Jika ketika bertemu seseorang, biasanya cukup melambaikan atau berjabat tangan. Namun, Suku Sabu di Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT), mempunyai tradisi unik kala bertemu seseorang, yakni mencium hidung.
Tradisi cium hidung ini dikenal sebagai Henge’do. Masyarakat Suku Sabu meyakini tradisi Henge’do ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada sesama manusia.
Tradisi Henge’do merupakan sebuah tradisi masyarakat Suku Sabu yang dilakukan sebagai bentuk komunikasi non-verbal yang melambangkan keakraban dan keharmonisan dalam hubungan persaudaraan.
Tradisi ini mulanya dilakukan karena meniru semut merah dan kemudian dijadikan sebagai simbol persahabatan. Masyarakat Suku Sabu sendiri memaknai tradisi ini sebagai unsur yang bisa menghidupkan rasa kekeluargaan, keakraban, dan rasa keterikatan antara satu sama lain.
Masyarakat Suku Sabu rutin melakukan tradisi Henge’do dalam kehidupan sehari-hari maupun ketika acara pertemuan keluarga besar dan pesta adat. Seseorang yang tidak menjalankan tradisi cium hidung akan dianggap sombong dan tidak mengamalkan nilai-nilai persaudaraan.
Dua orang yang melakukan tradisi Henge’do akan menempelkan hidung mereka satu sama lain dengan keadaan mata yang terbuka, mulut yang tertutup, dan tangan saling memegang bahu. Pertemuan ini dilakukan sebagai bentuk rasa hormat dengan mencium hidung orang yang lebih tua.
Uniknya tradisi Henge’do dilakukan tanpa memandang jenis kelamin, suku, ras, agama, status, usia, serta strata sosial. Walhasil, tradisi Henge’do bisa dilakukan oleh semua orang, baik masyarakat lokal atau pendatang. Perlu diingat, tradisi cium hidung ini dilakukan oleh antarjenis kelamin sama maupun berbeda tanpa adanya landasan hasrat seksual. Filosofi






