Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
Banyak orang bersemangat membuat resolusi sebelum atau di awal Tahun Baru, tetapi menyerah bahkan sebelum Januari berakhir. Menurut penelitian dari University of New South Wales (UNSW) Business School, kegagalan ini bukan semata karena kurang niat, tetapi karena cara membuat resolusi sering kali terlalu ambisius dan tidak realistis.
Dilansir dari infoEdu, awal tahun sering terasa seperti kesempatan baru untuk memperbaiki diri. Ini disebut fresh start effect, yaitu efek psikologis yang membuat merasa bisa memulai ulang dan meninggalkan kebiasaan lama.
“Awal tahun memberi kesan lembaran baru, kesempatan simbolis untuk memperbaiki diri dan meninggalkan kekurangan di masa lalu,” jelas Peter Heslin, profesor dari UNSW Business School, dikutip dari laman resmi kampus tersebut.
Namun, euforia ini juga membuat banyak orang tergesa-gesa membuat target besar tanpa memikirkan cara mencapainya. Misalnya, berjanji olahraga tiap hari atau berhenti makan gula sepenuhnya, padahal belum terbiasa menjalani pola itu.
Kesulitan orang-orang untuk berkomitmen pada resolusi awal tahun rupanya sudah dilaporkan peneliti setidaknya sejak 1988. Riset pada Journal of Substance Abuse menunjukkan 77% orang berhasil menjaga resolusinya selama seminggu pertama, tetapi kebanyakan menyerah sebelum pertengahan Januari. Hanya 19% yang bertahan hingga dua tahun.
Menurut Heslin, hal tersebut terjadi karena resolusi terlalu berfokus pada hasil akhir, seperti turun 10 kilogram (kg) atau menabung sekian juta. Resolusi yang dibuat tanpa memperhatikan proses kecil yang membentuk kebiasaan sehari-hari.
“Masalahnya, banyak orang menaruh fokus pada hasil, bukan pada langkah-langkah kecil untuk mencapainya. Ketika hasilnya tidak cepat terlihat, motivasi pun langsung turun,” ujar Heslin.
Selain itu, banyak orang merasa perubahan besar harus dimulai tepat pada 1 Januari. Padahal, hal itu justru bisa menimbulkan tekanan sehingga menunda-nunda untuk benar-benar memulai. Kenyataannya, tidak ada waktu yang paling tepat untuk berubah. Kapan pun bisa jadi awal yang baru selama ingin memulai.
Heslin menyarankan agar orang mulai berpikir lebih realistis. “Sadari dan lawan jebakan berpikir bahwa kamu hanya bisa bahagia setelah mencapai tujuan tertentu atau menjadi versi diri yang kamu inginkan,” katanya.
Heslin juga menyarankan agar fokus pada perubahan kecil dan realistis daripada membuat resolusi besar. Di samping itu, beri waktu untuk benar-benar pulih dan istirahat di awal tahun. Gunakanlah Januari untuk pemulihan dan istirahat, bukan menekan diri dengan target baru.
Peneliti Janet Polivy dan Peter Herman dalam jurnal American Psychologist (2002) mengungkapkan fenomena kegagalan ini sebagai false hope syndrome, yaitu siklus ketika seseorang membuat target besar, gagal, lalu mengulang lagi dengan harapan baru setiap tahun. Siklus seperti ini biasanya bisa membuat orang kehilangan semangat dan merasa gagal terus-menerus.
Jika mau berubah, cobalah mulai dari hal kecil yang bisa disesuaikan dan dinikmati. Mulai sekarang, ubah cara pandang soal resolusi, yakni mulai dari yang kecil dan nikmati prosesnya!
Artikel ini telah tayang di infoEdu. Baca selengkapnya






