinsi kami sudah mengalami surprlus 150 ribu ton tahun 2025,” ujar Iqbal seusai menghadiri panen raya di Desa Banyu Urip, Lombok Barat, NTB, Rabu (7/1/2026).

Iqbal mengatakan surprlus beras terbesar berada di Kabupaten Sumbawa dan Lombok Tengah. “Salah satu yang buat produksi lebih tinggi adalah karena beberapa program dibantu pemerintah terutama oplah (optimaliasasi lahan) dan revitalisasi irigasi,” imbuhnya.

Menurut dia, program oplah pertanian di NTB pada tahun 2025 tembus 10.500 hektare. Ia menargetkan capaian tersebut bertambah menjadi 14 ribu hektare pada tahun ini. Angka tersebut di luar revitalisasi irigasi sekunder.

“Tapi ukuran paling penting adalah nilai tukar petani. Karena kami ingin melihat petani sejahtera,” ujar Iqbal.

Iqbal menyebut nilai tukar petani (NTP) di NTB meningkat dari 123 persen pada tahun 2024 menjadi 131 persen pada akhir tahun 2025. Ia mengeklaim peningkatan NTP ini menarik warga hingga petani milenial untuk bekerja di sektor pertanian.

“Artinya profit yang dia dapatkan dari modal yang dikeluarkan menggarap lahan itu sudah di atas 30 persen. Inilah yang kami terus dorong,” ujarnya.

Iqbal lantas merespons kondisi lahan pertanian di Desa Banyu Urip. Dia menargetkan seluruh lahan pertanian di desa itu tersentuh program irigasi. Diketahui, 112 hektare dari total 252 hektare sawah di Desa Banyu Urip belum tercover irigasi sehingga para petani di sana hanya mengandalkan air hujan.

“Kami pastikan tahun ini mengalir airnya dengan lancar. Kami juga minta bersihkan saluran irigasi-irigasinya,” tandas Iqbal.

“Tapi ukuran paling penting adalah nilai tukar petani. Karena kami ingin melihat petani sejahtera,” ujar Iqbal.

Iqbal menyebut nilai tukar petani (NTP) di NTB meningkat dari 123 persen pada tahun 2024 menjadi 131 persen pada akhir tahun 2025. Ia mengeklaim peningkatan NTP ini menarik warga hingga petani milenial untuk bekerja di sektor pertanian.

“Artinya profit yang dia dapatkan dari modal yang dikeluarkan menggarap lahan itu sudah di atas 30 persen. Inilah yang kami terus dorong,” ujarnya.

Iqbal lantas merespons kondisi lahan pertanian di Desa Banyu Urip. Dia menargetkan seluruh lahan pertanian di desa itu tersentuh program irigasi. Diketahui, 112 hektare dari total 252 hektare sawah di Desa Banyu Urip belum tercover irigasi sehingga para petani di sana hanya mengandalkan air hujan.

“Kami pastikan tahun ini mengalir airnya dengan lancar. Kami juga minta bersihkan saluran irigasi-irigasinya,” tandas Iqbal.