Sarapan dengan menu rebusan dan kukusan, seperti ubi kukus, singkong rebus hingga jagung rebus menjadi tren pada 2025. Selain dianggap sebagai menu makan sehat, rebusan dan kukusan juga dipilih oleh mereka yang sedang menjalani diet.
Spesialis gizi Rumah Sakit (RS) Abdi Waluyo, Nathania Sutisna, menilai tren makanan rebusan dan kukusan diprediksi masih akan tetap populer pada 2026. Menurutnya, saat ini sudah banyak orang yang mulai sadar akan akan pentingnya menerapkan pola makan sehat.
“Orang-orang di Indonesia sudah lebih well educated, sudah lebih pintarlah. Dia tahu gorengan itu tidak sehat,” kata Nathania di Jakarta Pusat Selasa (17/12/2025) dilansir dari infoHealth.
Meski dianggap lebih sehat, keseimbangan gizi pada menu rebusan dan kukusan masih perlu diperhatikan. Nathania menilai masih banyak orang yang belum tahu soal keseimbangan gizi.
“Jangan juga kita cuman makan ubi kukus, singkong rebus, itu kurang. Karena dia cuma karbohidrat. Jadi misalnya kalau makan ubi ya harus ada telurnya. Telurnya yang direbus, nah itu jauh lebih bagus,” terang Nathania.
Keseimbangan gizi ini, lanjut Natahina, sangat bagus untuk mereka yang ingin menjaga berat badan. Sebab, makanan yang digoreng kalorinya bisa naik sampai 40% dibandingkan dikukus atau direbus. “Apalagi kalau yang gorengnya nyemplung semua atau deep fried,” katanya.
Nathania menyarankan agar berpedoman pada ‘Isi Piringku’ Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk mendapatkan komposisi yang tepat jika ingin menikmati tren kukusan dan rebusan.
“Untuk rebusan biasanya karbohidrat kaya ubi, singkong, jadi itu pengganti nasi. Kemudian, sepertiga piring lain adalah sayur, lalu sepertiga lain adalah lauk pauk biasanya hewan dan nabati, tempe, tahu atau ikan, ayam misalnya,” terang Nathania.
Artikel ini telah tayang di infoHealth. Baca selengkapnya






